Kecamatan Kasiman merupakan wilayah perbatasan bagian ujung barat Kabupaten Bojonegoro dengan Propinsi Jawa Tengah. Adapun luas lahan 60 % dari 1778 ha merupakan sawah tadah hujan, lahan Tegal 1093 ha, lahan hutan 1586 ha.Produk komoditi unggulan Kecamatan Kasiman yaitu komodoti padi dan jagung, dengan produktivitas hasil panen padi rata" kecamatan 6,5 ton/ ha dan produktivitas hasil panen jagung rata" kecamatan 5,4 ton/ ha. Dan kalau di analisa setiap tahun produksi dan profotivitas setiap tahun hasilnya panennya meningkat terus.Pada tahun 2019 tanaman jagung di Kecamatan kasiman mencapai 2000 ha lebih hasilnya bagus dan harganyapun cukup menjajikan.Pada musim tanam jagung yg kedua mulai ada tanda-tanda serangan ulat grayak, petani tidak patah semangat untuk mengendalikan serangan ulat grayak pada tanaman jagung, alhamdulillah bisa panen walaupun hasil tidak sesuai yg diinginkan.Pada awal musim tanam th 2020 petani tidak patah semangat untuk menanam tanaman jagung baik di lahan sawah, tegal, maupun di lahan hutan. Petani akhir" ini merasa resah, galau, sedih, karena tanaman jagung yang telah ditanam terkena serangan ulat grayak dan ulat grayak yang menyerang tanamank jagung akhir" ini ulat grayak jejus baru, jadi masih sulit dalam pengendaliannya.Pemerintah dalam hal ini melalui dinas pertanian mengadakan gerakan pengendalian serangan ulat grayak pada tanaman jagung dilakukan oleh tim terdiri dari KORLUH Kecamatan Kasiman, POPT Kecamatan Kasiman , PPL se kecamatan Kasiman.Dalam gerakan pengendalian ini Dinas Pertanian; 1. Memberikan bantuan obat hanya sebagai stimulan, kepedulian pada petani untuk selanjutnya petani sendirilah yang harus mengadakan pengendaliannya;2. Petugas meberikan penjelasan jenis ulat grayak baru dan cara pengendaliannya;ULAT GRAYAK GENERASI BARU Spodoptera, selama ini dikalangan petani di tanah air banyak disebut dengan julukan ulat grayak, yang bagi petani jagung di Indonesia masih dianggap hama yang lumprah, maksudnya tak termasuk dalam katagori hama yang sangat mengkhawatirkan. Ulat grayak yang selama ini ada di Indonesia merupakan hama asli Indonesia yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Spodoptera litura.Namun kini, diawal tahun 2019 ini muncul spesies baru yang setelah ditelaah lebih lanjut adalah bukan hama asli dari Indonesia, yakni jenis Spodoptera frugiperda. Kalau dilihat dari berbagai referensi, Spodoptera frugiperda merupakan hama tanaman jagung yang selama ini merupakan penghuni benua Amerika bagian Tengah (yang beriklim tropis).Bila dilihat dari perkembangan penyebarannya, Spodoptera frugiperda sangatlah fantastis, berabad-abad tinggal di Amerika Tengah, secara mengejutkan pada tahun 2011 muncul di benua Afrika, tahun 2016 menyeberang ke India, tahun 2017 merambah ke Thailand, Vietnam dan diawal tahun 2019 ini masuk ke Indonesia dan saat ini baru hanya di pulau Sumatera.Serangan hama ini, muncul sejak musim tanam jagung di bulan April - Mei 2019 lalu dan sudah cukup meresahkan bagi petani jagung di Lampung. Karena telah banyak yang tanamannya hancur dan gagal berbudidaya tanaman jagung karena serangan Spodoptera frugiperda ini. Hal ini secara menyeluruh penulis temukan di Lampung, baik di Lampung Timur, Lampung Selatan dan Lampung Tengah yang ketiganya adalah sentra petani jagung di propinsi ini.Melihat cepatnya penyebaran hama ini, sangatlah dimungkinkan dalam beberapa tahun kedepan akan menyerang Jawa, Nusa Tenggara bahkan hingga Sulawesi. Sehingga ada baiknya berbagai upaya