Kebijakan memanfaatkan pangan lokal dalam upaya ketahanan pangan sangat tepat, mengingat beragam jenis bahan baku pangan lokal tersedia dan mudah untuk dikembangkan didaerah setempat. Jagung salah satu bahan baku pangan lokal yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai bahan baku diversifikasi pangan pengganti beras. Beraneka ragam jenis olahan jagung dapat disajikan dengan berbagai cita rasa ciri khas daerah yang dapat menjadi kekayaan menu spesifik lokalita yang perlu dilestarikan.Masing masing daerah mempunyai jenis jenis jagung yang diandalkan sebagai bahan baku pangan sebut saja Sulawesi yang lebih banyak menggunakan jagung pulut lokal seperti jagung pulut Bantaeng, jagung pulut Barru, jagung pulut Takalar, jagung pulut Soppeng, jagung pulut Jeneponto dan jagung pulut Gorontalo. Jagung pulut Sulawesi Selatan memiliki keunggulan epuk dan lembut dibandingkan jagung pulut dari daerah yang lainnya. Jagung pulut lokal mempunyai umur tanam pendek hanya 71 - 75 hari, bertongkol kecil, warna biji putih susu, klobot tertutup baik dan hasil panen jagung pulut bisa mencapai 2,5 ton/ha. Beberapa olahan jagung pulut lokal seperti binte biluhula dari Gorontalo dan tinutuan dari Menado yang merupakan produk olahan jagung muda yang dicari penggemar kuliner didaerah Menado, Gorontalo karena merupakan olahan pangan sehat berserat tinggi sangat cocok dinikmati pasien diabetes, jantung dan obesitas. Makasar juga mempunyai olahan jagung yang biasa digunakan sebagai menu sarapan pagi bagi etnis Bugis yang dikenal dengan nama bassang yang menggunakan bahan baku jagung sosoh.Suarni peneliti dari Balai Peneltian Tanaman Serealia Sulawesi, menjelaskan jagung pulut sangat baik untuk difermentasikan menjadi tape dan juga dapat diproses lebih lanjut dengan proses ekstraksi sari tape menjadi brem padat. Jagung pulut pipilan kering dapat diolah menjadi emping jagung dan jagung marining. Kedua produk olahan jagung ini mempunyai proses hampir sama yang membedakan hanya pada tahapan proses terakhir pengolahanjagung pulut . Pada pembuatan marning setelah proses perebusan lansung dilakukan penjemuran jagung, untuk pembuatan emping jagung setelah proses perebusan harus dipipihkan baru dilakukan penjemuran.Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya, sangat cocok diberikan pada olahan jagung. Dengan bahan baku yang sama sama jagung Sulawesi tidak akan sama dengan Jawa. Di Sulawesi jagung diolah menjadi olahan kuliner yang disajikan untuk sarapan pagi dan aneka sajian olahan kuliner tradisional berbahan baku jagung yang diminati konsumen selain makanan Di Jawa jagung diolah menjadi bahan baku panganpengganti beras dan makanan ringan teman minum teh berasal dari olahan jagung pipilan kering, banyak ditemukan di desa desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nasi jagung dikenal dengan nama nasi empok banyak dikonsumsi didaerah Madura dan beberapa daerah di Jawa Timur. Selain nasi jagung pipilan jagung kering juga diolah menjadi lontong jagung yang banyak disajikan di daerah Jawa Tengah. Pipilan jagung kering juga dapat diolah menjadi makanan ringan yang dikenal dengan nama tortila yang merupakan paduan antara teknologi pembuatan kue kering dan keripik dengan mengkombinasikan proses pemanggangan dan penggorengan. Tortila banyak diproduksi didaerah Bojonegoro Jawa Timur.Jagung yang selama ini hanya dikenal sebagai olahan pangan berupa jagung rebus, jagung bakar, aneka olahan jagung tradisional seperti bakwan jagung, cake jagung, klaper tart jagung, berondong jagung dan diolah menjadi nasi jagung. Sekarang ini dengan berkembangnya teknologi jagung juga sudah mulai diolah menjadi pati jagung, minyak jagung, tepung jagung. Pengolahan jagung menjadi tepung jagung diharapkan mampu menjadi pengganti tepung terigu yang dapat digunakan untuk keperluan industri roti dan mie.Dengan membudayanya aneka olahan pangan berbahan baku jagung dikonsumsi oleh masyarakat, artinya program diversifikasi pangan non beras sudah mampu diwujudkan masyarakat sebagaimana yang diharapkan dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor ; 43/Permentan/OT.140/10/2009, tentang Gerakan Percepatan Penganeka ragaman Konsumsi (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal. Nani Priwanti Soeharto - PP PPMKP CiawiSumber : 1. Suarni, Pengembangan Pangan Tradisional Berbasis Jagung Mendukung Diversifikasi Pangan, Iptek Tanaman Pangan Buletin Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, vol 8 no1 Juni 20132. Masniah dan Syamsuddin, Pemanfaatan Jagung Dalam Pembuatan Aneka Olahan Untuk Memperkuat Ketahanan Pangan. Seminar Nasional Serealia, 2013