Salah satu komoditas tanaman pangan yang terus meningkat permintaannya adalah jagung. Sebagai upaya untuk mememenuhi kebutuhan jagung yang terus meningkat, pemerintah telah menetapkan swasembada jagung secara berkelanjutan. Namun demikian masih terdapat sejumlah kendala dan masalah yang harus diselesaikan. Kendala dan masalah tersebut adalah belum teradopsinya sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) secara penuh dan utuh di kalangan petani jagung, padahal dengan penerapan Teknologi PTT akan memberikan keuntungan diantaranya dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil usahatani, menekan biaya usahatani dengan penggunaan teknologi yang tepat dan spesifik lokasi serta dapat menjaga kesehatan lingkungan. Beberapa masalah tersebut antara lain adalah : 1. Penggunaan Benih Unggul Penggunaan benih unggul merupakan kunci utama untuk peningkatan produktivitas jagung. Dalam kaitan ini pemerintah mendorong penggunaan benih jagung hibrida unggul karena memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Sampai saat ini tingkat penggunaan benih jagung hibrida masih rendah yaitu baru sekitar 56% dari total pertananaman. Tingkat penggunaan benih unggul yang masih rendah ini antara lain disebabkan harga benih jagung hibrida relative tinggi sehingga tidak terjangkau oleh sebagaian besar petani. Selain masalah harga, distribusi benih unggul jagung hibrida yang belum meluas juga menjadi kendala bagi petani untuk menanam jagung varietas unggul. 2. Pemupukan Berimbang Penerapan penggunaan pupuk berimbang juga belum sepenuhnya diterapkan oleh petani, sehingga masih menjadi kendala dalam pengembangan jagung. Saat ini sebagian besar petani belum menerapkan prinsip pemupukan sesuai rekomendasi sehingga produktivitas hasil tidak maksimal sesuai potensi. Sejumlah kendala masih dihadapi oleh petani jagung dalam kaitan dengan hal ini yaitu keterbatasan modal dan ketersediaan pupuk tepat waktu dan tepat jumlah. Terkait dengan permodalan, sebagian besar petani jagung masih menggunakan modal sendiri tanpa dukungan dari perbankan atau lembaga permodalan lainnya. Akibatnya, petani memupuk sesuai dengan kemampuan keuangannya. Sementara itu, di sejumlah daerah distribusi pupuk juga masih belum lancar sehingga sering terjadi pupuk tidak tersedia pada saat diperlukan. Kondisi di tersebut menyebabkan produktivitas jagung di tingkat petani masih rendah. 3. Pasca Panen Penanganan pasca panen sangat diperlukan mengingat hasil panen jagung mudah rusak jika tidak mendapat perlakuan pasca panen yang tepat. Sembilan jam setelah panen, jagung harus dikeringkan sampai kadar air mencapai 14-15%. Jika tidak maka jagung akan berjamur dan terkena aflatoxin. Kandungan aflatoxin yang tinggi bisa menyebabkan keracunan pada unggas yang memakannya. Namun demikian sampai saat ini mayoritas petani belum melakukan penanganan pasca panen dengan baik dan benar. Setelah pemanenan, petani umumnya hanya mengeringkan di bawah sinar matahari. Pengeringan dengan cara ini sebenarnya cukup bisa menurunkan kadar air namun sulit untuk mencapai tingkat maksimum (15%). Selain itu, jika panen dilakukan pada musim hujan pengeringan akan terkendala oleh cuaca yang kurang baik (mendung, hujan, dan lain - lain). Untuk mengatasi hal tersebut di atas seharusnya dilakukan pengeringan secara mekanis dengan menggunakan alat pengering (dryer). Namun ketersediaan dryer baik yang disediakan pemerintah maupun swasta masih sangat terbatas. Akibatnya kualitas jagung petani jarang mencapai tingkat terbaik (premium). Penanganan pasca panen yang tidak maksimal ini juga menyebabkan susut hasil akibat kerusakan jagung. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diatas diperlukan upaya peningkatan produksi, diantaranya melalui Bantuan Sosial (Bansos) Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT), yaitu kegiatan peningkatan produktivitas yang difokuskan melalui pola kawasan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir, peningkatan jumlah paket bantuan sebagai instrumen stimulan, serta dukungan pendampingan dan pengawalan. GP-PTT ini merupakan penyempurnaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2008. Melalui GP-PTT khususnya jagung petani diharapkan dalam menerapkan ilmu yang mereka peroleh saat mendapat kegiatan SL-PTT, mampu menganalisis, menyimpulkan dan menerapkan (melakukan/mengalami kembali), menghadapi dan memecahkan masalah-masalah terutama dalam hal teknik budidaya dengan mengkaji berdasarkan spesifik lokasi. Pada tahun 2015, melalui Angaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) telah dianggarkan untuk Bansos GP-PTT Jagung yang bantuannya digunakan untuk pembelian benih varietas unggul bersertifikat non subsidi, pembelian pupuk bersubsidi dan juga untuk membiayai pertemuan kelompok. Dengan demikian diharapkan melalui kegiatan GP-PTT Jagung, permasalahan penerapan teknologi PTT jagung sebagaimana diuraikan diatas yaitu tentang penggunaan benih unggul maupun penerapan pemupukan berimabang dapat teratasi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, sehingga banyak para petani menanam jagung dengan sistem kawasan melalui gerakan penerapan PTT, sehingga produksi jagung dapat meningkat serta dapat memberikan konstribusi terhadap pencapaian swasembada berkelanjutan jagung di Negara kita. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Tata cara produksi benih jagung (bersari bebas), Direktorat Perbenihan, 2014. 2) Pedoman Teknis GP-PTT Jagung 2015, Direktorat Serealia.