Loading...

EFEKTIVITAS PENDEKATAN METODOLOGI PENYULUHAN PERTANIAN MELALUI SIARAN TELEVISI

EFEKTIVITAS PENDEKATAN METODOLOGI PENYULUHAN PERTANIAN MELALUI SIARAN TELEVISI
Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, arus perkembangan media massa semakin pesat pula. Semakin banyak jenis media massa yang bermunculan seiring dengan semakin berkembangnya kebutuhan manusia akan informasi. Pada hakikatnya, media massa memiliki fungsi untuk menyampaikan informasi sebagai stimulus yang akan direspon oleh khalayak. Namun, ada hal yang lebih penting dari sekedar memberi informasi yaitu media massa harus berperan memberi pencerahan melalui pesan-pesan edukatif. McQuail (1987) menyebutkan bahwa perkembangan informasi dan komunikasi media massa semakin maju pesat, seiring media massa yang tidak hanya sebagai media hiburan semata, akan tetapi mampu memberdayakan masyarakat sebagai upaya pengembangan masyarakat. Media massa juga merupakan salah satu saluran penyampaian informasi yang berperan untuk menumbuhkan dan memperkuat dukungan berupa partisipasi di dalam proses pembangunan.Media massa memiliki karakteristik meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak, karena media massa memiliki kecepatan. Selain itu media massa dapat bergerak secara luas dan simultan, di mana informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang pada saat yang sama . Sedangkan dewasa ini televisi boleh dikatakan telah mendominasi hampir semua waktu luang setiap orang . Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan pada masyarakat Amerika ditemukan bahwa hampir setiap orang di benua itu menghabiskan waktunya antara 6-7 jam per minggu untuk menonton televisi. Televisi begitu banyak menyita perhatian tanpa mengenal usia, pekerjaan, dan pendidikan. Hal ini karena televisi memiliki sejumlah kelebihan terutama kemampuannya dalam menyatukan antara fungsi audio dan visual, ditambah dengan kemampuannya dalam memainkan warna. Penonton leluasa menentukan saluran mana yang mereka senangi. Media massa tidak hanya digunakan untuk kepentingan di bidang politik, ekonomi, hiburan, namun juga dapat digunakan sebagai saluran (media) komunikasi pada sistem penyuluhan pertanian. Komunikasi yang diterapkan dalam penyuluhan pertanian tentu memiliki model tersendiri. Komunikasi pertanian juga tidak hanya dimaksudkan untuk mengubah sikap dan perilaku yang sering ditemui pada metode penyuluhan dan model komunikasi. Soerkatawi (1988) menyebutkan bahwa dalam sejarah perkembangannya, komunikasi pertanian sering dipengaruhi dan dimonopoli oleh pihak pemberi pesan, sehingga model komunikasi pertanian yang demikian sering juga disebut dengan "model linear". Interaksi antarperorangan maupun antarkelompok menjadi faktor penting untuk menentukan keberhasilan penyampaian informasi dalam komunikasi.Menurut Wiriaatmadja (1977) metode penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai cara-cara penyampaian materi penyuluhan pertanian melalui media komunikasi oleh penyuluh kepada petani beserta keluarganya. Penggunaan metode penyuluhan harus didasarkan pada persyarat sebagai berikut: 1. sesuai dengan keadaan sasaran,2. cukup dalam jumlah dan mutu,3. tepat mengenai sasaran dan pada waktunya,4. amanat harus mudah diterima dan dimengerti,5. murah pembiayaannya.Setiap kegiatan komunikasi memerlukan media. Komunikasi pertanian juga tidak luput dari penggunaan media dalam penyampaiannya. Komunikasi pertanian ini lebih cenderung mengarah ke komunikasi massa yang erat kaitannya dengan keberadaan media massa. Semua media yang dimiliki oleh swasta maupun pemerintah, sebenarnya merupakan aparatur ideologi. Bila suatu media (terutama di negara berkembang) mengalami investasi yang tinggi seperti radio dan televisi, Televisi merupakan salah satu media massa dan alat pembantu penyuluhan pertanian yang ampuh untuk menambah jumlah sasaran yang dijangkau. Petani sebagai sasaran penyuluhan pertanian yang jumlahnya banyak dan menyebar di suatu wilayah tentu akan sulit untuk dijangkau dengan metode penyuluhan langsung karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya operasional yang tidak sedikit. Melalui media siaran televisi, kegiatan penyuluhan pertanian tidak harus selalu dihadiri secara langsung oleh penyuluh dalam kegiatan penyampaian materi penyuluhan. Dalam hal ini, tentu materi penyuluhan disisipkan pada acara hiburan yang digemari oleh petani atau bisa juga ditampilkan secara utuh sebagai materi penyuluhan pertanian.Penulis : Amaluddin SaragihSumber : 1. McQuail, Denis. 1987. Towards A Sociology of Mass Communication. London: Colliar-MacMillan.2. Wiriaatmadja, Soekandar M.A. 1977. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. Jakarta: CV Yasaguna.3. Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta: Universitas Indonesia Press.4. http://nendyrizkahalandevi.wordpress.com