Dalam budidaya tanaman padi, untuk menghasilkan produksi yang menguntungkan harus memperhatikan pengendalian hama dan penyakitnya, salah satu hama utama tanaman padi yang sangat ditakuti oleh para petani adalah Wereng Batang Coklat (Nilaparvata Lugens) karena bisa mengakibatkan gagal panen (puso). Wereng Batang Coklat (WBC) merupakan hama penghisap cairan batang tumbuhan padi, dapat berkembangbiak dengan cepat. Hama ini menularkan penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Pada tahun 2017 intensitas serangan hama WBC, virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput sangat tinggi terutama di wilayah pantai utara (Pantura) termasuk di Kabupaten Subang. Akibat adanya serangan WBC ini para petani hanya bisa panen 1,5-2,5 Ton/ Ha, bahkan ada yang tidak bisa panen (puso). Untuk mengantisipasinya harus dilakukan pencegahan dan pengendalian dengan menggunakan insektisida secara bijak. Supaya pengendalian dan pencegahan dilakukan secara efektif dan efisien dibutuhkan kesadaran pelaku utama dalam hal ini petani melaksanakan penyemprotan secara massal atau bersama-sama. Cara pencegahan dan pengendalian ini dirasakan efektif dan efisien dikarena hama dan virus WBC mempunyai sifat berpindah tempat, dan cepat menyebar apabila terlambat dalam pengendaliannya. Desa Tambakjati Kecamatan Patokbeusi Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat berada di bagian selatan kota Subang, secara geografis terletak di garis pantai utara (Pantura) dengan ketinggian tempat 12 m dpl, sehingga sangat strategis dan mempunyai keunggulan komperatif dalam pengembangan tanaman padi. Desa Tambakjati mempunyai luas areal sawah 798 Ha dari luas desa keseluruhan 992,98 Ha. Pada musim tanam Okmar (Oktober-Maret) 2017-2018 hama yang paling utama terdapat di Desa Tambakjati adalah hama Wereng Batang Coklat (WBC) bahkan ada beberapa tanaman yang sudah terkena virus kerdil rumput. Hal ini sangat meresahkan masyarakat tani di Desa Tambak Jati. Dengan melibatkan Penyuluh Pertanian, POPT, Korluh, UPTD, Babinsa, Aparatur Desa, Tokoh Masyarakat, Pengurus Kelompok dan Petani setempat dilaksanakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Wereng Batang Coklat (WBC). Gerakan pengendalian ini dirasa sangat penting dan harus disegerakan mengingat situasi curah hujan dan kelembaban yang cukup tinggi dikhawatirkan serangan akan meluas. Musuh alami Laba-laba (Lycosa) dan kumbang Paederus yang ada di lapangan dirasa tidak cukup untuk mengendalikan hama tersebut. Bahan aktif yang digunakan dalam Gerdal adalah Buprofezin dan Bisultaf.Keberhasilan insektisida dalam mematikan jasad penggangu tidak hanya ditentukan oleh jenis insektisida, dosis, dan konsntrasi saja. Namun juga ditentukan oleh bagaimana aplikasi insektisida tersebut, sebab setiap formulasi insektisida berbeda cara aplikasinya, bahan aktif yang digunakan merupakan insektisida yang bekerja sebagai racun kontak dan lambung yang bersifat sistemik, yaitu mampu masuk kedalam jaringan tanaman, baik melalui daun ataupun bagian tanaman yang lain, sehingga cocok untuk mengendalikan hama tanaman yang masuk kedalam jaringan tanaman. Menurut Wudianto (2010), supaya penggunaan pestisida bisa efektif dan efisien, maka salah satu strateginya kita harus mengetahui cara menentukan dosis penyemprotan dan kecepatan jalannya penyemprotan.Pengamatan hama WBC harus dilakukan secara intensif dan rutin, pengamatan ditujukan ke bagian batang tanaman. Jangka waktu pengamatan minimal 3 hari sekali dan jika ada gelala wereng segera dihitung populasinya. Jika populasi per rumpun lebih dari 20 ekor pada fase vegetatif atau 40 ekor pada fase generatif segera diatasi dengan pengendalian insektisida. Adanya Gerdal ini diharapkan masalah penyebaran virus kerdil rumput yang disebarkan oleh Wereng Batang Coklat (Nilaparvata Lugens) yang dihawatirkan oleh para petani dapat dikendalikan secara efektif dan efisien, sehingga hasil produksi dapat memenuhi harapan petani. Strategi pengendalian WBC dan virus kerdil yaitu dengan cara a) pengendalian WBC b) Tanam padi secara serentak c) Penggunaan varietas tahan d) Perangkap Lampu (Light traps) e) Memperhitungkan waktu persemaian padi f) Tuntaskan pengendalian pada Generasi 1 g) Pengamatan wereng coklat dipertanaman h) Penggunaan insektisida. Untuk pengendalian penyakit virus kerdil rumputnya sampai saat ini belum ada virusida atau bahan lain yang dapat mengobatinya, tanaman yang terkena virus kerdil rumput cukup di iradikasi atau dibenamkan untuk mengendalikan penyebaran virus ke tanaman yang sehat. Tanaman padi yang terkena virus kerdil hampa akan menjadi kerdil atau menurut fisiknya tanaman menjadi pendek dengan pada bagian daun seperti terpuntir atau melilit.Salah satu yang menjadi kendala bagi para petani dilapangan yaitu harga pestisida sebagai salah satu sarana produksi pertanian dirasa sangat mahal. Padahal ketergantungan petani akan pestisida saat ini cukup tinggi. Pengendalian hama yang dikombinasikan secara terpadu dalam satu kesatuan pengelolaan sangat dibutuhkan yaitu salah satunya dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Adapun tahapan pelaksanaan PHT adalah dengan 1) Pengendalian kultur teknik 2) Penggunaan varietas tahan 3) Pengendalian hayati 4) Pengendalian Mekanik dan Pengendalian secara kimiawi (Wudianto, 2010).Dengan gerakan pengendalian hama yang dilakukan secara bersama-sama melibatkan berbagai pihak, dari berbagai instansi ini diharapkan bisa menekan atau mengendalikan pertumbuhan hama Wereng sehingga penyebaran virus yang mengakibatkan kegagalan panen dan menyebabkan banyak kerugian hasil hingga 82 % dapat terhindari.Daftar PustakaWudianto R. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Jakarta. Penebar Swadaya; 2010 Penulis : Team Penyuluh Pertanian BPP Patokbeusi