Selain dikenal sebagai salah satu komoditi tanaman pangan yang bernilai gizi tinggi, kacang kedelai juga mempunyai nilai prospek pemasaran yang sangat baik. Hal ini dikarenakan kedelai memiliki banyak manfaat. Diantaranya, dapat diolah dan dijadikan bahan baku beraneka ragam kuliner, baik makanan, minuman serta sebagai penyedap penambah cita rasa. Selain itu, kedelai juga berkhasiat bagi kesehatan tubuh terutama manusia. Tidak hanya yang masih dalam pertumbuhan akan tetapi juga sangat baik untuk usia dewasa serta lanjut agar kondisi sel-sel tubuh tetap terjaga.Sedemikian dikenalnya kacang kedelai ini, konsumsi sehari-hari sebagian besar masyarakat Indonesia tidak terlepas dari pangan yang satu ini. Di pasar-pasar tradisional misalnya, kedelai biasa dijajakan dalam bentuk rebusan dengan diberi sedikit gula sehingga rasanya manis dan sangat disukai banyak orang, terutama anak-anak. Atau, kedelai yang telah diolah terlebih dahulu, seperti dibuat tempe, tahu, kecap dan tauco, bahkan diolah secara modern menjadi susu dan minuman sari kedelai.Disamping yang sudah disebutkan di atas, manfaat lain dari kacang kedelai juga banyak. Selain bijinya yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan, daun dan batangnya yang sudah agak kering pun dapat digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau. Tanah bekas ditanami kedelai pun sangat baik ditanami padi. Sebab, akar kedelai memiliki bintil-bintil akar yang dapat mengikat unsur N (nitrogen) dari udara dengan memanfaatkan aktivitas bakteri Rhizobium. Dengan demikian, akar-akar yang tertinggal pada saat dicabut, akan membusuk dan berguna bagi tanaman yang akan ditanam berikutnya.Kacang kedelai juga bisa tahan lama. Ia dapat disimpan berbulan-bulan lamanya, asal tempat penyimpanannya memenuhi syarat dan terjaga dengan baik. Misalnya saja, kondisi gudang tidak lembab, kering, sehat, bebas hama dan penyakit. Penyimpanan kacang kedelai ini dilakukan petani, biasanya untuk memperoleh hasil yang lebih baik yaitu menunggu harga lebih menguntungkan setelah panen raya dan stok sedang melimpah.Bila dibandingkan dengan produksi kedelai di Amerika yang mencapai 18 kwintal/ha, produksi kedelai yang dihasilkan para petani kedelai di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu rata-rata 6-7 kwintal/ha saja. Namun, dalam hal ini para petani kedelai kita tidak perlu berkecil hati. Sebab, dari percobaan-percobaan yang pernah dilakukan terbukti bahwa dengan menggunakan benih varietas unggul secara intensif dan mengikuti cara bercocok tanam yang sesuai ketentuan, produksi kedelai di Indonesia dapat mencapai 20 kwintal/ha. Dengan dilakukannya secara terus menerus penelitian dan percobaan seperti ini, ditambah lagi petani kedelai kita mau meninggalkan cara-cara tradisional mereka, diharapkan produksi kedelai di Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Sehingga, kebutuhan kacang kedelai dalam negeri bisa terpenuhi secara swasembada dan tidak perlu lagi tergantung pada impor dari negara lain.Namun demikian, untuk mewujudkan semua itu, kita juga perlu mengetahui faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Beberapa faktor yang menyebabkan produksi kedelai di Indonesia masih rendah diantaranya adalah : 1) Cara bercocok tanam dan pemeliharaan yang kurang intensif; 2) Mutu benih kurang baik dan daya tumbuhnya rendah; 3) Varietas lokal yang digunakan tidak mempunyai daya produksi yang tinggi; 4) Areal yang sempit sering ditanami dengan beberapa varietas kedelai yang berbeda; 5) Pencegahan hama belum intensif.Disamping hal-hal tersebut diatas, faktor curah hujan juga sangat mempengaruhi produksi kedelai. Jika pada masa pertumbuhan kedelai terlalu banyak turun hujan misalnya, hasilnya juga akan rendah. Rendahnya produksi akibat iklim ini sebenarnya dapat disiasati. Caranya, dengan memperhatikan sistem pola pergiliran tanaman dan sistem tumpang sari yang telah dipadukan menjadi multiple cropping system. Terlebih lagi dari hasil percobaan yang pernah dilakukan, ternyata frekuensi panen kedelai dapat ditingkatkan menjadi tiga kali dalam setahun. Selain itu, kedelai juga dapat ditanam bersama-sama dengan padi karena padi cocok untuk ditumpangsarikan dengan kedelai atau palawija lainnya. (Inang Sariati)Sumber :1. Firmanto, Bagus Herdy, "Praktis Bercocok Tanam Kedele Secara Intensif", Angkasa, Bandung, 2011.2. https://www.google.co.id/search?q=kedelai3. http://dspenganten.blogspot.com/2013/06/waktu-dan-cara-menanam-kedelai-serta.html