Geliat Penyuluh Pertanian di BPP PATANGKEP TUTUI BARTIM KALTENG.Seperti yang dicontohkan oleh seorang penyuluh pertanian, Bapak Robben bersama teman-temannya di BPP PATANGKEP TUTUI BARTIM. Penyuluh di WKPP RAMANIA Balai Penyuluh Pertanian (BPP) PATANGKEP TUTUI BARTIM ini, sudah lebih dari 5 tahun menerapkan pola usaha tani organic beberapa komoditi hortikultura dan palawija seperti cabe, tomat, dan jahe merah di lahan BPP PATANGKEP TUTUI yang berlokasi di desa BENTOT. Lahan BPP PATANGKEP TUTUI awalnya bukanlah lahan yang subur, karena merupakan lahan bekas tanaman karet . Kondisi tanah di lahan tersebut, semula terlihat kering dan tandus, ini yang memicu pak Roben dan kawan kawan-kawan untuk kembali "menghidupkan" lahan itu supaya bisa dimanfaatkan sebagai areal budidaya pertanian atau lahan percontohan.Robben bukanlah type penyuluh yang mudah putus asa menghadapi kondisi yang kurang bersahabat tersebut, dia mulai berfikir keras, supaya lahan kering bekas tanaman pinus itu bisa dia manfaatkan sebagai lahan percontohan yang bisa dijadikan contoh dan tempat pebelajaran bagi petani di wilayah kerjanya. Menggunakan pupuk kimia untuk mendongkrak kesuburan tanah dengan kondisi seperti itu, tentu bukan tindakan bijak., Bisa jadi tindakan tersebut akan bisa membuat tanah menjadi subur sesaat, tapi akan kembali kering dan tandus setelah itu. Satu-satunya jalan untuk menghidupkan kembali lahan tandus itu, harus dengan pupuk organik, begitu yang terfikir oleh Robben saat itu, karena berdasarkan pengalamannya sebagai penyuluh pertanian, penggunaan pupuk organik adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kesuburan tanah.Tertu bukan perkara mudah untuk mengembalikan kesuburan tanah pada lahan BPP seluas 1/4 hektar tersebut, butuh kerja keras dan tentu saja biaya yang tidak sedikit Bisa saja mengambil cara praktis dengan membeli pupuk organik yang memang sudah banyak di jual di pasaran, tapi itu butuh biaya yang cukup besar, sementara waktu itu sama sekali tidak ada anggaran yang disediakan untuk BPP. Tapi Robben dan Karnando Rafa bukanlah penyuluh sembarangan, dengan cerdas dia mencoba memanfaatkan potensi yang ada di sekitar lokasi BPP. Banyaknya peternakan ternak ayam ras yang ada di sekitar lokasi BPP, dapat dimanfaatkan kotorannya sebagai salah satu bahan utama membuat pupuk organik. Bermodalkan karung-karung bekas, Robben dan kawan-kawan mulai mengumpulkan kotoran ternak itu kemudian dibawa ke komplek BPP, setelah dirasa cukup, kemudian dia mulai mencari bahan lainnya seperti dedak, sekam dan limbah pertanian lainnya untuk kemudian dicampur dengan limbah ternak tersebut dan diolah menjadi pupuk organik padat.Setelah merasa persediaan pupuknya memadai, Robben kemudian mulai membuka lahan untuk dijadikan lahan percontohan. Beberapa jenis bibit tanaman seperti cabe, tomat, dan jahe merah kemudian juga dia usahakan secara swadaya, dengan merogoh modal dari kantongnya sendiri dan iuran bersama teman penyuluh lainnya. Tapi ibarat pepatah "bekerja keras, bekerja iklas dan bekerja tuntas", begitu juga perjuangan berat dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Robben dan kawan-kawan.Berkat ilmu pertanian dan pengalamannya sebagai penyuluh pertanian, tahun pertama untuk mengelola BPP PATANGKEP TUTUI BARTIM, langsung menampakkan hasilnya. Dengan mengaplikasikan pupuk organik padat yang mereka buat sendiri, para penyuluh pertanian dibawah komando Robben dan Karnando sudah mampu "menyulap" lahan tandus yang selama ini hanya ditumbuhi ilalang dan tumbuhan pakis itu menjadi lahan pertanian yang subur dengan berbagai jenis tanaman yang terlihat rimbun menghijau. Ketika masa panen tiba, hasil dari usaha tani yang mereka lakukan juga tidak mengecewakan, cabe, tomat dan jahe merah adalah bukti dari hasil kerja keras mereka.(LUKMANUL CHAKIM / PP.MUDA BARTIM KALTENG)