Loading...

DIKLAT TEMATIK BUDIDAYA BAWANG PUTIH DI BPP SUMBERWRINGIN

DIKLAT TEMATIK BUDIDAYA BAWANG PUTIH DI BPP SUMBERWRINGIN
DIKLAT TEMATIK BUDIDAYA BAWANG PUTIH DI BPP SUMBERWRINGIN Mencermati ketergantungan impor bawang putih tinggi serta memperhatikan potensi lahan yang sesuai bawang putih sangat luas, maka diterbitkan kebijakan untuk menggenjot produksi bawang putih dengan target 2 hingga 3 tahun kedepan swasembada. “Untuk mencapai swasembada ditargetkan tahun 2021 ya diperlukan luas tanam sekitar 65 ribu hektar dan 14 ribu hektar untuk pembibitan,” demikian disampaikan oleh Dr. Prihasto Setyanto Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Diretorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (pertanian.go.id). Bawang putih (Allium sativum L.) menghendaki iklim yang sejuk dan relatif kering. pH yang dikehendaki oleh bawang putih berkisar antara 6-7. Di Indonesia yang paling cocok untuk menanam bawang putih adalah di daerah dataran tinggi yaitu sekitar 700-1.000 mdpl. Suhu malam yang agak dingin diperlukan untuk pembentukan umbi (https://8villages.com/full/petani/article/id). Hal tersebut sesuai dengan kondisi demografi Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Pelaksanaan diklat tematik budidaya bawang putih di BPP Sumberwringin dilakukan pada tanggal 5 - 9 Maret 2020 bertempat di BPP Sumberwringin. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan. Diklat tematik bawang putih ini dihadiri oleh 30 petani se-Kecamatan Sumberwringin. Pelaksanaan diklat dimulai dengan pemaparan materi oleh fasilitator via power point, kemudian dilanjutkan dengan praktek lapang dan survey lahan bawang putih dengan lokasi di hamparan kelompok tani Sumber Jaya 1 Desa Sukosari Kidul, Kecamatan Sumberwringin. Pada saat pelaksanaan diklat, peserta terlihat sangat antusias terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta dan beberapa peserta telah mengaplikasikan materi yang diperoleh dari diklat tersebut. Pelaksanaan diklat tematik bawang putih menunjukkan hasil yang positif, yaitu terjadi peningkatan pengetahuan petani sebesar 35%. Hal diukur dari hasil pre-test dan post-test yang dilakukan. Selain itu, peserta alumni diklat tematik telah melakukan kegiatan Rencana Tindak Lanjut (RTL) di masing-masing kelompok tani.