CENGKEH SEBAGAI PESTISIDA NABATI PENGENDALI PENYAKIT LAYU FUSARIUM PISANG
Pisang adalah tanaman yang sangat populer di dunia dan merupakan komoditas yang menduduki tempat pertama di Indonesia diantara jenis buah-buahan lainnya, baik dari sisi sebaran, luas pertanaman maupun dari sisi produksinya. Serangan penyakit yang akhir – akhir ini sering terjadi di hampir seluruh wilayah adalah penyakit busuk batang pisang yang menyebabkan produksi pisang sangat menurun. Salah satu penyebabnya adalah penyakit layu fusarium yang diakibatkan oleh jamur F.oxysporum f.sp cubense yang dapat bertahan dalam tanah. Sulitnya pengendalian layu fusarium disebabkan karena penularannya melalui bibit pisang yang sudah terinfeksi atau alat-alat pertanian sehingga penyebarannya cepat dan meluas. Gejala penyakit layu fusarium antara lain :? Daunnya menguning dan menjadi layu ? Tangkainya terkulai kemudian patah ? Pencoklatan pada jaringan pembuluh. Infeksi terjadi melalui penetrasi pada akar tanaman pisang yang sangat dibantu oleh adanya luka pada akar, sehingga jamur menyerang jaringan xylem dan menyebabkan penutupan pembuluh. ? Kadang-kadang lapisan luar batang semu terbelah dari bawah ke atas ? Yang paling khas adalah jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun Teknik pengendalian penyakit layu fusarium menggunakan pestisida nabati yang dilakukan oleh BBPP Ketindan ada 3 yakni infus akar, injeksi batang dan perendaman bibit menggunakan residu cengkeh (opis) yang dapat diperoleh di BBPP Ketindan. Dari ketiga cara tersebut yang paling mudah dilakukan adalah injeksi batang. Prinsip kerjanya tetap mengikuti proses fisiologis tanaman dalam mentranslokasi air dan unsur hara ke bagian atas tanaman. Dengan bergeraknya larutan bersama air dan unsur hara ke bagian lain tanaman, maka apabila ada patogen di bagian tersebut akan dibunuh oleh larutan ekstrak cengkeh hingga bagian paling ujung tanaman yakni pucuk dan buah. Tingkat keberhasilan pada tanaman yang terkena pada fase awal adalah 90%. (Eris Wulandari, BPP Proppo)