Ekologi tempat tumbuh tanaman Krisan di Indonesia, sebagai berikut:1. Iklima. Cahaya, meliputi intensitas, kualitas, dan lama pencahayaannya. Tanaman Krisan memerlukan intensitas cahaya pada siang hari sekitar 32.000 lux untuk pertumbuhan yang optimal. Intensitas cahaya siang hari di dataran tinggi di Indonesia pada ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut, besarnya sebesar 50.000 lux. Upaya mengatur intensitas cahaya yang sesuai bagi tanaman Krisan diperlukan naungan, misalnya dengan paranet. Fungsi paranet, selain untuk mengurangi intensitas cahaya matahari juga dapat mengurangi suhu udara lingkungan tanaman. Sedangkan kualitas cahaya berkaitan dengan spektrum cahaya yang menunjang fotosintesis dan foto periode. Tanaman Krisan membutuhkan waktu untuk fotosintesis sekitar 14,5 jam untuk menjaga periode vegetatif. Di Indonesia mempunyai panjang hari atau lama penyinaran matahari berkisar 10-12 jam. Pertumbuhan vegetatif terutama tinggi tanaman Krisan, membutuhkan cahaya yang lebih lama daripada panjang hari normal. Oleh sebab itu, diperlukan penambahan panjang hari dengan penyinaran buatan berupa penyinaran lampu listrik (75-100 watt) atau setara dengan 75-100 lux pada malam hari (sekitar pukul 22.00 s.d 02.00 atau pukul 23.00 s.d 03.00) sekitar 4-5 jam selama satu bulan dari mulai tanam dengan pengaturan 7,5 menit terang dan 22,5 menit gelap.b. Temperatur Udara, merupakan faktor penting dalam proses pembungaan. Temperatur atau suhu udara ideal untuk pertumbuhan tanaman berkisar antara 20 - 26 0C pada siang hari dengan toleransi batas maximum 26 0C. Pada malam hari, toleransi batas minimum 17 0C dan batas maximum 30 0C. Suhu udara pada malam hari merupakan faktor penting untuk mempercepat pembentukan tunas bunga. Suhu ideal pada malam hari yang dibutuhkan berkisar antara 16-18 0C. Jika suhu turun di bawah 16 0C maka pertumbuhan tanaman menjadi cenderung lebih mendorong vegetatif sehingga tanaman tumbuh bertambah tinggi dan akan memperlambat pembungaan. Pada suhu tersebut (16 0C) akan berpengaruh terhadap warna bunga yang semakin cerah. Sebaliknya bila suhu siang terlalu tinggi, dapat mengakibatkan warna bunga kurang cerah atau pudar sehingga penampilannya tampak kusam walaupun bunganya masih segar.c. Kelembaban Udara, umumnya tanaman Krisan membutuhkan kelembaban udara yang tinggi. Kelembaban udara yang tinggi perlu diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai (lancar) di sekitar kebun. Bila kelembaban udara tinggi dengan sirkulasi udara yang jelek dapat menyebabkan mudahnya berkembang organisme pengganggu tanaman sebagai penyebab penyakit terutama jamur. Untuk pertumbuhan tanaman Krisan memerlukan kelembaban udara 70-80%. d. Curah Hujan dibutuhkan dalam budi daya Krisan di tempat terbuka tanpa naungan. Krisan lazim dilakukan di dalam naungan rumah palstik, namun ada juga petani yang membudidayakan Krisan di tempat terbuka tanpa naungan. Pada tempat terbuka, tanaman Krisan tidak tahan terhadap hujan deras atau curah hujan tinggi yang langsung menerpa tanaman karena akan menyebabkan tanaman mudah roboh, rusak dan kualitas bunganya rendah. Budidaya Krisan di daerah yang bercurah hujan tinggi, sebaiknya dilakukan di dalam bangunan rumah lindung atau rumah plastik. Bila curah hujan tinggi sepanjang bulan atau tahun, akan mengakibatkan sinar matahari berkurang dan umur panen Krisan lebih panjang. Sebaliknya bila musim terang atau kering berkepanjangan, mengakibatkan tanaman Krisan cepat berbunga. e. Ketinggian Tempat (lokasi penanaman)krisan berpengaruh dengan perubahan suhu, intensitas cahaya, dan kelembaban udara. Semakin tinggi letak lokasi budi daya dari permukaan laut, makin dingin atau makin rendah suhunya, kelembaban akan semakin tinggi dan intensitas cahaya semakin rendah serta lama penyinaran matahari cenderung lebih pendek. Tiap kenaikan 100 cm dari permukaan laut, suhu akan turun sekitar 10 C. Tanaman Krisan akan tumbuh dan berkembang, baik pada ketinggian antara 700 - 1.200 m di atas permukaan laut.2. Tanah (Media Tanam)Tanah yang ideal untuk media tumbuh tanaman Krisan adalah tanah yang bertekstur liat berpasir, subur, gembur, dan drainase yang baik, tidak mengandung hama atau penyakit ulat tanah dengan pH 5,5-6,7. Kandungan bahan organik yang tinggi dan mengandung berbagai unsur hara mineral yang dibutuhkan tanaman, juga merupakan syarat untuk media tanam yang baik. Komposisi media yang ideal ikut menentukan keadaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Diupayakan tanah dan media tanam lain dilakukan pengantian minimal 5-6 kali musim tanam untuk mempertahankan kesuburan dan mengurangi penyebaran organisme pengganggu tanaman. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan