Loading...

Dukungan Inovasi Teknologi Pertanian Perkotaan

Dukungan Inovasi Teknologi Pertanian Perkotaan
Pembinaan dan penyuluhan pertanian perkotaan ternyata tidak hanya untuk masyarakat biasa saja, tapi juga untuk para narapidana yang menghuni Lapas Salemba, Jakarta Pusat. Pembinaan dan Penyuluhan Pertanian Perkotaan yang dilakukan oleh para Penyuluh Pertanian di Jakarta Pusat sudah masuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) . Hal ini terungkap ketika dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan para peneliti BPTP dalam rangka pelaksanaan pertanian perkotaan di Wilayah Jakarta Pusat. Penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh para penyuluh pertanian Jakarta Pusat bertujuan agar dapat membekali para narapidana yang akan bebas menghirup udara bebas dalam waktu dekat dengan berbagai ketrampilan pertanian. Kurang lebih ada sekitar 10 s.d 20 orang narapidana yang telah terlibat setiap sesi dalam pembinaan dengan berbagai ketrampilan bercocok tanam sayuran. Minimal ada 3 (tiga) jenis metoda penanaman yang sudah diberikan kepada para narapidana antara lain budidaya tanaman sayuran dengan system hamparan, system vertikultur dan system hydroponic. Kegiatan ini berjalan berkat kerjasama dengan fihak Lapas Salemba dengan maksud memberikan bekal ketrampilan pertanian kepada para Narapidana yang sebentar lagi akan bebas. Lahan yang digunakan dalam praktek lapangan bercocok tanam sayuran adalah lahan-lahan sekitar halaman sekeliling lapas baik yang ada di ring I, 2 dan diluar tembok lapas namun masih dalam kawasan lapas. Peningkatan ketrampilan pertanian kepada penghuni lapas di sekitar lapas dikenal dengan nama BUNDA LASEMBA Kebun Dalam Lapas Salemba. Selain dalam jangka panjang dapat mempersiapkan ketrampilan bagi narapidana yang akan bebas, paling tidak mereka memiliki tambahan pendapatan dari berjualan hasil panen sayuran yang diperolehnya. Selain dari itu para penyuluh dalam tahun ini akan melakukan kaji terap teknologi pertanian dengan bantunan para peneliti dari Balai Pengkajjian Teknologi Pertanian. (Didi Setiabudi, Penyuluh Pertanian Madya, 2016)