Di Kelurahan Padang Lambe Kecamatan Wara Barat tepatnya di kelompok tani To’Kaluku ditemukan serangan blas leher dengan luasan serangan kurang lebih 3 Ha. Usia padi saat ini adalah 70 hst. Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Awalnya penyakit ini berkembang di pertanaman padi gogo, tetapi akhir-akhir ini sudah menyebar di lahan sawah irigasi. Jamur P. grisea dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne). Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso. Mengetahui hal tersebut, Ketua Kelompok Tani To’Kaluku (Jamil) berkoordinasi dengan PPL Kelurahan Padang Lambe (Frederik Tian Subhan, SP) dan POPT_PHP (Muhammad Basir, SP, MP) akhirnya mengambil langkah untuk mengendalikan serangan penyakit blas. Tepatnya hari Kamis, 16 April 2020 di lahan pak Jamil dilakukan gerakan pengendalian penyakit blas yang melibatkan ketua kelompok tani beserta anggotanya, PPL, POPT_PHP serta fungsional penyuluh Kota Palopo bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (Irmawaty Facruddin, SP). Pengendalian menggunakan fungisida sistemik dengan bahan aktif Metil tiofanat 75%. Sebelum giat penyemprotan fungisida dilakukan, kami memberikan penyulahan singkat tentang Corona Virus Desease (COVID-19), di antaranya tetap di rumah jika tidak ada urusan mendesak di luar rumah, menjaga jarak minimal 2m, rajin cuci tangan dan memakai masker. Sehingga di akhir penyuluhan tak lupa para petani dibekali kaos tangan dan masker untuk digunakan saat penyemprotan dan senantiasa digunakan saat kerja atau berada di luar rumah. Irmawaty Fachruddin, SP (Penyuluh Pertanian Madya / IV.A)