CARA PEMANENAN DAN PENANGANAN CABECabe Yang bagus segar daya simpan yang sangat singkat. diperlukan penanganan pasca panen mulai dari pemanenan sampai pengangkutan harus dilakukan secara hati-hati, Jika tidak maka penanganan akan membuat cabai mudah rusak dan menyebabkan penyusutan terhadap bobot cabai. Jumlah kerusakan yang terjadi mulai dari lapangan sampai ke tingkat pengecer sebesar 18 persen, Kerusakan yang terjadi pada cabai dapat terjadi secara mekanis dan fisik. Kerusakan mekanis umumnya terjadi selama pengemasan dan pengangkutan dan kerusakan fisik dapat disebabkan oleh lingkungan tempat penyimpanan cabai terlalu lembab (90%) atau suhu tropis yang tinggi. Kerusakan fisik ini ditandai dengan membusuknya cabai segar yang disimpan. Kelembaban lingkungan tidak boleh kurang dari 80% karena bisa menyebabkan cabai kering sehingga cabai tampak keriput dan terlihat tidak segar lagi. Akibat dari kerusakan mekanis dan fisik ini tentunya sangat merugikan. Oleh karena itu, agar cabai dapat dipertahankan kualitasnya sampai ketangan pembeli, diperlukan penanganan yang baik dari mulai panen sampai pasca panen, Tujuan dilakukan penanganan pasca panen adalah untuk memperpanjang masa simpan dan mempertahankan kualitas serta memudahkan dalam pengangkutan dan pemasaran cabe itu sendiri, Agar buah cabai tetap segar pada saat dijual, sebaiknya buah cabai yang di panen masak 100% merah.Panen merupakan kegiatan awal dalam penanganan pascapanen. Pada tahap ini panen tanaman cabai dilakukan pada tingkat kematangan yang tepat dan dengan hati-hati untuk menjaga mutu produk. Cabai dapat dipanen pada umur 60?75 hari setelah tanam untuk yang ditanam di dataran rendah dan pada umur 3?4 bulan untuk yang di dataran tinggi. Cabai dipanen setelah buahnya 75% berwarna merah (Moekasan et al. 2005; Sumarni 2009). Panen dilakukan 3?4 hari sekali atau paling lambat satu minggu sekali, sampai tanaman berumur 4?7 bulan (15 kali panen) atau sesuai kondisi tanaman (Asgar et al. 2000; Sutarya et al. 1995). Buah yang dipanen terlalu muda akan cepat layu, bobot cepat berkurang, cepat rusak dan kurang tahan guncangan waktu pengangkutan.Konsumen terutama pasar swalayan, restoran dan hotel lebih mengutamakan spesifikasi produk yang mereka inginkan dan untuk ini mereka berani membayar lebih besar jika dibandingkan dengan pasar tradisional (wet market). Penampilan produk yang seragam, baik ukuran panjang, diameter, bentuk, permukaan, warna, maupun kekerasan buah, akan memberikan penilaian yang lebih baik. Untuk itu diperlukan sortasi dan grading terhadap buah cabai yang diinginkan konsumen, baik rumah tangga, kelompok konsumen swalayan, restoran, hotel, industri pangan olahan tradisional maupun skala industri. Umumnya, sortasi dan grading dilakukan oleh pedagang pengumpul.Sortasi terhadap warna menjadi hal yang sangat penting bagi konsumen. Karenanya harus ada upaya untuk menstabilkan warna cabe sebelum dikeringkan. Petani di Indonesia akan menghamparkan buah cabai yang sudah dipetik di tempat teduh dengan tujuan untuk mencegah pembusukan sebelum dijual ke pasar. Tindakan seperti ini disebut curing yaitu mengondisikan buah cabe untuk dapat menyesuaikan dengan keinginan dari pasar.Dalam penelitian "Analisis Pendapatan Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen Cabai Merah" memaparkan bahwa beberapa kelompok konsumen seperti hotel, restoran, dan pasar swalayan memberi harga yang berbeda pada cabai berdasarkan kelas mutu. Soetiarso dan Majawisastra (1992) melaporkan, konsumen mempunyai preferensi yang berbeda dalam menempatkan urutan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan harga pembelian cabai merah. Buah cabai yang telah dipanen segera disortasi untuk mencegah kerusakan. Penundaan sortasi akan mempercepat pembusukan. Cabai hasil sortasi yang berkualitas kurang baik masih dapat dipasarkan, meskipun harganya rendah. Sortasi yang dilakukan di petani berbeda yang dilakukan oleh industri (Asgar 2000). Petani umumnya mengharapkan semua hasil panen dapat dijual. Cabai yang berkualitas baik dijual ke pedagang atau pasar swalayan, sedangkan yang kualitasnya kurang baik dipasarkan ke pedagang pengecer atau pasar tradisional. Demikian pula di tingkat pedagang, cabai yang berkualitas baik dijual ke industri pengolah dan yang kurang bagus dijual ke pedagang pengecer. Industri pengolahan menghendaki cabai yang berkualitas baik agar hasil olahannya berkualitas prima.Di Indonesia, cabai