Jumat (19 Juni 2020) Serangan Penggerek Batang pada daerah persawahan menyebabkan kerusakan pada tanaman padi, mulai dari proses menyemai, semua siklus tumbuh padi, masa panen, hingga waktu penyimpanan di gudang. Banyak tindakan pengendalian penggerek batang yang sudah dilakukan oleh petani, tapi seringkali OPT tersebut tetap saja merajalela. Oleh karena itu dalam pengendalian Penggerek batang diperlukan strategi yang benar dan efektif. Pengendalian penggerek batang dilakukan melalui pendekatan PHT (Pengendalian Hama Terpadu), yaitu pengendalian didasarkan pada keadaan dibawah ambang batas dan tetap memperhatikan ekosistem di persawahan. Diharapkan dengan pengendalian secara sistematis tersebut, bisa menekan penggerek batang pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis. Meningkatnya luas serangan penggerek batang antara lain diakibatkan karena pola tanam petani yang menanam padi secara terus-menerus sehingga siklus OPT tidak terputus karena di lahan selalu tersedia “makanan”. Meningkatnya luas serangan penggerek batang juga dapat disebabkan oleh karena tidak adanya antisipasi berupa gerakan massal intensif pengamatan dini. Kebanyakan petani terburu waktu untuk segera tanam padi kembali dan tidak memberikan jeda waktu untuk melakukan gerakan massal secara serentak dalam mengantisipasi OPT. Untuk itu latar belakang di atas antara lain menjadi dasar gerakan pengendalian penggerek batang, Korluh Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro beserta PPL dan Bhabinsa menggerakkan Kelompok tani bersama-sama dalam pengendalian OPT penggerek batang di desa Mulyoagung, karena dirasa bahwa serangan OPT penggerek batang diwilayah tersebut semakin meningkat. Sebelum dilaksanakan gerakan di persawahan, terlebih dahulu bapak Hadi Suyono selaku Korluh Kecamatan Bojonegoro memberi sedikit pengarahan tentang perkembangan dan teknis pengendalian penggerek batang dengan menggunakan pestisida kimia dan agensi hayati. Kata Hadi Suyono,selaku Korluh Kecamatan Bojonegoro, “Serangan OPT Penggerek Batang ini dapat dengan cepatnya tersebar dikarenakan pola tanam pada wilayah persawahan yang tidak ada jeda” “Pengamatan sejak dini seharusnya sudah diterapkan oleh petani, dimana dilakukan pada saat persemaian serta penggunaan agensi hayati sejak dini dapat membantu dalam penekanan penyebaran penggerek batang” Tambah Diah Ayu Ningrum, selaku PPL Desa Mulyoagung Kegiatan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, para petani siap di samping pematang dengan membawa handsprayer. Para petani diarahkan untuk penyemprotan secara massal dan serempak dalam 1 hamparan. Mencegah adalah lebih baik daripada mengobati, begitu bunyi pepatah lamanya. Pengendalian OPT penggerek batang dengan cara menghilangkan sejumlah populasi adalah baik. Hal tersebut dilakukan ketika jumlah OPT penggerek batang sudah berada di atas ambang batas toleransi ekonomi. Artinya bila tidak dikendalikan jumlah penyebaran penggerek batang tersebut, maka akan menimbulkan kerugian materi dan kehilangan hasil produksi pertanian. Tentu hal tersebut tidak kita inginkan terjadi, maka perlu juga dilakukan tindakan pencegahan dini dengan pola tanam yang bervariasi. Melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatan musuh alami, yaitu penggunaan agensi hayati yang tidak membunuh musuh alami yang ada disawah. Cara lain yaitu mengatur pola tanam padi dengan sistem jajar legowo, yaitu memanfaatkan sinar matahari agar dapat masuk menerangi sela barisan tanaman padi. Diharapkan dengan kondisi barisan tanaman yang terbuka dan terang, OPT penggerek batang dapat dikendalikan dengan mudah. (oleh Diah Ayu Ningrum, SP - PPL Kec. Bojonegoro, Kab.Bojonegoro)