Dongkrak Kemauan Pelaku Utama Desa Jarin Kecamatan Pademawu Mengganti Varietas Padi Ciherang ke Varietas IPB 3S
Pada umumnya pelaku utama di Madura dan khususnya pelaku utama di Kabupaten Pamekasan Desa Jarin Kecamatan Pademawu sangat sulit dalam mengadopsi Inovasi teknologi terbaru dalam meningkatkan usahataninya. Hal tersebut terjadi karena kebiasaan turun temurun dan umum dilaksanakan ditingkat pelaku utama termasuk dalam pelaksanaan budidaya tanaman padi. Untuk mematahkan hal tersebut dibutuhkan waktu dan proses yang cukup lama melalui contoh nyata dengan hasil yang dapat menarik minat pelaku utama untuk mengikuti adopsi inovasi teknologi yang dikenalkan. Studi Kasus di Poktan Janur Kuning Desa Jarin Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Poktan ini berlokasi di Dusun morsoksok dengan jenis sawah irigasi teknis, sehingga budidaya padi bisa dilaksanakan 2 – 3 kali selama setahun. Dalam pelaksanaan budidaya tanaman padi, pelaku utama cenderung menanam padi dengan varietas ciherang yang sudah lebih dari 10 tahun dibudidayakan. Kondisi riil saat ini produksi padi varietas ciherang menurun dan rentan terhadap serangan penyakit Blast yang dapat menurunkan hasil hampir di atas 50%. Beberapa pengenalan varietas padi mulai diupayakan oleh PPL melalui demplot seperti Situbagendit, inpari 10, inpari 13 dan Pertiwi. Namun varietas tersebut tidak diminati oleh pelaku utama karena beberapa alas an seperti mudah roboh, gabah ringan dan nasi tidak pulen. Pada Bulan April – Juni Tahun 2017 kembali dilakukan demplot menggunakan varietas IPB 3S di lahan anggota poktan Janur Kuning yaitu Bapak Machfud. Kondisi lahan pada saat itu kekurangan air karena musim kemarau, serangan tikus dan burung tinggi. Dengan kondisi kekurangan air, varietas IPB 3S masih bisa tumbuh secara optimal. Selain pertumbuhan tanaman yang baik, bulir pada tanaman padi varietas IPB 3S juga menarik perhatian pelaku utama disekitar lokasi demplot. Demplot dilanjutkan pada musim tanam peride Oktober 2017 - Maret 2018 dilokasi ketua poktan Janur Kuning yaitu Bapak Sahari. Pada periode tanam ini tanaman padi varietas IPB 3S tumbuh optimal, intensitas serangan blast sangat rendah dibandingkan dibandingkan tanaman padi pada petakan disekitar lahan Bapak Sahari yang ditanami padi menggunakan varietas Ciherang dan terserang Blast dengan intensitas serangan cukup tinggi. Pengendalian Blast hanya dilaksanakan satu kali menggunakan fungisida pada saat tanaman berumur 35 HST. Ubinan dilaksanakan pada saat tanaman padi masak fisiologis dengan ukuran 2,5 x 2,5 meter persegi dan dihasilkan berat gabah 7,5 kg atau setara dengan 11,2 ton per Ha GKP. Sedangkan varietas ciherang dilokasi sebelah kiri lahan varietas IPB 3S diperoleh hasil ubinan sebesar 3,2 kg atau setara dengan 5,12 ton per Ha. Beras dari varietas IPB 3S tidak hancur, bening dan nasi punel. Hasil demplot ini kemudian disosialisasikan pada pertemuan rutin kelompok Tani Janur Kuning. Pada pertemuan tersebut sekitar 80% pelaku utama tertarik untuk menanam padi varietas IPB 3S, dibuktikan dengan cara menanyakan berapa pelaku utama yang tertarik dengan mengacungkan tangan. Diperoleh sebanyak 57 pelaku utama yang mengacungkan tangan dari 70 pelaku utama yang hadir pada pertemuan rutin tersebut. Dari studi kasus kelompok tani Janur Kuning ada peningkatan kemauan pelaku utama sebanyak 80% untuk merubah varietas padi ciherang ke varietas padi IPB 3S. Dari kondisi tersebut diharapkan ada peningkatan produksi padi sehingga kesejahteraan pelaku utama dan pelaku usaha juga meningkat. (oleh : Eka Fardiana, SP. / PPL Desa Jarin)