Limbah kelapa sawit dan bahan tambahan sebagai sumber bahan baku pakan sapi potong antara lain: (1) pelepah sawit, (2) solid sawit, (3) rumput raja, (4) rumput alam, (5) dedak padi, (6) urea, (7) molases/tetes tebu. Sedangkan perawatan kesehatan sapi digunakan obat cacing.Lumpur sawit/solid decanter didatangkan dari pabrik kelapa sawit yang merupakan hasil samping pabrik kelapa sawit dan tidak semua pabrik dapat menghasilkan lumpur sawit ini. Lumpur sawit ini diperoleh dengan cuma-Cuma, karena merupakan hasil samping yang hanya dibuang begitu saja di perkebunan kelapa sawit. Setelah lumpur sawit tiba di lokasi peternakan, selanjutnya ditempatkan dibawah naungan yang beratap dan ditutup menggunakan terpal agar tidak mudah berjamur.Untuk sumber seratnya dapat memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit yaitu pelepah kelapa sawit yang dikupas terlebih dahulu kulitnya selanjutnya dicacah menggunakan mesin pencacah atau chopper. Siapkan bahan tambahan sumber mineral yaitu seperti garam.Tahapan berikutnya adalah menyusun bahan-bahan baku pakan tersebut menjadi ransum yang disesuaikan dengan tujuan pemberian pakan untuk perbibitan atau penggemukan sapi potong. Dalam menyusun formula pakan harus diperhitungkan nutrisi masing-masing bahan dan jumlah pemberian pakan sejumlah 3,5% bahan kering dari berat hidup. Formulasi pakan dapat dibuat sebagai berikut:a. Formula I (F1) dengan komposisi bahan baku pakan antara lain: pelepah sawit (20%), rumput raja (20%), solid sawit (40%), bungkil inti sawit (20%) dan tambahan urea, molases, dan garam secukupnya,b. Formula II (F2) dengan komposisi bahan baku pakan antara lain: rumput raja (40%), solid sawit (60%), dan tambahan urea, molases, dan garam secukupnya,Pakan diberikan dalam bentuk segar. Untuk mendapatkan jumlah pemberian pakan sejumlah 3,5% bahan kering dari berat hidup, maka selama ?1 bulan dilakukan penyesuaian pakan atau adaptasi pakan perlakuan setiap saat setelah penimbangan ternak.Pemberian pakan dalam bentuk formula II menghasilkan pertambahan berat badan harian ternak yang lebih tinggi dibandingkan pakan pada formula I dan formula III/pola pekebun Pengamatan tidak menunjukkan adanya efek yang negatif dari pemberian solid dan pelepah, justru bulu ternak kelihatan lebih mengkilat dan bentuk badan kelihatan lebih padat. Selanjutnya warna dan bau kotoran ternak setelah pemberian pakan dari limbah sawit menjadi lebih hitam mengkilat, halus dan baunya khas bau minyak sawit. Untuk memudahkan dan mengefisiensikan teknologi pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak, perlu dibentuk kelompok atau unit pengelola pakan ternak skala kelompok. Tujuan dibentuknya unit pengelola pakan ternak ini untuk mendapatkan harga pakan yang lebih murah dibandingkan bila setiap petani ternak mengadakan bahan baku pakan ternak sendiri-sendiri. Hasil kajian menunjukkan bahwa, pemberian pakan (formula pakan F1) dengan komposisi pelepah sawit 60%, lumpur/solid sawit dan bungkil inti sawit masing-masing sebesar 18%, dan dedak padi 4% dan formula pakan (F2) dengan komposisi pelepah sawit 30%, lumpur sawit 40%, bungkil inti sawit 26% dan dedak padi 4% merupakan jenis pakan yang cukup baik untuk sapi potong, Namun dari aspek biaya, pakan F1 merupakan jenis pakan yang lebih ekonomis dibandingkan F2. Pertambahan berat badan harian rataan (average daily gain/ADG) sapi yang diberikan pakan F1 selama 6 minggu adalah sebesar 0,58 kg/ekor/hari, jumlah konsumsi pakan sebesar berkisar 8,6 kg/ekor/hari, dan tingkat konversi pakan adalah sebesar 13,92. Penyusun : Sad Hutomo PribadiSumber : Badan Litbang Pertanian BPTP Lampung