Pada dasarnya konsep Penyuluhan terbuka untuk umum, dengan 3 subsistem utama yakni Penyedia (Peneliti), Pengguna (Petani), dan Pengalihan oleh Penyuluh. Itu sebabnya oblek penelitian harus disesuaikan dengan kebutuhan petani sesuai tingkat perkembangan usaha taninya, termasuk perbedaan dalam implikasi Penyuluhannya. Berikut disampaikan pointer ringkasan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya. 1. Kaidah Operasional Alih tehnologi Pertanian; (1). Alih teknologi pertanian kepada pengguna yang jumlahnya banyak harus melalui kegiatan penyuluhan. (2). Tingkat teknologi yang diperlukan pengguna sepadan dengan kemajuan usahataninya. (3). Tingkat teknologi untuk berbagai usahatani di Indonesia tidak seragam. (4). Metode alih teknologi ke berbagai tingkatan usahatani berbeda. 95). Individu petani sebagai pengusaha mandiri, bebas memilih teknologi yang akan ia terapkan. (6). Sistem penyuluhan massal, secara nasional, nampaknya tidak cocok lagi untuk petani abad 21.2. Sub sistem dalam Penyuluhan Pertanian; (1). Subsistem penyediaan dan akses teknologi/informasi. (2).Subsistem pengemasan dan pengalihan teknologi/informasi. (3). Subsistem target pengguna teknologi/adaptor. 3. Dalam Sistim Penyuluhan Formal; (1). Penelitian dan pengembangan teknologi/Litbang; teknologi empiris, teknologi dari pengusaha, adaptasi. (2). Pengemasan, penyediaan, dan pengalihan teknologi (penyuluhan, pelatihan, pelayanan jasa teknologi). (3). Pengadaptasi, pengguna, pengadaptor teknologi (petani)4. Segitiga Tehnologi; merupakan interaksi anatara Petani / pengguna, peneliti sebagai penghasil tehnologi dan penyuluh sebagai penyampai, dengan perincian interaksi sbb:Jalur 1: Alih teknologi + Adopsi, Jalur 2: Umpan balik. Jalur 3: Alih teknologi; Jalur 4: Evaluasi; Jalur 5: Kebutuhan teknologi; Jalur 6: Ajuan masalahkebutuhan teknologi 5.Domain Tehnologi Segitiga Teknologi; (1). Agroekologi spesifik. (2). Wilayah target masalah spesifik. (3). Wilayah regional kabupaten, propinsi. (4). Program nasional antara pusat- daerah. Yang berbeda antara domain 1s/d 4 = cakupan substansi6. Keunggulan dan keuntungan Sistim Triangle Tehnologi; (1). Inovasi teknologi bertolak dari masalah nyata di lapangan. (2). Teknologi yang disediakan efektif memecahkan masalah. (3). Teknologi dapat diintegrasikan dalam usahatani. (4). Penyuluh memilih informasi teknologi secara langsung dan sesuai masalah di lapangan. (5). Penyuluh dan petani mempunyai kepercayaan tinggi terhadap teknologi yang diterima. (6). Terbangun saling percaya (trust) antara petani - penyuluh – peneliti.7. Maksim Penyuluhan Penelitian Adopsi Tehnologi; Petani berhadapan dengan masalah; peneliti mencari teknologi untuk solusi masalah; penyuluh menyampaikan solusi (teknologi) kepada petani agar dapat diadopsi guna mengatasi masalah. 8. Tahap perkembangan Usahatani, dari segi Tujuan. (1). Subsistensi penuh 0%. (2). Subsistensi fakultatif 10-15%. (3). Prakomersial 25%. (4). Semi komersial 26-50%. (5). Komersial100%.(6).Agribisnis,Industrial100% + nilai tambah.9. Usaha tani Pra Komersial; (1). Basis Usahatani: Komoditas tidak berubah; kecukupan pangan keluarga; sisa dijual (25%).(2). Benih: Varietas yang ada di lokalita; benih asalan. (3). Teknologi: Komponen yang tersedia dilokasi; murah. (4). Pola tanam: Monokultur dan polikultur, tumpang sari. (5). Tipe usaha: Belum diperhitungkan untung- rugi. (6). Luaran berupa uang tunai: Rendah10. kebutuhan tehnologi Usahatani Prakomersial; (1). Pengenalan varietas unggul baru. (2). Peningkatan intensitas tanam dan intensifikasi teknologi. (3). Teknologi adaptif madya, modal sedang. (4). Efisiensi pengairan dan pupuk, peningkatan produktivitas. (5). Komoditas yang ditanam tersedia pasarnya. (6). Peningkatan mutu produk11.Usaha tani Komersial; (1). Pilihan komoditas merespon pasar, dapat berganti komoditas 100% produk dijual. (2). Target pasar teridentifikasi; kontrak produksi dan harga. (3). Biaya produksi, harga jual di perhitungkan. (4). Teknologi baku, menerapkan SOP. (5). Skala usaha ekonomis. (6). Mutu produk diutamakan, harga premium. (7). Pekerjaan manual diminimalisasi,Masinal. (8). Modal optimal, masukan optimal. 