Untuk menjaga dan mengembalikan kesuburan tanah tegal, tadah hujaan milik para petani, maka perlu adanya gerakan percontohan penggunaan pupuk organik. Setiap aktivitas kegiatan Jagung Hibrida yang menggunakan pupuk organik harus dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan petani memahami masalah dan dapat langsung diterapkan dilahan miliknya. Misalnya, bagaimana membuktikan manfaat pupuk organik pada lahan petani yang semangkin lama semangkin kurus / tandus. Upaya peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam akan berlangsung pada berbagai lingkungan atau agroekosistem beragam mulai dari lingkungan berproduktivitas tinggi (lahan subur) sampai yang berproduktivitas rendah (lahan suboptimal dan marjinal). Untuk itu diperlukan penyediaan teknologi produksi jagung yang beragam dan spesifik lingkungan. Pengembangan jagung di lahan sawah pada musim kemarau merupakan sesuatu yang strategis, karena (a) dapat mengurangi/mengatasi defisit pasokan jagung yang umumnya terjadi pada usim kemarau, (b) kualitas produk jagung pertanaman musim kemarau adalah tinggi, dan (c) petani jagung musim kemarau memperoleh pendapatan yang lebih baik karena harga jagung yang relatif tinggi. Penerapan teknologi budidaya jagung oleh petani yang sekarang berlaku, pada umumnya masih bersifat parsial khususnya bagi wilayah berproduktivitas rendah. Memperpadukan sejumlah komponen teknologi produksi diharapkan akan meningkatkan produktifitas dan pendapatan usaha tani jagung. Keberhasilan perbaikan produktivitas dan pendapatan tersebut pada gilirannya akan memperlancar upayah pengembangan areal pertanaman jagung di Indonesia. Budidaya jagung dengan pendekatan Pengolaan Tanaman Terpadu (PTT) diharapkan mampu memberikan produktifitas dan pendapatan petani yang optimal karena efisiensi produksi akan meningkat, serta penerapannya pada skala yang luas akan dapat meningkatkan produksi jagung nasional dan ekonomi masyarakat yang terkait. Industri yang membutuhkan jagung sebagai bahan baku tidak hanya terbatas pada industri unggas dan produksi ternak / daging seperti sapi, juga akan semangkin berkembang industri-industri lainnya. Jika upaya penignkatan produksi jagung dalam negeri berhasil, maka impor jagung yang sekarang besar dapat dikurangi atau ditiadakan. Bahkan labih jauh dari itu, peluang pasar jagung yang terbuka di pasaran regional dan global dapat di manfaatkan oleh Indonesia. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bukanlah suatu paket teknologi, akan tetapi lebih merupakan suatu pendekatan dalam budi daya jagung yang menekan pada pengelolaan tanaman, lahan, air dan organisme pengganggu secara terpadu. Pengelolaan yang diterapkan mempertimbangkan hubungan sinergis dan komplementer antar komponen. Dengan menerapkan pendekatan PTT dalam usaha tani jagung, diharapkan produktifitas akan meningkat secara berkelanjutan dan efisiensi produksi dapat dicapai dengan memperhatikan sumber daya, kemampuan dan kemauan petani. Keberlanjutan sistem produksi jagung ini akan dapat memantapkan sistem kelembagaan penunjang produksi (penyedia sarana, permodalan, dan pemasaran) dan pada gilirannya dapat mempercepat peningkatan produksi dan pengembangan pertanaman jagung untuk memenuhi kebutuhan produk jagung dalam negeri (swasembada) dan mengisi peluang ekspor. Pengembangan jagung melalui pendekatan PTT harus didasarkan pada masalah dan kedala yang ada disuati wilayah, dan dapat diketahui melalui PRA (Participatory Rural Appraisl) yang merupakan penelaahan partisipatif dalam waktu singkat. Pelaksanaan PRA seyogyanya dilakukan oleh suatu tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu agar dapat terindentifikasi permasalahan dan kendala yang ada secara holistik, sehingga penyelesaian masalah dapat sampai ke akar permasalahan. PRA merupakan tahapan pertama yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan PTT di suatu wilayah pengembangan jagung, hal ini dimaksudkan agar masalah utama yang dihadapi petani dapat diketahui dan dipahami. Melalui PRA keinginan dan harapan petani dapat diketahui, dan karakteristik lingkungan biofisik, kondisi sosial ekonomi, budaya petani setempat dan masyarakat sekitarnya dapat dipahami. Tahapan selanjutnya yang harus dilakukan setelah mengetahui dan memahami masalah yang ada, adalah menyusun komponen teknologi yang ssesuai dengan karakteristik dan diharapankan dapat menyelesaikan masalah di wilayah pengembangan. Komponen Teknologi Produksi Mengingat tanaman jagung dapat diusahakan baik pada lahan kering maupun lahan sawah (tadah hujan atau irigasi) maka komponen teknologi alternatif yang dapat diterapkan dalam produksi jagung terkait dengan pengembangan PTT terdiri atas : Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan dan keinginan petani setempat, baik jenis komposit / bersari bebas ataupun hibrida. Benih bermutu (kemurnian / bersertifikat dan daya kecambah > 95%). Diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan maksimal 2 g (bahan produk) per 1 kg benih. Kebutuhan benih 15 – 20 kg/ha tergantung ukuran benih, semangkin kecil ukuran benih (bobot 1000 biji < 200 g) semangkin sedikit kebutuhan benih. