Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Penyakit Pasca Panen PadiGabah yang disimpan dapat terinfeksi berbagai penyakit pasca panen. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap bahan yang disimpan khususnya terhadap perkembangan jamur simpanan, diantaranya adalah: kandungan air, suhu dan lengas nisbi udara, lama penyimpanan, terdapatnya benda-benda asing dan aktivitas hama. Disamping hal tersebut di atas, ditentukan juga oleh kondisi lapang, kondisi pemanenan dan penanganan, kondisi pengangkutan maupun penyimpanannya sendiri.a. Kandungan Air. Kandungan air di atas14% akan mempercepat perkembangan jasad renik terutama jamur. Penyimpanan beras dengan kandungan air lebih dari 14% akan menyebabkan proses metabolism jasad renik dan serangan hama bertambah cepat. Batas kandungan air yang baik untuk penyimpanan gabah maupun beras diperkirakan sekitar 13,5 % dengan lengas nisbi udara 75% dan suhu 27-32°C. b. Suhu Ruang Penyimpanan. Suhu merupakan faktor penting dalam penyimpanan beras, sebab akan mempengaruhi daya simpannya. Penyimpanan pada suhu rendah lebih aman daripada pada suhu tinggi. Bila terjadi penurunan suhu selama penyimpanan maka pertumbuhan jamur akan menurun. Jamur akan tumbuh dengan cepat pada suhu antara 30-32° F atau 85-90 °F. Sebagai contoh , beberapa strain A. glaucus berkembang lambat pada suhu 35-40°F dan beberapa jenis Penicillium dapat berkembang pada suhu dibawah titik beku. Sebagian jamur gudang (simpanan) tumbuh dengan cepat pada suhu 20-40°C dengan lengas nisbi udara lebih dari 90%. Di luar garis batasnya, pertumbuhan jamur tersebut tidak mungkin terjadi . c. Lama penyimpanan. Kandungan air, suhu dan lama penyimpanan merupakan faktor yang erat hubungannya dengan pertumbuhan jamur simpanan. Agar beras terhindar dari kerusakan selama penyimpanan beras selama enam bulan atau kurang, kandungan air maksimal 13%, sedangkan untuk penyimpanan lebih dari enam bulan, kandungan air maksimal 12%. d. Tingkat serangan jamur terhadap biji. Biji yang diserang jamur pada periode sesudah panen dan sebelum disimpan, akan lebih peka terhadap serangan jamur simpanan apabila disimpan. Kerusakan akibat jamur simpanan akan berkembang dengan cepat pada suhu dan lengas nisbi udara lebih rendah dibandingkan dengan penyimpanan yang dilakukan pada saat bebas jamur. Dengan demikian maka biji-biji yang telah mengalami serangan jamur sebelum disimpan, maka jamur simpanan akan berkembang lebih cepat. e. Benda-benda asing. Benda-benda asing yang terbawa ke gudang akan menjadi media yang baik bagi pertumbuhan jamur simpanan, mengganggu sirkulasi bahan yang disimpan dan akan menjadi sumber jasad renik yang dapat merugikan. Benda asing yang berpengaruh diantaranya adalah biji tanaman lain, biji pecah, bagian dari tanaman atau serangga hama serta butir-butiran tanah yang terbawa dari lapang dan gabah hampa. Kandungan jasad renik secara umum (bekteri, ragi dan jamur) pada gabah hampa lebih tinggi bila dibandingkan dengan pada beras dan gabah. f. Kegiatan Serangga HamaSerangan hama dan tungau dapat meningkatkan kandungan air dan membawa penyebaran spora jamur ke tempat lainnya. Hasil metabolism serangga berupa CO2 dan air dibuang ke kumpulan biji yang diserangnya sehingga menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan beberapa jamur simpanan. Serangga hama, khususnya hama gudang selalu disertai dengan hama gudang (simpanan). Terutama beberapa serangga yang larvanya berkembang pada butiran biji seperti kumbang bubuk ( Sitophilus granaries L.) dapat menyebarkan spora jamur terutama Aspergillus restristus. Keadaan tersebut akan menyebabkan lingkungan terutama kandungan air yang sesuai bagi pertumbuhan jamur gudang (jamur simpanan). g. Kondisi pengangkutanSuhu, lengas nisbi udara dan sirkulasi udara sangat menentukan tingkat serangan pathogen pada saat dilakukan pengangkutan dan penyimpanan. Bahan yang disimpan akan terus melakukan respirasi setelah pemanenan dan biasanya menghasilkan panas. Suhu yang tinggi yang dihasilkan selanjutnya dapat mempercepat respirasi. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusluhtan)Sumber: Penyakit-penyakit Pasca Panen Tanaman Pangan oleh Prof. Dr Ir. SIti Rasminah Chailani.