Loading...

GERDAL (GERAKAN PENGENDALIAN) TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer) DI KECAMATAN JETIS

GERDAL (GERAKAN PENGENDALIAN)  TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer)  DI KECAMATAN JETIS
Tikus sawah merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun. Serangan tikus sawah terjadi sejak pesemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus sawah relatif lebih sulit karena sifat biologi dan ekologinya yang berbeda dibanding hama padi lainnya. Di Kecamatan Jetis serangan hama tikus terjadi pada tanaman padi awal musim penghujan MP 2017/2018 dengan tingkat serangan sekitar 15%. Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal musim tanam, dilakukan petani secara bersama-sama dan terkoordinir dalam skala hamparan, intensif, dan berkelanjutan dengan menerapkan kombinasi teknik pengendalian yang sesuai.Untuk tikus lokal, pengendalian intensif dilakukan sebelum periode aktif perkembangbiakan tikus sawah yang bertepatan dengan stadia padi generatif.Untuk tikus migran yang berasal dari tempat lain, pengendalian intensif dilakukan sebelum tikus mencapai pertanaman di lokasi target pengendalian, dengan pemasangan LTBS memotong arah migrasi, atau fumigasi dan gropyok massal di lokasi asal tikus. Untuk wilayah endemik yang selalu terjadi serangan setiap musim tanam dilakukan pengendalian intensif berkelanjutan terutama 2 minggu sebelum dan sesudah tanam, sedangkan wilayah sporadik yang kadang-kadang terjadi serangan dilakukan monitoring intensif untuk memantau dan menekan poluasi awal. Misalnya dengan penerapan TBS tanam awal di habitat tikus seperti tepi kampung, tanggul irigasi, pematang besar, dan tanggul jalan. Untuk wilayah aman serangan tikus dilakukan monitoring dengan memperhatikan tanda-tanda keberadaan tikus, seperti jejak kaki (footprint), lubang aktif, dan gejala serangan/kerusakan tanaman. Tentunya hal ini harus melibatkan partisipasi aktif dari semua petani, kelompok tani dan para petugas pertanian.Beberapa tindakan untuk mencegah perkembangan tikus diantaranya adalah: (a) Pembersihan habitat tikus seperti tepi kampung, tanggul irigasi, tanggul jalan, pematang, dan saluran irigasi. Lebar dan tinggi pematang dibuat lebih tinggi agar tidak digunakan tikus untuk membuat lubang sarangnya. (b) Gropyok Massal dengan beragam cara tangkap tikus, penggalian & penggenangan lubang aktif, perburuan dengan senapan, penjeratan, pemukulan, penjaringan, dan lain-lain dengan melibatkan seluruh petani dalam hamparan. (c) Fumigasi/Pengemposan, fumigasi efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya dalam lubang sarang. Lubang tikus ditutup dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. (d) Rodentisida, pengumpanan juga dilakukan karena populasi tikus sangat tinggi, terutama pada saat awal tanam atau bera. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus. seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan. (Rudy Wijayanto/admin)