GENCARKAN PERTANIAN ORGANIK, PETANI ADAKAN ANJANGKARYA Sebagai upaya memantapkan swasembada pangan khususnya padi, BP2KP Kabupaten Cilacap telah melaksanakan anjangkarya pertanian organik pada tanggal 20 Agustus 2014 yang lalu. Kegiatan diikuti 60 orang petani dari Kecamatan Kesugihan dengan tujuan anjangkarya Kelompok Tani Sri Rejeki, Desa Jenang, Kecamatan Majenang. Kelompok Tani Sri Rejeki merupakan salah satu kelompok tani yang selama beberapa musim tanam terakhir telah melaksanakan budidaya padi dengan System Rice Intensification (SRI). Kegiatan anjangkarya yang merupakan satu rangkaian dari pelatihan pertanian organik yang telah dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya bertujuan untuk menambah informasi, pengetahuan dan keterampilan tentang pertanian organik khususnya budidaya padi dengan System Rice Intensification (SRI) kepada petani peserta dan petugas pendamping. Dalam kesempatan anjangkarya tersebut, Ir.Susilan selaku Plt.Kepala BP2KP Kabupaten Cilacap menyampaikan beberapa arahan, diantaranya; petani khususnya peserta kegiatan agar dapat mempraktekan budidaya padi SRI dan membandingkannya dengan budidaya padi konvensional serta menyebarluaskan teknik/metode SRI kepada petani lainnya. "BP2KP Kabupaten Cilacap siap memfasilitasi upaya transfer teknologi/informasi pertanian organik/SRI kepada pelaku utama/usaha yang betul-betul tertarik melalui kegiatan pelatihan, demplot, anjangkarya ataupun metode penyuluhan yang lain", tambahnya. Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Ahmad Nursolih kepada peserta anjangkarya menceritakan pengalamanya, dengan budidaya padi SRI diperoleh keuntungan berupa peningkatan produksi secara bertahap, kebutuhan sarana produksi khususnya benih dan pupuk sangat sedikit, serangan OPT relatif sedikit dan mudah dikendalikan, serta cita rasa berasnya lebih enak dan sehat tentunya. Pada musim tanam yang lalu dengan SRI diperoleh produksi panen rata-rata 7,96 ton/ha GKP dengan kondisi lahan berpasir dan pengairan tadah hujan. Namun demikian disampaikan pula bahwa budidaya SRI sangat berat tantangannya, terutama tantangan sosial dari orang disekitar "Harus sabar, telaten dan tebal telinga", kata Ahmad Nursolih yang juga tokoh agama ini. Pada kesempatan anjangkarya tersebut hadir pula dan memberikan pengalamannya praktisi/pelaku pertanian organik Sukardi dari Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan. Dari hasil pertemuan petani ASEAN yang baru diikutinya beberapa waktu yang lalu, disampaikan bahwa ke depan semua produk hasil pertanian harus berstandar. Bagi produk pertanian yang berorientasi ekspor harus bersertifikasi dari lembaga sertifikasi yang diakui, termasuk untuk produk pertanian organik. Kegiatan anjangkarya yang diisi dengan kunjungan lapangan/lahan dan diskusi dengan dipandu oleh oleh Amir Minanta Penyuluh dan Praktisi SRI ini sangat hidup dan menarik. Pertanyaan demi pertanyaan tidak ada habisnya, yang berakibat alokasi waktu terpaksa molor jauh melebihi dari yang direncanakan. Selamat dan sukses selalu untuk petani organic.(Andiyanta THL-TBPP)