Fenomena yang dialami Pemerintah Republik Indonesia saat ini sulitnya mencapai pertanian organik, dengan bukti masih banyaknya limbah rumah tangga seperti buah-buahan busuk tidak dikelola dan diolah dengan baik hanya dibuang begitu saja. Kabupaten Ngawi, Khususnya Kecamatan Karanganyar, Desa Pandean memiliki 2.427 Kepala Keluarga, pada masing-masing kelurga rata-rata memiliki tanaman pisang, pepaya, kacang panjang dan kankung sebanyak 3-4 buah tanaman. Desa Memiliki memiliki lahan sawah seluas 290 Ha, Kelompok Tani di Desa Pandean rata-rata sudah mengelola dan mengolah limbah buah-buahan busuk menjadi agen hayati (MOL), dengan asumsi saat panen tanaman buah masing 1 (satu) buah busuk bisa menghasilkan 7-8 liter/hari agen hayati (MOL) yang dijadikan sebagai pupuk organik cair.Kelompok Tani yang memiliki sumber mata air sendang di Desa Pandean yang belum dimanfaatkan dan hanya digunakan sebagai pengairan di lahan sawah adalah Kelompok Tani Sido Makmur. Jika pada musim kemarau yang masing bisa melakukan tanam tanaman padi adalah kelompok tani Sido Makmur dengan kepemilikan lahan di sekitar sendang tersebut adalah + 20 Ha. Untuk mengetahui produktivitas tanaman padi dengan menggunakan agen hayati dan murni pupuk kimia, Kelompok Tani Sido Makmur melakukan Dem-Plot Swadaya Penggunaan Agen Hayat pada saat musim kemarau di lahan sawah milik Sadi dengan luasan 0,25 Ha dengan menghabiskan 5.800 ml dalam satu musim dengan perincian sebagai berikut : (1) saat membuat pinihan disemprot agen hayati sebanyak 200 ml, (2) bersamaan dengan penebaran pinihan dilakukan penyemprotan agen hayati sebanyak 200 ml, (3) pengolahan tanah persiapan tanam padi sebanyak 200 ml, (4) bersamaan dengan tanam disemprot 400 ml agen hayati, (5) seminggu setelah tanam setiap hari senin mulai tanggal 9 April 2018 s/d 25 Juni 2018, dilakukan penyemprotan sebanyak 12 kali. Penyemprotan agen hayati disarankan dilakukan diatas pukul 09.00 s/d 16.00, setiap kali semprotan menghabiskan 400 ml agen hayati. Jadi jika 12 kali menyemprot menghabiskan 400 ml x 12 = 4.800 ml. Lahan sawah yang di Dem-Plot agen hayati saat menggunakan kimia 2 (dua) minggu setelah tanam dilakukan penggurangan penggunakan pupuk dengan takaran sebagai berikut : (1) pupuk urea dikurangi 50% dari kebiasaan penggunakan, dan (2) pupuk SP 36, NPK, Phonska dikurangi 25% dari kebiasaan penggunaan.Pada tanggal 2 Juli 2018 lahan sawah yang di Dem-Plot agen hayati panen, untuk mengetahui produktivitas tanaman tersebut maka dilakukan ubinan tanaman padi dengan mengambil 2(dua) sampel. yang mana sampel yang menggunakan agen hayati dan sampel tanaman padi yang umur sama akan tetapi pemupukan murni menggunakan pupuk kimia. Hasilnya pun berbeda jauh. Dimana hasil ubinan tanaman padi yang menggunakan Agen hayati mendapat hasil 5,380 Kg sedangkan hasil ubinan tanaman padi murni menggunakan pupuk kimia hanya 3.750 Kg. sebagaimana terlampir pada lampiran. Daftar Pustaka :Anonim, 2018. Peran dan Pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Mendukung Pertanian Organik. ( h t t p : / / w w w .sulsel . l i tbang.deptan.go. id/2018/peran –dan-pemanfaatanmikroorganisme-lokal-mol-mendukung-pertanian-organik.html). diakses pada tanggal 15 April 2018. Purwoko, D. 2018. Petunjuk Teknis Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Berbahan Baku Lokal. Unit Pelaksanaan Teknis Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Karanganyar. Ngawi Penulis : Deha Purwoko, S.ST