Kamis, 03 September 2020 Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) Masingai Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan mengadakan kegiatan Display Kaji Terap. Kegiatan tersebut bertempat disaung tani Hamparan Sawah Buluan Kelompok Tani Rukun tani Sentosa Desa Masingai II Kecamatan Upau tepatnya dilahan Tarsono sebagai petani pelaksana. Peserta dari kegiatan tersebut ialah perwakilan Kelompok Tani yang berada disekitar lokasi Kaji Terap. Kegiatan diawali dengan pengisian Kuesioner Pre test oleh para peserta kegiatan Display Kaji Terap, Pre test bisa di artikan sebagai kegiatan menguji tingkatan pengetahuan terhadap materi yang akan disampaikan, kegiatan pre test dilakukan sebelum kegiatan pengajaran diberikan. Adapun manfaat dari diadakannya pre test adalah untuk mengetahui kemampuan awal mengenai materi yang akan yang disampaikan. Selanjutnya penyampaian sambutan sekaligus materi oleh Heri Lestiyawan, SP selaku Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kembang Kuning, dalam penyampaiannya beliau menginformasikan bahwa pelaksanaan kaji terap ini dilaksanakan oleh petani yang sebenarnya dengan bimbingan penyuluh pertanian dari Instansi yang terkait. Instasi terkait yang berpartisipasi pada kegiatan kaji terpa ini antara lain : Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan, DInas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, serta Dinas Pertanian Kabupaten Tabalong yang melingkupi BPP Kembang Kuning. Pengertian kaji terap adalah tes bahan informasi pertanian dan merupakan metode penyuluhan pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan petani-nelayan dalam memilih paket teknologi usahatani yang telah direkomendasikan sebelum didemonstrasikan dan atau dianjurkan. Kaji terap yang berbentuk demplot merupakan salah satu media penyuluhan, dalam rangka untuk menampilkan suatu teknologi atau perlakuan sebagai bukti dari teknologi tersebut Hal yang paling ditegaskan dalam kaji terap tersebut ialah teknologi Sistem tanam jajar legowo. Dalam sistem tanam tersebut Jumlah rumpun tanaman akan semakin banyak apabila dibandingkan dengan Sistem Tanam Tegel/biasa selisihnya mencapai 40 ribu rumpun. Apabila Sistem Tanam Tegel memperoleh jumlah rumpun per hektarnya 16 ribu maka dengan menggunakan Sistem Tanam Jajar Legowo 2 : 1 akan lebih banyak jumlah rumpunnya. Hal tersebut disebabkan adanya tanaman sisipan, sedangkan di Sistem Tanam Tegel tidak terdapat tanaman sisipan. Semakin banyak jumlah rumpun maka potensi untuk mendapatkan jumlah anakan padi juga akan semakin tinggi, dan akan berdampak pada produktivitas dan produksi tanaman padi tersebut. Dikesempatan berikutnya, giliran Hotim, SP, MP selaku Penyuluh Pertanian setempat berkesempatan menyampaikan atau menyambung materi yang telah disampaikan Koordinator BPP Kembang Kuning. Dalam pemaparannya hal yang penting dilakukan oleh para petani selain menerapkan Sistem Tanam Jajar Legowo ialah pemupukan secara berimbang. Dengan adanya pemupukan berimbang maka efisiensi dan efektivitas dalam pemupukan dapat diterapkan. Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk kedalam tanah untuk mencapai status semua hara esensial seimbang sesuai kebutuhan tanaman dan optimum untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil, meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan tanah serta menghindari pencemaran lingkungan. Dalam kesempatan tersebut juga diperkenalkan alat untuk mendukung pemupukan berimbang seperti pH meter dan Bagan Warna Daun (BWD). pH meter adalah alat pengukur pH. Arti dari Ph sendiri yaitu tingkat / derajat kebasahan / keasaman dari suatu benda padat, semi padat, cair hingga tingkat keasaman di suatu tempat. Untuk arti dari huruf p sendiri ialah power dan untuk H yaitu simbol kimia yang berarti hidroge. Sedangkan Bagan Warna Daun atau BWD adalah alat bantu pengukuran dosis pemupukan yang terbuat dari plastik yang mempunyai 4 atau 6 skala warna yang dijadikan dasar penilaian kualitatif warna daun padi. BWD dapat membantu petani untuk mengetahui kapan tanaman perlu segera diberi pupuk N dan berapa takarannya. Pemberian pupuk N berdasarkan warna daun dengan BWD dapat menekan biaya pemakaian pupuk sebanyak 15- 20% dari takaran umum tanpa menurunkan hasil. Kedua alat tersebut digunakan dalam kegiatan Kaji Terap yang sedang berlangsung, harapannya yang diinginkan ialah petani menjadi terampil dalam melakukan pemupukan secara berimbang seperti pengertian pemupukan berimbang diatas. Yang nantinya juga akan berimplikasi peningkatan pendapatan petani. Semoga petani semakin sejahtera lahir dan batin. Aamiin. Penulis : Hotim, SP, MP (Penyuluh Pertanian WKPP Masingai Kecamatan Upau) Editor : Rezki Setiadi Ramadhani, S.ST (Penyuluh Pertanian WKPP Mahe Pasar Kecamatan Haruai)