12. Kebutuhan Tehnologi; (1). Teknologi efisiensi produksi; produktivitas. (2). Teknologi untuk minimalisasi risiko kegagalan. (3). Teknologi untuk peningkatan mutu; sertifikasi. (4). Teknologi produksi luar musim (off- season). (5). Penanaman benih dari varietas yang sesuai permintaan pasar. (6). Teknologi pengurangan residu pestisida; kontaminasi. (7). Teknologi sesuai kebutuhan individu konsumen. (8). Teknologi untuk mengatasi masalah spesifik yang dihadapi. (9). Alih teknologi atas dasar kebutuhan individu pengguna. (10). Perbaikan terhadap SOP yang sudah ada.13. Implikasi Penyuluhan; (1). Kebutuhan teknologi beragam antar tingkat usahatani. (2). Masing-masing individu petani membutuhkan teknologi yang berbeda.(3). Produktivitas maksimal bukan selalu menjadi tujuan, tetapi keuntungan optimal. (4). Seperti pada petani hortikultura, masing-masing petani memiliki strategi usaha, untuk mendapatkan keuntungan. (5). Pada usahatani komersial, penyuluhan bersifat konsultatif. (6). Pemahaman tahap kemajuan usahatani penting sebagai landasan penyuluhan. 14. Evolusi Sistem Alih Tehnologi Penyuluhan; Menggunakan kasus padi, sistem alih teknologi/penyuluhan mengalami evolusi, sbb?1).Sistem paket teknologi/SPT secara laku atau Agricultural Technology Package/ATP. (2). Sistem Pengetahuan dan Informasi Pertanian (SPIP) atau Agricultural Knowledge and Information System (AKIS). (3). Sistem Inovasi Pertanian/SIP atau Agricultural Innovation System (AIS). (Spielman, D. J and R. Binner, 2008. World Bank Paper – 41. Washington DC. USA) 15. Kesejajaran Sistim Alih Tehnologi dengan Kemajuan Usahatani; (1). SPT/ATP: Usahatani subsisten s/d prakomersial. (2). SPIP/AKIS: Usahatani semi komersial. (3). SIP/AIS: Usahatani komersial dan Agribisnis16. Tahap I Sistim paket tehnologi 1960– 1980; (1). Alih teknologi/penyuluhan terpusat. (2). Paket teknologi seragam untuk semua daerah, (3). Alur alih teknologi: Rumusan Paket Teknologi – TOT – Pelatihan Penyuluh Lapang – Penyuluhan LAKU (4). Alih teknologi bersifat instruktif, Binaan. (5). Subsidi input produksi sebagai pendorong adopsi. (6). Tujuan utama peningkatan produksi. (7). Alih teknologi secara Top – Down. (8). Mematikan teknologi asli petani. 17. Tahap II. Sistem Pengetahuan dan imformasi Pertanian 1980 – 2000; (1).Tahap SPIP menekankan keterkaitan dan interaksi antara petani – penyuluh – peneliti, dengan pelaku agribisnis. (2). Penelitian dilakukan secara adaptif di lahan petani, untuk mendapatkan teknologi spesifik lokasi. (3). Tidak ada anjuran teknologi nasional. (4). Tujuan: peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani. (5). Petani mempunyai berbagai alternatif pilihan teknologi. (6). Alih teknologi berbasis Agroekologi – Regional. (7). Terdapat keterkaitan program kerja Penyuluh – Peneliti – Petani. (8). Alih teknologi berdasarkan prefensi petani.(9). Tukar informasi antar pelaku diutamakan. (10).Pemberdayaan petani sebagai pelaku usaha. (11). Anjuran teknologi berdasarkan kesepakatan dan pilihan petani. (12). Penyuluh berfungsi sebagai pendamping petani. 18. Tahap III. Sistim Inovasi Pertanian 200-2500; (1).Mengutamakan inovasi teknologi untuk nilai tambah. (2). Perbaikan manajemen produksi; efisiensi; mutu; ramah lingkungan. (3). Meningkatkan fungsi agribisnis melalui Supply Chain Management. (4). Pemberdayaan kelembagaan petani; perbaikan cara pemasaran; jaminan mutu; sertifikasi produk. (5). Alih teknologi berdasarkan kebutuhan individu petani. (6). Penyuluh bertindak sebagai konsultan, penasihat petani. (7). Program penyuluhan lebih sebagai pemerluas wawasan petani 19.Kesimpulan; Sistem alih teknologi berevolusi menyesuaikan dengan tingkat kemajuan usahatani dan kebutuhan penggunanya; (1). Di Indonesia tingkat kemajuan usahatani "overlapping" sehingga kebutuhan alih teknologinya juga beragam. (2),.Agar alih teknologi efektif, penyuluh harus mengetahui tingkat perkembangan usahatani/ petani target penyuluhan. (3). Metode penyuluhan LAKU secara berangsur perlu di up-grade menjadi metode konsultatif, mempertimbangkan kebutuhan individu atau kelompok petani yang homogeny.Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Sumarno 2016, Evolusi Sistim Alih Tehnologi dalam Penyuluhan Pertanian.