Mengapa Perlu Beras BeriodiumSebagai bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, upaya meningkatkan kandungan gizi pada beras sangat penting dilakukan. Iodium merupakan salah satu unsur penting yang dibutuhkan tubuh manusia. Dari berbagai hasil survai gizi di Indonesia, sampai saat ini Indonesia masih mengalami tiga (3) masalah malnutrisi zat gizi mikro, yaitu masalah (1) gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) yang antara lain dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretinisme; (2) anemia zat besi, yang mengakibatkan menurunnya tingkat produktivitas kerja dan ketahanan tubuh (mudah terkena infeksi); dan (3) kekurangan vitamin A yang dapat mengakibatkan terjadinya kebutaan. Setiap hari konsumsi beras seorang di Indonesia saat ini sekitar 200 gram per hari, sedangkan kebutuhan iodium untuk pertumbuhan normal pada manusia dewasa antara 120 – 150 mikron gram per hari (Antono, 1991 dalam Nugraha, 2008). Dengan demikian iodium sebagai fortifikan pada beras hanya diperlukan dalam kadar yang sangat kecil (sekitar 750 miligram per kilogram atau 0,75 ppm). Mengenal Teknik FortifikasiMenurut pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fortifikasi mengandung makna: pekerjaan memperkuat dengan benteng; pembentengan. Pengertian lain istilah fortifikasi adalah: proses, cara, perbuatan mencegah terjadinya suatu penyakit: untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di daerah itu, pemerintah akan melaksanakan -- dan distribusi garam beryodium. Fortifikasi Iodium pada BerasFortifikasi iodium dalam beras adalah penambahan iodium dalam jumlah tertentu ke dalam beras sehingga beras tersebut berfungsi sebagai sumber penyedia iodium untuk masyararakat yang mengalami kekurangan iodium. Iodium merupakan salah satu unsur mikro yang dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit di dalam tubuh, tetapi bila kekurangan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan tubuh. Akibat gangguan kekurangan iodium (GAKY) yang paling serius antara lain adalah kerusakan otak pada janin yang dapat mempengaruhi perkembangannya. Kebutuhan iodium pada orang dewasa sebanyak 150 mikron gram per hari. Saat ini fortifikasi pangan dianggap strategi yang cukup baik untuk perbaikan gizi mikro. Hasil konferensi internasional gizi di Roma Tahun 1992 dan Jordan di tahun 1996, fortifikasi pangan merupakan upaya perbaikan gizi yang dianjurkan.Pemerintah juga telah mewajibkan fortifikasi atas komoditas pangan tertentu melalui kebijakan SNI dan merupakan bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan yang cukup efektif dalam penggunaan dana. Diharapkan agar pada masa depan program fortifikasi wajib tidak terbatas pada fortifikasi wajib garam beryodium, dan tepung terigu seperti yang ada, tetapi juga raskin, minyak goreng curah, dan produk tepung lain yang nonterigu. Teknik FortifikasiDalam melakukan fortifikasi pangan, perlu memperhatikan beberapa sifat pangan pembawa, antara lain:• Pangan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat • Jumlah konsumsi cukup besar serta dalam jumlah dan waktu yang teratur• Besaran konsumsi harus sesuai dengan level fortifikasi yang dianjurkan sesuai kaidah diet sehat• Bahan pangan tersebut diproduksi massal, dan sebaiknya dilakukan secara terpusat/massal, hal ini untuk mempermudah dalam pengawasan mutu dan menekan biaya• Bahan pangan pembawa harus dapat tercampur dengan zat fortifikan (iodium) dengan mudah, dan menggunakan teknologi sederhana• Jika dibutuhkan kemasan tambahan, hendaknya pilih kemasan tersebut harus murah. Dalam pembuatan beras beriodium, pelaksanaannya sangat sederhana karena tidak perlu menggunakan peralatan khusus. Dengan penambahan alat pengkabut fortifikan iodium pada komponen alat penyosoh akan diperoleh hasil beras giling yang mengandung iodium. Fortifikan yang digunakan adalah iodat 1 ppm. Larutan fortifikan dikabutkan dengan bantuan tekanan udara 40 psi yang berasal dari kompresor, sehingga terjadi kabut fortifikan iodium. Debet fortifikan yang digunakan 4-5 l/jam tergantung pada kekeringan beras yang di fortifikasi.Hasil penelitian tahun 2006/2007 di Balai Besar Pascapanen menunjukkan bahwa fortifikan iodat dan bahan pengikat (dextrosa 0,04% dan sodium bikarbonat 0,006%) terpilih untuk pembuatan beras beriodium. Konsentrasi tersebut akan menghasilkan beras beriodium dengan konsentrasi 7,47 ppm dan bila dijadikan nasi dengan dicuci masih tertinggal iodium 2,65 ppm. Apabila beras beriodium dengan fortifikasi 1,15f ppm disimpan akan menurunkan perkembangan asam lemak bebas sehingga dapat juga dipergunakan untuk penyimpanan beras pecah kulit (brown rice) dalam wadah karung gelap/warna merah. Sumber: Drajat Martianto. 2012. Fortifikasi Pangan untuk Pencegahan dan Penanggulangan Kurang Zat Gizi Mikro: Beberapa Isyu Penting. Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia. IPBSigit Nugraha. 2008. Beras Fortifikasi Iodium. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (LIPTAN, http://www.pustaka-deptan.go.id)http://giziindah.wordpress.com/2012/05/14/manfaat-fortifikasi-iodium-pada-beras/ Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com