Wereng adalah sebutan umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan anggota ordo Hemiptera ( kepik sejati ), subordo Fulgoromorpha, khususnya yang berukuran kecil. Selain sebagai pemakan langsung, wereng juga menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan penting, khususnya dari kelompok virus. Beberapa buku masih menggunakan nama Auchenorrhyncha untuk menyebut Fulgoromorpha. Ciri-Ciri:• Nimfa dari Fulgoroida memproduksi lilin dari keenjar khusus di perut dan bagian tubuh lainnya. Lilin ini bersifat hidrofobik dari membantu menyembunyikan serangga dari pemangsa. Betina dewasa juga memproduksi lilin untuk melindungi telur.• Wereng merupakan vektor dari beberapa penyakit tumbuhan, terutama fitoplasma yang hidup di floem tumbuhan dan ditularkan oleh wereng ketika menyerap nutrisi dari batang tumbuhan.Hama wereng menjadi hama yang menakutkan bagi petani, serangga kecil ini menghisap cairan batang tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus, terutama reovirus yang menyebabkan penyakit tungro. Gejala serangan .• Kerusakan secara langsung terjadi karena hama ini mempunyai kemampuan mengisap cairan tanaman yang menyebabkan daun menguning, kering dan akhirnya mati yang dikenal dengan gejala hopperburn .• Kerusakan secara tidak langsung terjadi karena serangga ini merupakan vektor penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa. Teknik Pengendalian.Gangguan hama wereng pada budidaya padi merupakan masalah yang sangat penting yang dihadapi petani, serangan hama wereng menyebabkan kerusakan yang cukup serius pada daerah endemis wereng. Agar lebih berhasil dalam mengendalikan hama wereng harus dilakukan pada instar (periode tumbuh) hama seawal mungkin, karena wereng merupakan hama yang menyerang tanaman padi sejak menetas sampai dewasa, pengendalian hama yang dilakukan pada instar dewasa sudah sangat merugikan serta tidak ekonomis.1. Pengaturan Pola Tanam.Pengaturan pola tanam yang diterapkan adalah : a. Tanam serentak. b. Pergiliran tanaman2. Penggunaan Varietas Tahan.a. Penggunaan varietas tahanb. Pergiliran varietas tahan dilakukan untuk menekan dan menghambat perkembangan biotipe baru. 3. Pengendalian dengan kultur teknis yaitu menerapkan cara bercocok tanam dengan cara :a. mengatur waktub. Sanitasi yaitu kebersihan lingkungan pertanamanc. Pelarangan peredaran jerami padi dari daerah serangan ke daerah yang belum terserang.d. Tindak lanjuti dengan penelitian jika pada varietas IR 64 terserang berat wereng cokelat.4. Pelestarian dan pemanfaatan musuh alami/ biologis5. Pengendalian dengan fisik / mekanis yaitu menangkap hama secara langsung dengan alat ( menggunakan perangkap lampu di malam hari ),maupun tanpa alat.6. Aktifkan kembali sistem informasi organisasi penerapan PHT di tingkat petani untuk memantau agro ekosistem / perkembangan populasi wereng, 7. Klasifikasikan areal tanaman padi yang terserang wereng cokelat ke dalam kriteria serangan berat (puso), agak berat, sedang, ringan dan tidak terserang, Pengendalian Hayati.a. Penggunaan cendawan entomopathogen yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan Wereng coklat antara lain : Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, M. flavoviridae dan Hersutella citriformis.b. Predator untuk mengendalikan wereng ini adalah Cyrtorhinus lividipennis ( Hemiptera : Miridae)8. Eradikasi.Eradikasi dilakukan apabila ditemukan serangan kerdil rumput dan kerdil hampa dengan pencabutan dan pemusnahan.9. Penggunaan Insektisida.a. Pengendalian secara kimiawi apabila keadaan serangan hama sudah melebihi ambang ekonomi, pengendalian hama secara kimiawi harus dilaksanakan secara bijaksana agar musuh alami hama tidak musnah yaitu dengan menerapkan 5 tepat; tepat jenis insektisida, tepat waktu, tepat tempat , tepat dosis dan konsentrasi, tepat sasaranb. Pengedalian dengan insektisida dilakukan apabila telah ditemukan populasi wereng coklat 10 ekor / rumpun (1 ekor / tunas) pada tanaman berumur 40 HST. Insektisida yang dipilih bersifat selektif, efektif dan diijinkan untuk digunakan pada tanaman padi.