Loading...

GEJALA DAN PENULARAN PENYAKIT ASPERGILLOSIS

GEJALA DAN PENULARAN PENYAKIT ASPERGILLOSIS
Aspergillosis merupakan jenis penyakit ayam yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini disebut juga dengan Brooder pneumonia, Mycotic pneumonia, atau Pneumomycosis. Aspergillosis merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Selain menyerang sistem pernapasan, penyakit ini juga sering menyerang sistem saraf pusat Jamur yang paling umum menyebabkan infeksi pada ayam adalah Aspergillus fumigatus, Aspergillus flavus, Aspergillus niger, dan Aspergillus terreus. Aspergillosis fumigatus menghasilkan racun yang mengakibatkan perdarahan yang akut. Aspergillosis flavus menghasilkan zat yang bersifat karsinogenik dan sangat beracun, yang disebut aflatoksin. Aspergillus lainnya bersifat oportunistik pada individu dengan kelainan anatomik dari saluran pernapasan. Tak hanya ayam/unggas, jamur ini dapat menyerang sapi dan domba. Pada unggas terutama menyerang alat pernapasan, pada sapi biasanya berupa radang plasenta yang mengakibatkan keguguran. Aspergillus secara normal hidup sebagai saprofit, sporanya dapat dijumpai di udara bebas, debu, jerami, biji-bijian dan tumbuhan yang sedang mengalami pembusukan. Spora Aspergillus terdapat di udara bebas, terutama di daerah tropis, seperti di Indonesia, yang panas dan kelembaban relatif tinggi, sangat memberi kemungkinan jamur dapat hidup dan berkembang dengan subur. Spora Aspergillus sendiri turut berperan dalam penyebaran penyakit, terutama spora yang terhisap ayam melalui pernafasan. Penyebaran di dalam tubuh ayam yang terinfeksi terjadi melalui darah secara sistemik, tetapi dapat juga hanya terbatas pada satu organ saja, terutama paru-paru. Mulai dari peradangan sampai pemanahan,paru-paru berwarna hijau kekuning-kuningan. Sedangkan pada kantung udara terjadi penebalan, karena tumbuhnya jamur keputihan pada permukaannya. Di bagian membran karung udara kadang-kadang ditemukan vlak besar dan dalam jumlah yang banyak berbentuk luka yang bersatu. Pada kedua organ (paru dan kantung udara) akan tampak benjolan {nodul) keras berwarna kuning (seperti butiran kecil jagung) berdiameter 1 mm. Jaringan lainnya yang sering ditumbuhi nodul adalah daerah trachea (biasanya di bagian syrinx). Walaupun jarang terjadi, nodul tersebut dapat tumbuh juga di daerah peritoneal cavity, hati, dan otak. Bentuk aspergillosis yang terjadi pada ayam ada dua yaitu aspergillosis bersifat akut {acute aspergillosis) dan aspergillosis bersifat kronis (chronic aspergillosis). Aspergillosis bersifat akut biasanya menyerang anak ayam dan unggas lainnya yang berumur kurang dari tiga minggu. Terkadang diikuti dengan tingkat penularan dan kematian tinggi. Aspergillosis yang bersifat kronis terjadi pada pembibitan ayam dewasa. Dalam bentuk akut, aspergillosis menyebabkan anak ayam tidak mau makan sehingga menjadi kurus, kelihatan mengantuk, kadang membuka mulut karena kesulitan bernapas, bahkan mengalami kejang. Apabila cendawan menginfeksi otak, akan menimbulkan gejala kelumpuhan dan gangguan syaraf lainnya. Aspergillosis menyebabkan sayap terkulai, ayam tidak aktif, kadang-kadang, leher tampak seperti didorong ke belakang, gangguan koordinasi gerak otot, lemas, dan paralysis serta diare. Jika terjadi infeksi pada mata umumnya hanya menyerang salah satu matanya, hingga matanya tertutup oleh cairan kental berwarna kuning dan ayam tumbuh lambat. Tingkat kematian anak ayam yang terinfeksi bisa mencapai 60%. Nilai ini bisa bertambah sejalan dengan