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman / ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman / lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman / lubang. Pemupukan Nitrogen (N) berdarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. Bahan organik (pupuk kandang 1,5 – 2,0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan). Pemberian air melalui saluran-saluran dan dilakukan sesuai kebutuhan (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kering) Pengendalian gulma secara terpadu. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT) Panen dan prosesing dengan alat pemipil Berdasarkan sifatnya, komponen – komponen teknologi tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian: Teknologi untuk tujuan memecahkan masalah setempat atau spesifik lokasi, dan Teknologi untuk perbaikan cara budi daya yang efisien. Dalam penerapannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang mempunyai masalah spesifik. Ada lima komponen teknologi yang dapat diterapkan secara bersamaan (compulsory) sebagai penciri model PTT jagung, yaitu: Varietas unggul baru sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan dan keinginan petani setempat, baikjenis komposit / bersari bebas ataupun hibrida. Benih bermutu (kemurnian / bersertifikat dan daya kecambah > 95%). Diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan maksimal 2 g (bahan produk) per 1 kg benih. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman / ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman / lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman / lubang. Pemupukan Nitrogen (N) berdarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. Bahan organik (pupuk kandang 1,5 – 2,0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam untuk pemecahan masalah kesuburan tanah terutama pada lahan kering masam. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan) atau saluran distribusi air (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau) Jika kelima komponen teknologi tersebut diterapkan secara bersamaan, sumbangan terhadap pengingkatan produksi dan efisiensi produksi jagung cukup besar. Pemupukan Tanaman jagung digolongkan sebagai salah satu tanaman indikator untuk mengetahui ketersedian hara dalam tanah, oleh karena itu untuk dapat tumbuh dan berkembangnya tanaman jagung secara optimal dan relatif dibutuhkan hara yang cukup, sehingga pemupukan merupakan salah satu faktor kunci bagi keberhasilan budidaya jagung. Pemberian pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik pada dasarnya adalah guna memenuhi kebutuhan hara yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman. Untuk efisiensi pemberian pupuk maka pemupukan dilakukan secara berimbang, artinya pemberian berdasarkan kepada keseimbangan antara hara yang dibutuhkan oleh tanaman jagung berdasarkan sasaran tingkat hasil yang ingin dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah. Mengingat beragamnya kondisi kesuburan tanah antara lokasi satu dengan lainnya, maka takaran dan jenis pupuk yang diperlukan untuk lokasi-lokasi tersebut tentu akan berbeda pula. Oleh karena itu, pemupukan berimbang sering pula disebut pemupukan (atau pengolaan hara) spesifik lokasi. Pemupukan berimbang menawarkan beberapa prinsip dan perangkat untuk mengoptimalkan penggunaan hara dari sumber-sumber alami atau lokal sesuai dengan kebutuhan tanaman jagung. Sumber hara alami dapat berasal dari tanah, pupuk kandang, sisa tanaman dan air irigasi. Pupuk kimia (anorganik) pada dasarnya hanya untuk memenuhi kekurangan hara alami yang diperlukan biji sesuai dengan yang dikehendaki. Untuk itu waktu pemberian dan takaran pupuk yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan umur tanaman / stadia pertumbuhan tanaman. Gejala-gejala kekurangan unsur hara dalam tanah yang ditunjukkan oleh tanaman jagung adalah sebagai berikut : Gejala kekurangan Posphor (P) : Pinggir daun berwarna ungu-kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. Gejala nampak pada daun bagian bawah. Gejala kekurangan Nitrogen (N) : Daun berwarna kuning dari ujung daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning daun membentuk V. Gejala kekurangan Kalium (K) : Daun berwarna kuning, bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau. Gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik. Gejala nampak pada daun bagian bawah. Gejala Kekurangan Sulfur (S) : Pangkal daun berwarna kuning. Gejala nampak pada daun yang terletak dekat pucuk. Penentuan takaran pupuk (N, P, dan K) yang tepat untuk tanaman jagung dapat dilakukan melalui analisis tanah sebelum penanaman. Selain itu dapat pula dilakukan dengan menggunakan BWD (Bagan Warna Daun), seperti halnya yang biasa dilakukan