Kota Agung Tumur: Awal Bulan Agustus ini, petani di Kecamatan Kota Agung Timur dikejutkan atas kehadiran organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama padi. Jutaan ekor wereng batang coklat yang dikenal dengan istilah WBC hinggap di rumpunan padi. Hasil penyelusuran Penyuluh, hewan dengan nama latin Nilaparvata lugen berasal dari kecamatan tetangga yang mulai panen. Menanggapi keluhan para petani. Penyuluh Pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian Kota Agung Timur (BPP Kotim) bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan Staf Pertanian Lapangan IPDMIP melakukan pengkontrolan di persawahan kecamatan Kota Agung Timur (Kotim). Fathudin Usman, salah seorang ketua kelompok tani di desa atau Pekon Kagungan menjelaskan kepada petugas bahwa serangan hama wereng ini mendadak. “Selain menyerang tanaman padi yang sudah tanam, hama ini menyerang bibit dipersemaian,” terangan Fathudin. Dari Pekon Kagungan, tim melanjutkan pengkontrolan di Pekon Kampung Baru, Tanjung Jati, Tanjung Anom, Menggala, dan Mulang Maya. Sahimi, petani dari Pekon Tanjung Jati menunjukan padi sawahnya yang berumur 40 hari. Hamparan padinya terlihat menguning. “Kami mohon bantuan segera pak dari dinas pertanian untuk mengatasi serangan hama ini,” mohon Sahimi. Karsono selaku petugas POPT Kotim mendengar dan melihat kondisi ini langsung menghubungi pihak Dinas Pangan Dan Pertanian Kabupaten Tanggamus. “Mas Fajar tolong insektisida di dinas diambil segera ya,” ujar Karsono kepada Fajarudin, Penyuluh Pertanian Mulang Maya. Jangan tunggu lama, lanjutnya kita harus segera lakukan gerakan pengendalian massal. Di pagi yang cerah, Kamis (6/7), pukul 8.00 WIB puluhan petani nampak menunggu di persawahan Pekon Tanjung Jati. Para petani dipandu oleh Sarimin, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Tanggamus, Revmon Kesuma, Kepala UPTD Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kotim, Sertu Agung Pribadi, Babinsa Tanjung Jati dan penyuluh pertanian BPP Kotim melakukan penyemprotan massal atau gerakan pengendalian massal (gerdal). “Kita harus bijak dalam menangani hama penyakit tanaman, penggunaan pestisida adalah pilihan terakhir. Saat digunakan harus tepat sasaran, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu,” jelas Sarimin di kerumanan petani. Hal terpenting, lanjut Sarimin, keberadaan musuh alami bagi hama penyakit padi wajib dilindungi dan dilestarikan. “Capung jarum, laba laba, tawon, dan para kumbang adalah musuh alami hama padi, jangan karena penggunaan insektisida yang berlebihan, keberadaan mereka terganggu bahkan punah,” tegas beliau dengan ciri khas logat daerahnya. Pada kesempatan ini juga, Penulis sekaligus Penyuluh Pekon Tanjung Jati menjelaskan secara detail teknik penerapan refugia dengan penggunaan tanaman yang bersifat ekonomis dan ekologis. “Genjer dan kacang hijau adalah tanaman yang cepat menghasilkan bunga. Bunga yang dihasilkan terang dan cerah. Hal ini akan mengundang serangga serangga predator yang bermanfaat melindungi tanaman padi.” Terang Penulis. Tepat pukul 10. 00 WIB gerdal usai. Para petugas pertanian kembali ke BPP Kotim. Mengikuti rapat koordinasi dan latihan mingguan. Mursalin selaku Koordinator BPP Kotim mengharapkan semua penyuluh untuk meningkat pengkontrolan di persawahan wilayah binaan. “Semua berharap, cukup sampai di kecamatan kita aja migrasi hama wereng. Tidak meluas ke kecamatan lain,” harapnya. Semoga. Laporan Roni Sepriyono, SP