Jagung (Zea mays L) memiliki peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional dan internasional setelah beras dan gandum. Jagung merupakan tanaman yang umumnya di tanam di wilayah dataran rendah. Untuk pengembangan jagung, penggunaan benih unggul dan bermutu tinggi menjadi salah satu upaya yang terus di kaji dan di sebarluaskan ke petani. Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategi kedua setelah padi karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Sudaryanto et al (1995) dalam Amin (2012) mengemukan bahwa masalah utama dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional yang masih lambat. Paket teknologi spesifik lokasi belum banyak tersedia, serta jaminan pasar dan harga jagung yang belum menarik bagi produsen. Peningkatan jumlah penduduk memiliki peranan penting yang melatar belakangi semakin meningkatnya permintaan akan produksi jagung, dengan jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan produksi jagung nasional yang menyebabkan dilakukannya impor bahan baku jagung. Peralihan lahan menjadi lahan non pertanian memicu semakin melemahnya produksi jagung di Indonesia saat ini. Berbagai jenis jagung telah di produksi di Indonesia untuk mendukung pemenuhan bahan baku berbahan dasar jagung. Manfaat jagung dapat berguna dalam berbagai kehidupan sebagai bahan baku pengganti beras. Berbagai kendala yang tidak dapat di hindari dalam budidaya tumbuhan jagung. Kendala tersebut mencakup hubungannya factor biotic dan abiotik yang salaing berkesinambungan satu dengan yang lain. Faktor iklim memiliki peranan penting dalam pembudidayaan tanaman jagung, terutama di Indonesia. Berdasarkan umur tanaman di bagi menjadi 3 jenis yaitu jagung berumur pendek di mana umur tanaman antara 75–90 hari, jagung berumur sedang yaitu umur tanaman 90–120 hari, dan jagung berumur panjang dengan umur tanaman lebih dari 120 hari. Maka dari itu pengetahuan tentang manajemen pertanian tanaman jagung sangat penting untuk di pelajari. Pemupukan tanaman jagung memerlukan konsentrasi di atas level S 10 ppm untuk mencukupi kebutuhan tanaman akan nutrisi yang digunakan selama fase pertumbuhan. Aplikasi pupuk dengan unsur S telah di temukan pada percobaan tes tanah, memprediksi respons tanaman terhadap aplikasi S pada tanaman tersedia terkait dengan lebih dari konsentrasi SO4–5 di atas 6-in. Berdasarkan uji kandungan tanah , dimana kondisi tanah kurang subur maka perlu dilakukan pemupukan (John et al 2011). Pengairan pada tanaman jagung memilki teknik pengairan sangat berpengaruh terhadap hasil gabah jagung dari tiga perawatan irigasi tidak signifikan berbeda. Hasil ini menunjukkan bahwa kelembapan tanah di lahan bias habis sampai 50% sebelum irigasi diterapkan tanpa secara signifikan penurunan hasil panen. Hal ini juga menunjukkan rata-rata aplikasi air musiman adalah 70, 106, dan 216 cm ha yang diberikan. Hasil ini menunjukkan bahwa kelembaban tanah memungkinkan akan habis sampai 0,5 FC sebelum memulai irigasi secara signifikan dan kelembaban tanah mengelola untuk menangkap curah hujan dapat membantu batas aplikasi irigasi (Nelson 2011). Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman jagung adalah dengan memilih system pola tanam yang tepat. System pola tanam dapat dilakukan dengan monokultur atau polikultur. Penanaman secara monokultur dirasakan kurang menguntungkan karena mempunyai resiko yang besar, baik dalam keseimbangan unsur hara yang tersedia. Sedangkan penanaman dengan tumpang sari lebih memungkinkan untuk menambah nilai ekonomis asaha tani. Tumpangsari merupakan pola tanam polikultur yang sering digunakan dalam pembudidayaan tanaman, termasuk tanaman jagung manis (Marliah et al 2010). Peningkatan produksi hasil panen jagung dapat dilakukan dengan upaya penambahan jumlah input yang salah satunya adalah pupuk. Pupuk merupakan factor penting dalam peningkatan produksi jagung. Penambahan pupuk organic pada tanaman jagung merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan produksi, yang kaitannya dengan kesuburan tanah. Armando (2009) berpendapat bahwa pemberian pupuk organic dapat memperpanjang daya serap dan simpan air, menggemburkan lapisan tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Tanah yang subur dapat menyebabkan akar tanaman dapat menembus lebih kuat dan lebih mampu menyerap hara tanaman dan air lebih banyak sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman meningkat. Jarak tanam memiliki pengaruh terhadap produksi tanaman karena jarak tanam menentukan pertumbuhan gulma, hama, dan penyakit yang akan berkompetisi dengan tanaman pokok. Jarak tanam berhubungan dengan luas atau ruang tumbuh yang ditempatinya dalam penyediaan unsure hara, air, dan cahaya. Jarak tanam yang terlalu lebar kurang efisien dalam pemanfaatan lahan, bila terlalu sempit akan terjadi persaingan yang tinggi yang mengakibatkan produktivitas rendah (Saenong et al 1999). Menurut pendapat Nurlaili (2010) bahwa penggunakan jarak tanam pada tanaman jagung di pandang perlu, karena untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang seragam, distribusi unsure hara yang merata, efektifitas penggunaan lahan, memudahkan pemeliharaan, menekan pada perkembangan hama dan penyakit juga untuk mengetahui berapa banyak benih yang di perlukan pada saat penanaman. Penggunaan jarak tanam yang terlalu rapat antara daun sesame tanaman saling menutupi akibatnya pertumbuhan tanaman akan tinggi memanjang karena bersaing dalam mendapatkan cahaya sehingga akan menghambat proses fotosintesis dan produksi tanaman tidak optimal.