untuk menghambat perlu dilakukan, utamanya peran karantina yang perlu dioptimalkan, untuk membatasi ruang gerak penyebaran hama ini antar pulau di Indonesia.Perbedaan Spodoptera litura dengan Spodoptera frugiperda adalah pada kerakusan dalam memakan tanaman, dimana untuk ulat grayak asli Amerika Tengah ini memiliki kerakusan dalam makan tanaman hingga 10 kali lipat dibanding spesies lokal. Selama ini untuk Spodoptera litura banyak makan diwaktu malam hari saja, sedang pada siang harinya tidur dan sembunyi. Sementara Spodoptera frugiperda, selalu makan tanaman jagung di sepanjang waktu siang dan malam tak berhenti, hingga habis tanamannya dan bahkan kalau sudah habis makanannya bersifat kanibal, yakni memakan sesamanya. Mengerikan tentunya, dan melihat kerakusanya hama ini terasa seperti monster kecil bagi tanaman jagung. dokpriTanaman yang memungkinkan dimakan oleh hama ini, hasil penelitian yang telah ada dalam literature, sangat banyak yakni mencapai hingga 220 jenis tanaman tropis. Namun yang paling disukai adalah tanaman jagung, baru sasaran kemudian tanaman tebu. Tapi secara prinsip 220 jenis tanaman yang ada di daerah tropis berpeluang menjadi sasaran hama ini, sehingga bisa dibayangkan keganasannya.Sehingga kini petani jagung di Indonesia, khususnya di Sumatera harus waspada dalam menanam jagung, khususnya di umur tanaman hingga 30 hari setelah tanam. Kalau dulu menanam jagung, begitu selesai tanam dibiarkan selama dua minggu tanpa ditengok tidak masalah, maka kini dengan adanya Spodoptera frugiperda ini petani akan terkaget-kaget bila sampai 2 minggu tidak melihat tanaman jagungnya, karena bisa jadi tanamannya sudah habis di makan ulat grayak pendatang baru ini.Belum diketahui lebih jelas cara penyebaran hama ini dari Amerika Tengah, Afrika hingga Asia Tenggara ini, bisa jadi melalui udara (setelah menjadi kupu-kupu terbang kemana-mana), dan bisa juga melalui biomassa (bagian tanaman yang ada hama itu, baik dalam bentuk ulatnya maupun dalam bentuk telur yang nempel ke bagian tanaman itu) yang dibawa secara langsung secara tidak sengaja ke antar benua itu.Yang kini bisa kita lakukan pertama-tama adalah pencegahan yakni, bagi petani yang menanam jagung khususnya di area yang sudah mulai endemik seperti di Sumatera yakni khususnya di Lampung dan kabarnya hingga Kaban Jahe di Sumatera Utara. Langkah antisipasinya adalah, pada saat tanam, benih dicampur dengan insektisida sistemik, bahan aktif karbofuran bisa menjadi alternatif penggunaannya.Kemudian petani jagung kini harus selalu waspada pada serangan hama ini dengan rajin melihat tanamannya di masa pertumbuhan awal (sebelum 30 hari). Dan bila ditengarai adanya hama ini di semprot dengan insectisida sistemik dan atau kontak. Namun penggunaan yang berlebihan ini beresiko adanya resistensi atau kekebalan bagi ulat tersebut, yang bisa jadi akan menjadi masalah pada penanam jagung ditahun-tahun kedepan.Menurut penulis, yang paling aman adalah menggunakan insektisida biologi yang salah satunya seperti Turex WP. Relative lebih aman, karena isi kandungannya adalah bakteri yang bila disemprotkan dan kena ulatnya akan menjadi penyakit mematikan baginya dan bila menempel pada tanaman yang dimakan ulatnya, bakterinya pun akan masuk ketubuh ulat dan akan membunuh ulat ini dengan cepatMudah-mudahan dengan adanya perhatian dari pemerintah mengadakan gerakan pengendalian petani lebih semangat dan tidak patah semangat dalam pengelolaan tanaman jahung Oleh Durakhman, SP , korluh Kecamatan Kasiman