pada tanaman padi. Takaran pupuk diberikan secara tepat pada waktu yang tepat, akan lebih efisiensi dibanding dengan takaran yang tepat tetapi saat pemberiannya tidak tepat. Dalam hal ini yang penting adalah porsi pemberian pupuk N pada setiap aplikasi harus seimbang / sesuai dengan stadia pertumbuhan tanaman. Penggunaan BWD pada jagung ditarapkan saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam dengan catatan pemupukan kedua diaplikasikan sesuai table tersebut diatas. Penggunaan BWD ini pada prinsipnya hanya untuk memantau keseimbangan hara yang ada dalam tanaman utamanya unsur nitrogen (N). Jika berdasarkan pemantauan daun menunjukkan unsurnitrogen kurang, maka segera dilakukan penambahan nitrogen dan sebaliknya jika telah cukup maka tidak perlu ditambahkan. Dengan demikian maka pemberian nitrogen (urea) dapat diefisiensikan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Tahapan pemantauan kebutuhan pupuk N pada tanaman jagung dengan menggunaan Bagan Warna Daun (BWD) adalah sebagai berikut : Awal pertanaman (+ 7 hari setelah tanam), tanaman dipupuk N (urea) bersamaan dengan pupuk SP36 dan KCI sesuai porsi takaran dalam tabel 2. Pada umur 28 – 30 hari dipupuk lagi sesuai porsi takaran dalam tabel 2. Pada umur 40 – 25 hari setelah tanam (tergantung umur varietas) dilakukan pemantauan warna daun menggunakan BWD. Sampel daun yang dipantau adalah daun yang telah terbuka sempurna (daun ke 3 dari atas). Pilih 20 tanam secara acak pada setiap petakan lahan (+ 1,0 ha) Lindungi daun yang akan dipantau warnanya dengan cara membelakangi matahari, sehingga daun atau alat BED tidak terkena matahari langsung agar penglihatan tidak silau. Daun diletakan di atas BWD. Bagian daun yang dipantau adalah sekitar 1/3 dari ujung daun, kemudian warna daun dibandingkan dengan warna BWD, skala yang paling sesuai dengan warna daun dicatat. BWD mempunyai nilai skala 2 – 5. Jika warna daun berada di antara skala 2 dan 3 gunakan nilai 2,5; diantara 3 dan 4 gunakan nilai 3,5 dan di antara 4 dan 5 gunakan nilai 4,5 Takaran, porsi, dan waktu pemberian pupuk anorganik Jenis Pupuk Takaran pupuk (kg/ha) Takaran Pupuk (kg/ha) 7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hst 1. Urea 200 30% 30% 40% 2. NPK Phonska 300 50% 50% - 3. Organik 300 100% - - Perlakuan II : Takaran, porsi dan waktu pemberian pupuk organik dan anorganik Jenis Pupuk Takaran pupuk (kg/ha) Takaran Pupuk (kg/ha) 7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hst 1. Urea 100 30% 30% 40% 2. NPK Phonska 150 50% 50% - 3. Organik 2.000 100% - - 4. Organik Cair 2 Lt 30% 30% 40% Jika menggunakan pupuk majemuk, takaran unsur N, P dan K disetarakan dengan pupuk tunggal. Cara aplikasi pupuk: pupuk diletakkan dalam lubang yang dibuat dengan tugal di samping tanaman dengan jarak 5 – 10 cm dari tanaman, dan ditutup dengan tanah. Cara aplikasi pupuk organik dengan disebarkan ke lahan secara merata dan sebagian sebagai penutup lubang tanam. Cara aplikasi pupuk organik cair dengan penyemprotan pada tanah. Analisa, dan valuasi Pelaksanaan Kegiatan Kajian dosis pupuk pada tanaman jagung hibrida di Kelompok Tani Sabar subur Desa Sukaraja Baru, Kecamatan Indralaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir ternyata masih banyak kelemahan dan kekurangan. Hal ini dikarenakan masih rendahnya SDM yang ada di daerah, kebanyakan petani di daerah sudah berusia tua, sedangkan yang muda-muda kebanyakan merantau ke kota-kota besar. Penggunaan pupuk organik masih terlalu rendah / sedikit atau seadanya, walaupun mereka sudah tahu dan paham tentang manfaat pupuk organik. Penggunaan pupuk organik ternyata sangat menguntungkan bagi petani karena lahan / tanah jadi subur. Karena pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap walau hanya dalam jumlah yang sedikit. Harganya murah, dapat menambah daya serap air dalam tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah juga meningkatkan bahan organik di dalam tanah. Dalam segi pipilan jagungnya, ternyata hasilnya lebih banyak dan berbobot, begitu juga daun tanaman jagungnya walau sudah dipanen maka daunnya masih berwarna agak hijau, sehingga bisa untuk pakan ternak. Walaupun penggunaan pupuk kimianya separuh dari dosis rekomendasi pabrik (pada perlakuan II). Dalam segi tanah atau lahan olahan petani sangat bermanfaat, karena tanah menjadi subur, mudah diolah dan tidak rusak. Hasil penggunaan pupuk organik selalu disosialisasikan ke masyarakat petani terutama di Kelompok Tani Sabar subur Desa Sukaraja Baru, Kecamatan Indralaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir dan masyarakat sekitarnya pada umumnya tentang manfaat dan kegunaannya. Adanya bantuan berupa subsidi pembelian pupuk organik ataupun alat-alat untuk pembuatan pupuk organik agar merangsang para petani memanfaatkannya. Perlu adanya pengurangan dosis pupuk kimia secara bertahap, dengan penambahan pupuk organik. Admin SMIPP BPP Kecamatan Indralaya Selatan Yudi Armansyah, SP