Loading...

Gagal Tanam Padi, Petani Wuryantoro Tanam Sorgum

Gagal Tanam Padi, Petani Wuryantoro Tanam Sorgum
Curah hujan pada akhir MT I ini sudah mulai berkurang, membuat petani ragu untuk menanam padi meski upaya percepatan telah dilakukan. Sebagian besar petani telah membuat persemaian sebelum panen, namun akhirnya persemaian gagal tertanam karena kurangnya air untuk pengolahan lahan dan diperkirakan berlanjut selama pertanaman mendatang. Berdasarkan hasil perkiraan cuaca dari BMKG khususnya untuk daerah Wuryantoro, mulai bulan Mei telah mengalami penurunan jumlah curah hujan. Hal ini yang mendasari Ana Rahmawati selaku penyuluh setempat untuk mensosialisasikan menanam tanam palawija di MT II ini. Mengganti komoditas padi menjadi shorgum, kedelai ataupun jagung guna mensiasati luasnya lahan yang terancam kekeringan jika tetap dipaksakan tanam padi. Shorgum dipilih oleh petani Wuryantoro karena tidak banyak memerlukan air selama tumbuhnya, bahkan dapat memproduksi air sendiri. Batang shorgum yang telah di potong, akan mengeluarkan air yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan shorgum dalam satu rumpun. Kebanyakan petani di Wuryantoro menanam 3-5 biji per lubang, sebagai antisipasi jika terjadi kekeringan yang parah, maka akan dipotong 2 batang untuk menghidupi 3 batang lainnya. Selain itu, tanaman yang bentuknya mirip dengan tanaman jagung ini sangat mudah dalam perawatan dan tahan hama, sehingga petani lebih memilih menanam shorgum dibandingkan tanaman palawija lainnya. Tanaman shorgum atau biasa disebut “cantel” telah dikenal sejak lama di kecamatan Wuryantoro. ”Dulu banyak yang menanam shorgum putih, namun karena disukai burung petani enggan menanam shorgum” ujar Surono, ketua kelompok tani Rahayu, Kelurahan Mojopuro. Beberapa tahun terakhir, dengan adanya shorgum merah yang lebih aman dari serangan burung, membuat petani mulai bersemangat lagi untuk menanam shorgum daripada lahan mereka “bero”. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya luas tambah tanam shorgum di kecamatan Wuryantoro dari tahun ke tahun. Tanaman shorgum pada tahun 2019 tercatat ada 60 hektar, sedangkan pada tahun 2020 ada 123 hektar. Peningkatan luas tanam tersebut selain dipicu oleh cuaca, juga karena mulai diterimanya shorgum di pengepul lokal dengan harga yang terus meningkat, dari semula hanya Rp. 1.700,- kini mencapai Rp. 4.500,- per kilo. Margiyati, salah satu petani di desa Sumberejo, Wuryantoro yang telah bertahun-tahun menanam shorgum, dengan sumringah memaparkan tidak ada ruginya menanam shorgum. “Biaya yang dibutuhkan sangat sedikit, perawatan mudah, sekali tanam bisa panen 2 kali” ujarnya. Tanaman shorgum merupakan salah satu tanaman yang dapat di ratun, dimana ketika telah panen, tanaman induk di potong dan nantinya akan tumbuh tunas-tunas baru. Keuntungan ratun ini antara lain cepat, mudah, murah serta dapat meningkatkan hasil produksi. Menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo yang akrab di panggil SYL, pada beberapa kesempatan juga mengkampanyekan Gerakan Diversifikasi Pangan sebagai upaya untuk mendorong ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. “Bukan hanya beras yang kita miliki, ada umbi-umbian, jagung, shorgum, sagu, kentang dan lainnya”, ujar SYL. Selasa 14 Juli 2020 lalu telah digelar panen bersama di desa Sumberejo, yang dihadiri oleh Sulardi, kepala desa setempat serta Tim dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri. Pada kesempatan tersebut Sutino, selaku perwakilan dari petani shorgum memaparkan tentang mudahnya budidaya shorgum, juga kesulitan petani dimasa panen raya saat ini, salah satunya yakni harga jual yang turun drastis. “Shorgum sekarang tidak laku, hanya dihargai Rp. 2.500,-“, ujarnya. Sudah menjadi rahasia umum dan tidak hanya pada komoditas shorgum hal itu terjadi. Ketika panen raya, harga komoditas pertanian secara umum akan mengalami penurunan. Hal ini yang harus menjadi pemikiran bersama untuk mengupayakan agar harga panen dapat tetap stabil. ditulis oleh : Ana Rahmawati, S.Pt (PPL Kec. Wuryantoro)