Tanaman kubis atau kol (Brassica oleracea) selama ini dikenal sebagai tanaman budidaya yang berasal dari dataran tinggi yang berhawa sejuk. Karena itu sentra produksi utama tanaman kubis terdapat di daerah dataran tinggi seperti Brastagi, Lembang, Malang, Sukapura – Probolinggo, Dieng, dan daerah-daerah lain yang berhawa sejuk. Namun saa tini tanaman kubis sudah bias dibudidayakan di wilayah dataran rendah. Berkat adanya kultivar baru yang toleran terhadap cuaca kering dan suhu tinggi, petani di daerah dataran rendah sudah dapat membudidayakan dengan baik tanaman kubis dalam skala usahatani. Kubis merupakan tanaman sayuran yang termasuk dalam family Brassicaceae. Tanaman berbatang lunak ini digunakan sebagai bahan pangan untuk keperluan bahan masakan seperti sup, sayur lodeh, pecel, lotek, dan lain-lain atau dikonsumsi langsung sebagai lalapan bersama menu lain. Manfaat lain dapat digunakan sebagai pelengkap bahan masakan instan seperti mie, makanan ringan, dan makanan cepat saji lainnya. Di bidang kesehatan tanaman kubis dapat digunakan sebagai pencegah dan obat sariawan, penyakit beri-beri, penyakit xerophthalmia, radang syaraf, lemah otot, luka-luka pada tepi mulut, dermatitis bibir menjadi merah dan radang lidah. Kandungan niacin yang terdapat pada kubis dapat berfungsi sebagai pembentuk tulang dan gigi, serta berguna untuk mencegah penyakit palagra. Deskripsi Wilayah Usaha Tani Kubis Dataran Rendah Desa Jabungsisir adalah salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Paiton dengan posisi sekitar 4 km ke arah timur dari Kota Kraksaan, ibukota Kabupaten Probolinggo. Luas desa adalah sekitar 291,6 Ha dengan ketinggian wilayah antara 0 – 10 meter di atas permukaan laut. Karakteristik lahan berupa wilayah dengan topografi dataran. Ragam jenis tanah yang terdapat di desa Jabungsisir adalah Latosol (10 %), Regosol (5 %), Alluvial (80 %), dan Mediteran (5 %) dengan pH tanah berkisar antara 5,5 – 6 sehingga layak untuk usaha pertanian. Dari seluruh hamparan lahan yang ada seluas 187,5 Ha merupakan sawah beririgasi teknis. Pada umumnya lahan sawah di desa Jabungsisir digunakan untuk usahatani dengan pola tanam padi – tembakau – jagung atau padi – tembakau - bero. Sedangkan pola tanam untuk lahan kering adalah jagung – tembakau – beroataujagung – jagung – bero. Sebagian kecil petani mengusahakan tanaman cabe besar. Rintisan Usaha Tani dan Profil Petani Kubis Desa Jabungsisir Dalam 2 – 3 tahun terakhir ini terjadi kecenderungan baru di bidang usahatani desa Jabungsisir. Terdapat satu dua orang petani yang mulai mencoba berusahatani komoditas kubis jenis dataran rendah. Pertama adalah ABD.SALAM, Ketua Kelompok Tani NANGGER MAKMUR I dan kedua adalah SAMSUL, Anggota Kelompok Tani NANGGER MAKMUR I. Abd. Salam merintis usahatani kubis pertama kali di desa Jabungsisir. Lahan yang dikelola untuk usaha ini adalah seluas 0,15 Ha untuk penanaman pertama dengan produksi 5 ton, 0,20 Ha untuk penanaman kedua dengan produksi tak tercatat, dan 0,35 Ha untuk penanaman ketiga dengan produksi 7 ton. Harga untuk panen tanaman pertama Rp. 1.400/Kg, kedua Rp. 300/Kg, dan ketiga Rp. 700/Kg. Jenis kubis yang diusahakan adalah jenis KK Cross. Pada periode tanam yang terakhir Salam melakukan inovasi berupa perlakuan tumpang sari tanaman kubis sebagai tanaman utama dengan tanaman cabe besar. Secara teknis Abd. Salam sukses membudidayakan tanaman kubis dataran rendah sehingga dapat melakukan panen dengan produksi yang cukup tinggi. Namun dari segiu sahatani, permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya harga jual pada saat panen, termasuk panen tanaman periode terakhir. Samsul, petani anggota Kelompok Tani Nangger Makmur I mengikuti jejak rintisa nusaha Abd. Salam. Tercatat sudah 2 kali petani ini menanam kubis jenis dataran rendah pada lahan seluas 0,4 Ha. Varietas yang digunakanadalah SUMGREEN F1. Kesimpulan Petani-petani perintis usahatani kubis dataran rendah di Jabungsisir seperti Abd. Salam dan Samsul secara teknis berhasil membudidayakan tanaman kubis dataran rendah dalam skala usahatani kecil. Tantangan yang dihadapi adalah fluktuasi harga jual yang bias menimbulkan kerugian usaha. Inovasi tanam tumpang sari antara kubis dan cabe merah yang dilakukan Abd. Salam diharapkan bias mengkompensasi kerugian usahatani manakala salah satu di antara kedua komoditas yang ditanam harganya rendah atau jatuh. Oleh : Kholid Manshur, SP