Loading...

DISEMINASI PERTANIAN TERPADU MELALUI TV TABALONG

DISEMINASI PERTANIAN TERPADU MELALUI TV TABALONG
Hari ini Rabu, 08 Agustus 2020. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kembang Kuning mendapatkan kesempatan syuting program Habar Tani TV Tabalong. Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) Masingai Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong menjadi pilihan untuk mendesiminasi (menyebarluaskan informasi) dengan topik Pertanian Terpadu (Integrated Farming). Kegiatan syuting diawali Heri Lestiyawan, SP selaku Koordinator BPP Kembang Kuning menjawab pertanyaan dari wawancara dari pembawa acara TV Tabalong mengenai Pertanian terpadu dan ruang lingkupnya. Pertanian terpadu merupakan gabungan antara kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan yang lainnya yang berkaitan dengan pertanian dalam satu lahan. Sistem pertanian terpadu merupakan suatu sistem menggunakan ulang atau mendaur ulang dengan memanfaatkan tanaman dan hewan sebagai mitra, menciptakan suatu ekosistem yang dibuat menyerupai cara alam bekerja. Pertanian yang baik ialah kegiatan pertanian yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem sehingga kandungan unsur hara dan energi tetap seimbang, keseimbangan tersebut akan menghasilkan produktivitas yang tinggi dan berkelanjutan secara efektif dan efisien. Pada hakikatnya pertanian terpadu dalah upaya pemanfaaatan seluruh potensi energi agar dapat dipanen secara seimbang. Keunggulan dari sistem pertanian terpadu adalah petani dapat memiliki berbagai sumber penghasilan selain itu sebagai solusi dari permasalahan ketersediaan lahan yang semakin sempit, sehingga pertanian intensif dapat dilakukan. Sistem ini juga dapat menjadi solusi kemandirian dan swasembada pangan produk-produk hasil pertanian. Adapun 3 (tiga) alasan mengapa pertanian terpadu dilakukan : Panen tidak setiap hari Menekan biaya produksi Meningkatkan harga jual Pertanian dengan sistem terpadu diharapkan mampu menghasilkan kesejahteraan meliputi 4F yaitu food, feed, fuel, dan fertilizer. Food – Pertanian terpadu diharapkan dapat menghasilkan pangan lebih beragam, seperti beras, sayuran, daging, dan ikan. Feed – Limbah dari pengolahan produk pertanian seperti dedak dan bungkil jagung dapat diolah kembali menjadi konsentrat untuk pakan ternak dan perikanan. Fuel – Bahan bakar biogas dapat diperoleh dari pengolahan kotoran ternak, sehingga dapat mencukupi kebutuhan energi rumah tangga, seperti memasak. Fertilizer – Limbah dari kotoran hewan serta pembusukan bahan organik lain dapat dimanfaatkan untuk pupuk cair dan padat. Setelah mendapatkan pencerahan mengenai pertanian terpadu, selanjutnya pembawa acara program Habar Tani TV Tabalong diarahkan dan diajak oleh Hotim SP., MP selaku Penyuluh Pertanian WKPP Masingai untuk melanjutkan proses syuting sekaligus memberikan berbagai informasi mengenai kegiatan pertanian terpadu yang sudah dilakukan diwilayah kerjanya. Adapun 4 (empat) Kelompok Tani dan 3 (tiga) Desa yang dikunjungi yakni : Kelompok Tani Pelita Jaya dan Kelompok Wanita Tani Mekar Wati Desa Masingai I Kelompok Tani Sumber Agung Desa Masingai II Kelompok Tani Pantai Jaya Desa Bilas Ketiga Desa tersebut diatas sudah mulai menerapkan dan mengembangkan pertanian terpadu dengan komoditas utamanya Ternak Kambing diintegrasikan dengan Tanaman Pangan (Padi, Jagung, Umbi-umbian), Hortikultura (Sayuran), Perkebunan (Karet), Perikanan (Kolam). Hal yang membedakan hanyalah jenis perkandangan Ternak Kambingnya. Desa Masingai I dan Masingai II menerapkan sistem kandang Parsial sedangkan Desa Bilas sudah menerapkan sistem Kandang Komunal. Kendala yang dihadapi dalam sistem pertanian terpadu ialah karena membutuhkan keahlian dalam pengelolaannya. Memang tidak semua orang memiliki keahlian dalam memanajemen sistem pertanian terpadu. Pengetahuan tentang berbagai disiplin ilmu pertanian, peternakan, dan perikanan memang sangat berperan penting di sini. Oleh karena itu, pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan ingin memajukan pertanian harus ikut terjun ke lapangan untuk mengatasi masalah ini. Kendala lainnya adalah, karena dirasa terlalu sulit dilakukan, banyak pihak yang merasa kewalahan dalam menerapkan pertanian yang terpadu. Akan tetapi, apabila sistem terpadu diterapkan sepanjang waktu, tentu saja semua kendala akan terjawab dengan mudah. Dengan adanya desiminasi melalui media Televisi Insya Allah dapat memberikan inspirasi bagi insan pertanian untuk semakin berkembang pola pikirnya. Penulis : Hotim, SP., MP (Penyuluh Pertanian WKPP Masingai Kecamatan Upau) Editor : Rezki Setiadi Ramadhani, S.ST (Penyuluh Pertanian WKPP Mahe Pasar Kecamatan Haruai)