umumnya lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk segar. Karena itu, para produsen dan pengelola komoditas cabai berupaya supaya cabai tetap kelihatan segar. Untuk itu diperlukan tindakan yang benar pada saat handling, pengemasan dan penyimpanan agar mutu tetap stabil dan bisa diterima konsumen dengan harga yang tinggi.Setelah pemetikan, proses fisiologi tetap berjalan, tergantung pada situasi luar, seperti temperatur dan kelembaban. Proses fisiologi tetap dipertahankan tetapi lajunya harus dikurangi. Caranya dengan menekan tingkat respirasi, yaitu mengatur temperatur dan kelembaban udara di sekelilingnya dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sistem udaranya terkendali. Selain laju respirasi, harus juga ditekan laju transpirasi yaitu proses penguapan dari buah cabai dengan cara meningkatkan kelembaban udara dan menurunkan temperatur, atau dengan menempatkan buah cabai dalam kemasan tertentu untuk mengurangi gerakan udara di sekeliling cabai.Cabai yang telah dipanen dapat disimpan di lapangan atau di ruang tertutup, yaitu bangunan berventilasi, ruang berpendingin. Penyimpanan yang baik dapat memperpanjang umur dan kesegaran cabai tanpa menimbulkan perubahan fisik atau kimia. Cara yang biasa digunakan adalah menyimpan cabai segar pada suhu dingin, sekitar 4OC, pendinginan bertujuan menekan tingkat perkembangan mikroorganisme dan perubahan biokimia. Penyimpanan pada suhu rendah merupakan cara terbaik untuk mempertahankan kesegaran cabai. Suhu optimal pendingin bergantung pada varietas cabai dan tingkat kematangannya. Pendinginan dengan menggunakan refrigerator umumnya lebih mudah dibandingkan dengan cara lainnya. Namun, cara ini sulit diterapkan di tingkat petani karena biayanya mahal. Penyimpanan dengan modifikasi atmosfer atau udara terkendali dapat memperlambat respirasi dengan mengurangi kandungan O2 serta meningkatkan kandungan CO2 dan N2. Dengan cara ini, aktivitas metabolisme bahan akan berkurang sehingga memperlambat proses kerusakan dan memperpanjang masa simpan, penyimpanan dengan udara terkontrol dan dimodifikasi dapat menghambat metabolisme sehingga menunda pematangan dan pembusukan buah. Oleh karena itu, cabai yang akan disimpan hendaknya sehat, seragam kematangannya, dan dikemas dengan baik.Setelah panen dikumpulkan, selanjutnya adalah menyortir. Penyortiran biasanya dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain berdasarkan ukuran cabai, dan tingkat kematangan cabai sesuai dengan tujuan akhir hasil produksi. Parap pedagang ada juga yang menetapkan sendiri tingkat kematanganyang berbeda. Kadang-kadang di antara pasokan yang ada dapat kita jumpai tingkat kematangan mulai dari 50 % asmpai 90%.bertujuan memperkecil kerusakan akibat pengangkutan dan memperpanjang daya simpan.Di Indonesia produsen umumnya menyortir secara manual. Sebab pemanfaatan mesin sortir belum biasa digunakan. Tentu saja ituberdampak pada harga cabe itu sendiriSetelah dilakukan penyortiran kemudian lakukan pengemasan yang perlu diperlu diperhatiakan wadah untuk pengemasan,jangan mengunakan wadah yang kedap udara yang biasa merusak sruktur,bentuk dan warna cabe itu sendiri,seperti palastik,karena tidak ada sirkulasi udara menyebabkan cabe cepat layu dan menjadi busuk,berikut ada beberapa wadah yang bias di gunakan untuk tempat pengemasan penyimpanan cabe sebelum di angkut sampai ke tangan pedagang yaitu : • Kerancang bambu ukuran alas 40 cm, tinggi 44 cm diameter tutup 50 cm• 2. Kemasan karton ukuran 35 x 40 x 50 cm yang ke enam sisinya diberi lubang sirkulasi udara (diameter 1 cm jarak antara titik lubang 10 cm).• 3. karung plastic yang di lobangi untuk sirkulasi udaraSebelum dilakukan pengemasan, buah cabai terlebih dahulu dicuci lalu dilakukan perendaman dengan larutan klorin (natrium hypo chlorid atau metabisulfit) 0,05% (0,05/100 x 1000 ml =0,5 gr/l).untuk supaya cabe tahan terhadap busuk buah.Setelah pengemasan selesai, tugas berikutnya adalah pengiriman hasi panen ke paedagang. Biasanya pengiriman sengajadilakukan pada dinihari Ketika pagi hari matahari belum terik, mencegah cabe jangan terlalu banyak terpapar sinar matahari Itulah sedikit pembahasan mengenai teknik cara penanganan panen cabe semoga dapat berguna bagi para Petani dan masyarakat yang berkecimpun di dunia pertanian dan supaya bahan pertimbangan bagi kita semua penggiat tanaman cabe.Penulis: Anwar SP,PPL Wilayah Kerja BP4K2P Kec.Tilatang Kamang,Kab Agam Sumatera Barat