GERAKAN PENGENDALIAN OPT JAMUR AKAR PUTIH (JAP) PADA TANAMAN CENGKEH DI KECAMATAN BUSUNGBIU
Tanaman Cengkeh di Kabupaten Buleleng merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki peranan cukup besar dalam menggerakkan perekonomian di pedesaan. Luas tanaman cengkeh di Kabupaten Buleleng tahun 2015 seluas 7.754,82 Ha (49,40%) dari luas tanaman cengkeh Provinsi Bali 15.668 Ha (Dinas Statistik Kabupaten Buleleng) sedangkan luas tanaman cengkeh di Kecamatan Busungbiu pada akhir tahun 2017 seluas 2.624 Ha (33,83%) dari luas tanaman cengkeh Kabupaten Buleleng.Hasil berupa produksi bunga cengkeh kering yang diperoleh terkadang tidak sesuai dengan harapan yang di sebabkan oleh berbagai faktor seperti ; Iklim, cara budidaya, gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan lain-lain.Data luas serangan OPT khususnya JAP di Kecamatan Busungbiu akhir tahun 2017 seluas 100,65 Ha. Serangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh JAP dapat menurunkan produksi 20-40%, namun dalam pengendalian OPT tersebut di lapangan para petani cenderung untuk menggunakan Pestisida Kimiawi yang lebih mudah didapat dan praktis dalam penggunaannya namun dampak negatif yang ditimbulkan antara lain ; Resistensi (Kebal terhadap pestisida tertentu), matinya serangga yang bukan sasaran, pencemaran lingkungan , gangguan pada hewan dan manusia sering diabaikan. Melihat kondisi seperti itu dipandang perlu adanya gerakan pengendalian OPT secara terpadu dengan memilih komponen pengendalian yang kompatibel seperti ; Penggunaan benih unggul, penyebaran agensia hayati, pengendalian secara mekanis, Fisis serta pemanfaatan agensia hayati Dalam tahun 2018 ini di kecamatan Busungbiu diadakan gerakan pengendalian OPT secara terpadu dengan memanfaatkan agensia hayati berupa cendawan Trichoderma,sp. Yang bersifat antagonis terhadap jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh jamur Regidoporus,sp. dan dipadukan dengan pengendalian secara kultur teknis yaitu pemupukan dengan pupuk kompos. Gerakan Pengendalian OPT tersebut menyasar 4 (empat) kelompok Tani / Subak Abian, dengan luas 100 Ha. Adapun nama kelompok tani tersebut :1. Subak Abian Panti Buana Sari Desa Sepang Kelod seluas 25 Ha.2. Subak Abian Buana Amerta Desa Pelapuan seluas 25 Ha.3. Subak Abian Pucak Manik Merta Desa Sepang seluas 25 Ha.4. Subak Abian Buana Sari Desa Busungbiu 25 Ha.Pelaksanaan kegiatan mulai bulan April S/d Mei 2018 yang dipandu oleh petugas dari UPT. Laboratorium Perlindungan Tanaman Perkebuanan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, dan Petugas Pemandu Lapang. Dalam kegiatan tersebut kelompok tani juga mendapat bantuan seperangkat alat dan bahan untuk pembuatan perbanyakan Agensia Hayati khususnya Trichoderma sp. Penulis : I Made Raka Wijana Admin : Made Maliastra Tanggal Artikel : 13/04/2018