tingkat serangan penyakit tersebut. Dalam kronis, aspergillus biasanya menyerang satu atau beberapa ayam dewasa dengan gejala nafsu makan menurun, batuk, kesulitan bernapas dan ayam menjadi kurus. Warna pial dan jengger ayam penderita berubah menjadi kehitam-hitaman, suhu tubuh meninggi, nafsu makan menurun, dan ada kecenderungan ayam lebih banyak minum. Penularan penyakit Aspergillosis pada ayam dapat terjadi secara vertikal, yakni diturunkan dari induk ke anak ayam. Aspergillosis dapat menyerang anak ayam yang mulai menetas. Keadaan ini timbul akibat telur tetas yang ditetaskan sudah terinfeksi jamur dengan cara masuk melalui kerabang telur. Hal ini dapat terjadi pada Aspergillosis sistemik, sebab infeksi terjadi secara intra ovariai. Spora akan menginfeksi embrio. Telur akan tampak hijau ketika diteropong menggunakan lampu. Jika telur yang terinfeksi pecah, banvak spora yang akan keluar dari dalam telur. Spora ini akan mengontaminasi seluruh lingkungan hatchery. Akibatnya, ayam yang baru menetas akan terinfeksi parah. Penularan penyakit Aspergillosis dapat juga terjadi secara tidak langsung, yakni melalui inkubator (mesin penetas), terutama mesin penetas yang tidak terawat dengan baik. Litter yang basah dan tidak secara berkala diganti, dapat juga menjadi sarana tumbuhnya jamur. Jamur ini juga dapat tumbuh pada bambu yang digunakan sebagai jeruji. Untuk pencegahan, sebenarnya belum ada vaksin yang efektif untuk pencegahan. Hewan penderita sebaiknya diisolasi. Jika penyakit ini diketahui lebih dini, ayam dan tempat yang terinfeksi harus segera dipisahkan. Dengan perlakuan seperti ini, aspergillosis akan dapat teratasi dan tidak akan menyebar terlalu jauh. Selain itu perlu menjaga kebersihan dan sanitasi secara terus-menerus di penetasan (hatchery) dan di kandang pemeliharaan. Pakan ternak dijaga jangan sampai terkontaminasi cendawan. Perawatan dan pemberian pakan hewan untuk mempertinggi daya tahan tubuh. Membuang pakan yang berjamur dan litter yang sudah lama. Membersihkan dan mendesinfeksi peralatan produksi seperti tempat pakan dan minum. Sekam yang digunakan harus kering, bersih, dan segar.Tempat pemeliharaan ayam berumur 1 (satu) hari harus dibersihkan dan disuci hamakan, begitu pula inkubatornya. Jika perlu, ventilasi di kandang ditambah dan selalu mengontrol kelembapan agar penyebaran spora di udara terhambatPengobatan penyakit ayam yang menderita Aspergillosis, belum ada. Maka sangat dianjurkan bahwa ayam yang menderita penyakit Aspergillosis secepatnya disingkirkan dari kelompok ayam yang sehat. Hewan tersangka dan penderita aspergillosis harus diisolasi dan diobati. Tempat bekas hewan penderita didesinfeksi, dan ayam penderita sebaiknya dibakar karena dapat menjadi sumber spora. Pemusnahan sumber cendawan dan spora, dengan menggunakan antibiotika disarankan tidak melebihi jangka waktu yang ditentukan. Antisipasi penyebaran penyakit ini bisa dilakukan dengan memberikan Nystatin atau Amphotericin-B, memberikan antibiotik yang bersifat mencegah penyakit ikutan, menu hamycin dalam air minum. (Amirudin Aidin Beng, MM). Sumber : 1. Colibasillosis, Cholera dan Aspergillosis (directory.umm.ac.id, diakses 7 Mei 2016)2. Fadilah, Roni dan Agustin Polana. 2004. Aneka Penyakit pada Ayam & Cara Mengatasinya. Depok : Agromedia Pustaka (books.google.co.id, diakses 8 Mei 2016)3. IKAPI.1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Yogyakarta : Kanisius (books.google.co.id, diakses 8 Mei 2016)4. Aspergillosis (http://wiki.isikhnas.com/, diakses 8 Mei 2016)