Selasa, 19 Juli 2016 pukul 06.30 pagi ratusan warga berkerumun di jalan makan Kemusuh. Mereka telah siap dengan peralatan masing-masing, membawa cangkul, kayu, sabit, bambu dan lainnya. Beberapa tengah mempersiapkan belerang yang dibungkus dengan sabut kelapa, yang lainnya mengumpulkan jerami kering. Ibu – ibu tampak semangat menyediakan minum dan makan seadanya. Tak ketinggalan anak-anak pun tak ingin ketinggalan dalam momen ini. Ramai dan semangat. Pagi itu semua penuh harapan, semoga kegiatan hari ini bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Sudah sekian tahun hama tikus menjadi masalah utama budidaya padi. Sudah kesekian kali petani harus puas hanya panen jerami. Sudah lelah petani terus berharap akan panen padi melimpah. Beberapa tahun ini bisa dihitung dengan jari berapa kali panen padi yang hasilnya memuaskan. Panen-panen lainnya mengecewakan. Bahkan beberapa kali tanam padi, tapi tidak sampai bisa panen. Gerakan pengendalian tikus dilaksanakan secara serempak di 7 lokasi bulak sawah yaitu di Kemusuh, Barongan, Ngabean, Plambongan, Tangisan, Onggojayan, dan Jambeyan. Kegiatan gerakan pengendalian hama tikus ini mendapat dukungan dan di hadiri oleh DPRD Kabupaten Sleman, Dinas Pertanian DIY, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman, UPT BP3K Wilayah III Seyegan, BPTP DIY, Komandan Kodim Sleman, Koramil Tempel, Polsek Tempel, Camat Tempel, Perangkat Desa Banyurejo, masyarakat desa Banyurejo serta Regu Pengendali Hama Tanaman (RPT) Kabupaten Sleman. Para petani telah menunggu dimasing-masing bulak. Para petugas dibagi kebeberapa lokasi tersebut. Untuk bulak Kemusuh, Barongan dan Ngabean pengendalian tikus menggunakan teknik bongkar liang tikus karena dengan menggunakan emposan dirasa kurang memuaskan. Hasil yang diperoleh sitiga lokasi tersebut sebanyak 276 ekor tikus. Sedangkan untuk bulak lainnya mengunakan alat emposan belerang saja sehingga hasil yang didapat tidak terlalu banyak. Secara keseluruhan tikus yang diperoleh sebanyak 312 ekor tikus.Sebagai bentuk dukungan dari DP2K Kabupaten Sleman telah menganggarkan imbalan untuk setiap ekor tikus yang tertangkap dihargai RP. 1000,- sehingga secara keseluruhan DP2K Kabupaten Sleman melalui Kabid. Sarana dan Prasarana memberikan Rp. 312.000,- pada Kelapa Desa Banyurejo. Dana tersebut dapat digunakan untuk kas kelompok atau untuk stimulasi kegiatan gerakan pengendalian hama selanjutnya.Petani sangat antusias untuk melaksanakan gerakan pengendalian selanjutnya. Dalam diskusi petani juga mengusulkan adanya bantuan alat pengendali tikus misalnya emposan disetiap kelompok sehingga saat membutuhkan segera dapat melaksanakan gerakan pengendalian. Cukup berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan POPT setempat. Hal lain yang diusulkan adalah besaran imbalan yag Rp. 1000,-/ekor dirasa masih kurang menarik dan petani mengharapkan jumlah imbalan yang lebih besar lagi untuk menarik minat petani mengendalikan tikus.Kepala Dinas P2K Sleman menyampaikan bahwa pengendalian tikus tidak hanya dengan gerakan gropyokan. Sering kita lupa bahwa penerapann pola tanam yang kurang tepat bisa menjadi pemicu munculnya serangan hama tikus. Maka Kepala Dinas menghimbau agar petani kembali menata dan mentaati pola tanam padi-padi-palawija untuk mengurangi serangan tikus. Selain itu sangat penting untuk mejaga sanitasi lingkungan karena kita tahu bahwa tikus menyukai tempat yanng kotor dan rimbun. Tata tanam jajar legowo juga bisa berdampak menurunkan serangan hama tikus. Hal itu karena dalam tata tanam jajar legowo terdapat ruang yang cukup untuk masuknya sinar dan sirkulasi udara sehingga kondisi pertanaman tidak lembab.