Dalam usaha meningkatkan produksi pangan, terutama padi, hama tikus merupakan hama utama pembatas produksi, karena tikus merupakan salah satu hama penting yang menimbulkan permasalah pada pertanaman padi. Berbagai upaya telah dilaksanakan, namun hasilnya belum memuaskan. Banyak kendala-kendala dilapangan yang harus disempurnakan dalam hal segi tehnis, organisasi dan manajemen pengendalian, sehingga dari musim ke musim tidaklah semakin surut, melainkan cenderung meningkat, oleh karena itu peningkatan kewaspadaan terhadap kemungkinan melonjaknya serangan hama tikus perlu mandapatkan perhatian dari semua pihak, lebih-lebih petani selaku pengelola tanaman. Adapun strategi pengendalian yang perlu dikembangkan dan dilaksanakan di desa Sidomakmur adalah pengendalian OPT secara terpadu, yaitu suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang berlandaskan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, dengan harapan keluaran yang diperoleh produktifitas pertanian tinggi, penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, populasi tikus dan kerusakan tanaman menurun serta resiko pemcemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida rendah. Perkembangan Populasi Tikus Perkembangan populasi tikus dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : ? - Karena semakin berkurangnya musuh alami tikus, baik di lahan sawah maupun diperkampungan (missal: ular sawah, musang, kucing, anjing dan burung hantu).? - Pengaturan / penerapan pola tanam dan setrategi budidaya tanaman yang belum berjalan sesuai rekomendasi, shingga selslu tersedia makanan bagi tikus? - Kondisi lingkungan yang memungkinkan bagi perkembangan tikus, seperti tempat-tempat yang rimbung, galengan-galengan (pematang) yang besar dan lahan-lahan pertanian yang sudah lama tidak dikerjakan (lahan tidur) serta pada pekarangan-pekarangan penduduk yang kebersihannya kurang diperhatikan.? - Sifat tikus yang memang mudah berkembang biak, sehingga populasinya cepat menjadi banyak (sepasang tikus dalam kurung waktu satu tahun dapat menghasilkan keturunan sebanyak kurang lebih 2.048 ekor). Biologi Tikus 1. Kemampuan indra penciuman, pendengaran, perasa dan peraba sangat tajam, walaupun penglihatannya kurang baik, tetapi tikus peka terhadap cahaya.2. Kemampuan fisik : pandai memanjat, meloncat, berenang, mengerat dan menggali lubang.3. Perilaku makan : tikus sebagai hewan omnivore (pemakan segala), dalam proses mengenali makanan yang ditemukan atau yang disediakan manusia, tikus tidak langsung memakannya, tetapi mengenali dulu, dicicipi untuk diketahui reaksinya (bila aman) baru dimakan.4. Kemampuang makan : tikus makan perhari kurang lebih antara 10-15% dari berat tubuhnya (45 gram), sedangkan kebutuahan minum perhari 15-30 mili liter air.5. Kemampuan reproduksi :? - Tikus matang seksual 2-3 bulan? - Masa bunting singkat, 21-23 hari,? - Birahi kembali setelah 14-48 jam setelah melahirkan? - Sekali melahirkan 3-12 ekor dengan rata-rat 6 ekor? - Melahirkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim Permasalahan kegagalan pengendalian Faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam pengendalian hama tikus antara lain : 1. Kurangnya kekompakan petani dalam melakukan pengendalian sehingga tingkat kegagalan akibat serangan tikus masih tinggi.3. Petani cepat merasa puas setelah gropyokan dan melihat banyaknya tikus mati, sehingga lupa untuk melakukan tindakan selanjutnya atau memantau lagi, akhirnya permasalah tikus terjadi lagi.4. Pengetahuan petani tentang perilaku, habitat dan tehnik pengendalian tikus masih terbatas, sehingga pengendalian yang tepat kurang. Beberapa Cara Pengendalian Hama Tikus Petani Sidomakmur. Usaha pengendalian berbagai macam cara yang tepat, murah, dan aman bagi petani dan lingkungan sehingga perkembangan tikus tidak merugikan secara ekonomis :1. Melakukan pembersihan lahan atau sanitasi lingkungan dengan membersihkan semak-semak tempat persembunyian tikus.2. Melakukan gropyokan massal pemberantasan hama tikus dengan menggunakan belerang dan pengasapan lubang sarang tikus.3. Pemasangan bambu perangkap yang di pasang di pematang sawah.4. Pemasangan umpan racun kimiawai sebagai alternatif terakhir jika tingkat serangan telah melewati ambang batasan. Oleh : YustinPenyuluh WKPP Desa Sidomakmur Kec. TanaliliBalai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tanalili