Loading...

CARA PENGAMATAN PENYAKIT BAKTERI PEMBULUH KAYU CENGKEH

CARA PENGAMATAN PENYAKIT BAKTERI PEMBULUH KAYU CENGKEH
BPP Ngebel -Cengkeh adalah komoditi untuk memenuhi kebutuhan sebagai rempah-rempah, bahan baku parfum, sumber eugenol, dan bahan baku rokok kretek. Di Indonesia, cengkeh merupakan komoditi penting, hal itu terlihat dari pendapatan Negara dari cukai dan pajak rokok pada tahun 2000 mencapai 11,7 triliun rupiah serta devisa dari ekspor produk cengkeh seperti minyak cengkeh dan rokok kretek mencapai 200 miliar US dollar per tahun. Proses budidaya tanaman cengkeh terdapat berbagai hambatan salah satunya adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Salah satu penyakit penting dan sangat merusak tanaman cengkeh adalah penyakit bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC) yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas syzygii. BPKC dapat mengakibatkan kehilangan hasil mencapai 10-15% dan hingga saat ini, BPKC menjadi masalah penting bagi petani cengkeh di wilayah Indonesia. Adanya laporan serangan penyakit BPKC oleh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Ngebel di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo ini sehingga diperlukan kegiatan pengamatan intensif penyakit ini dan kegiatan pengendaliannya. Kegiatan pengamatan dan pengendalian dilakukan untuk memberikan contoh dan memandu petani cara pengamatan dan pengendalian penyakit BPKC.TujuanTujuan dari kegiatan ini adalah1. Petani dapat mengetahui cara pengamatan dan melakukan pengamatan sendiri terhadap penyakit BPKC2. Petani dapat melakukan kegiatan pengendalian penyakit BPKC dengan mandiri.3. Dalam jangka panjang petani mampu menjadi manajer dalam usaha taninya.SasaranSasaran dari kegiatan ini adalah1. Semua petani di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, khususnya petani cengkeh.2. Intensitas serangan penyakit BPKC dapat terpantau dan terkendali.METODOLOGIKegiatan Pemanduan ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 9 Oktober 2014 pada gabungan kelompok tani Kecamatan Ngebel di lahan pertanaman cengkeh Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo dengan petani cengkeh sebagai peserta. Kegiatan Pemanduan dilakukan dengan cara pemberian materi kepada para peserta kemudian peserta melakukan kegiatan yang disampaikan dengan didampingi oleh petugas di lapang. Selanjutnya pemaparan hasil yang diperoleh dari lahan.Diagram Alir: Kegiatan yang dilakukan:.1. Pengamatan Intensitas Serangan Penyakit BPKC.Pengamatan intensitas serangan penyakit menggunakan metode acak. Persentase intensitas serangan (I) dihitung dengan rumus: 2. Pengairan dan PemupukanTanaman cengkeh diairi yang cukup dan diberi pupuk NPK yang diaplikasikan di tanah. 3. Pengendalian BPKCKegiatan Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bakterisida dengan cara diinfus. 4. Diskusi dengan PetaniPeserta/petani memaparkan hasil yang diperoleh dari lahan lalu didiskusikan. Didalam proses diskusi terdapat tanya-jawab antara peserta yang ditengahi oleh petugas. Setelah Tanya-jawab selesai melakukan diskusi untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada di lahan. Petugas menganalisa hasil dari diskusi untuk memberikan keputusan dari solusi. HASIL DAN PEMBAHASAN1. Pengamatan Intensitas Serangan BPKCDari hasil pengamatan yang dilakukan, telah diperoleh data luas serangan sebesar 2 ha dari 2,7 ha luas lahan. Intensitas serangan penyakit BPKC yaitu sebesar 70%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada lahan pertanaman cengkeh terjadi kerusakan berat.2. Pengairan dan PemupukanPengairan dan pemupukan sebaiknya dilakukan sebelum penginfusan. Hal tesebut dilakukan karena menyediakan sumber makanan tanaman cengkeh yang berupa air dan hara agar ketahanan tanaman cengkeh meningkat. Pada saat infus bakterisida masuk ke jaringan tanaman sehingga tanaman sudah siap berdampingan dengan bakterisida tersebut memberikan perlawanan terhadap patogen. Pengairan dianjurkan setiap 2 hari sebanyak 4x sebelum penginfusan dan setelah penginfusan bakterisida setiap 4 hari sampai turun hujan, sedangkan pemupukan sehari sebelum penginfusan bakterisida sebanyak 1kg per tanaman3. Pengendalian BPKCCara pengendalian penyakit BPKC dengan menginfus batang tanaman cengkeh, Apabila gejala serangan penyakit BPKC ditandai dengan gugurnya daun di bagian pucuk pohon, maka segera dilakukan infus dengan antibiotika oksisitetrasiklin (OTC) sebanyak 6 gr/1 liter air. Jarum infus yang digunakan berdiameter 1 mm. Penginfusan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Pengendalian dapat dipadukan dengan melakukan penyemprotan insektisida dengan sasaran serangga vektor penular penyakit BPKC menggunakan insektisida Matador 25 EC, Akodan 35 EC, Curacron 500 EC dan Dads 2,5 EC dengan interval 6 minggu sekali sampai serangga vektor tidak ada lagi. Pohon-pohon yang terserang berat sebaiknya ditebang dan dibakar, selanjutnya selalu menjaga agar ekosistem tetap seimbang.4. Diskusi dengan PetaniKegiatan diskusi oleh petugas dengan petani di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo kegiatan yang dicapai antara lain:a. Petani memahami dan mengerti tentang cara pengendalian BPKC secara baik dan benar sesuai petunjuk teknis. b. Sebagian besar Tanaman Cengkeh di Kecamatan Ngebel telah terkena serangan BPKC.c. Petani sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini.d. Peragaan pengendalian BPKC dengan cara penginfusan batang cengkeh yang di praktekkan secara langsung di lokasi dan di ikuti oleh semua peserta yang hadir di BPP Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. KESIMPULANDari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa lahan pertanaman cengkeh mengalami kerusakan berat yaitu sebesar 70%. Cara pengendalian penyakit BPKC pada tanaman cengkeh yaitu dengan cara diinfus dengan bakterisida/antibiotika. Petani cengkeh menjadi lebih paham tentang penyakit BPKC pada tanaman cengkeh.(admin_ponorogo/ Elip Widiyanti, SP)