Loading...

Gropyokan Tikus Terpadu Menjelang MT1 2010/2011 di Kabupaten Grobogan

Gropyokan Tikus Terpadu Menjelang MT1 2010/2011 di Kabupaten Grobogan
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama padi yang dapat menimbulkan kerusakan besar pada semua stadium pertumbuhan padi dari semai hingga panen, bahkan juga di gudang penyimpanan. Tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, dan menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan pada keadaan serangan berat. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman padi tidak mampu lagi membentuk anakan baru. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Selama periode sawah bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus berkembang biak sangat cepat dengan jumlah anak rata-rata 10 ekor setiap kelahiran. Perkembangbiakan hanya terjadi pada periode padi generatif. Satu ekor tikus betina dapat menghasilkan 80 ekor tikus generasi baru dalam satu musim tanam. Musim Tanam I Kabupaten Grobogan 2010/2011 terancam dengan hama tikus. Hal ini terlihat dari laporan Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman beberapa Kecamatan di Kabupaten Grobogan yang melaporkan bahwa tikus telah menyerang komoditas tanaman palawija di Musim Kering. Hal ini memberikan sinyal bahwa populasi tikus akan mengganggu pada saat para petani menanam padi di Musim Tanam I. Oleh karena itu, penanganan dan pencegahan hama ini penting untuk dilakukan di Kabupaten Grobogan secara terpadu dan berkesinambungan. Kecamatan Tawangharjo merupakan salah satu kecamatan yang mendapatkan ancaman serangan hama tikus ini. Pada bulan Agustus dan September tahun 2010, para Petani, Penyuluh Pertanian, dan Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman secara bersama-sama melakukan gropyokan tikus secara serempak, rutin, dan berkesinambungan untuk mengamankan MT I dari serangan hama tikus. Kegiatan ini mendapatkan bantuan belerang dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Grobogan, yang mana belerang ini digunakan untuk menghasilkan fumigasi yang disemprotkan di dalam lubang tikus, sehingga tikus mudah untuk ditangkap dan dimusnahkan. Gropyokan tikus yang dilakukan di Kecamatan Tawangharjo ini menghasilkan lebih dari seribu tikus dalam sekali gropyokan di setiap kelompok petani. Hasil ini pun hampir sama dengan gropyokan tikus yang dilakukan di beberapa Kecamatan di Kabupaten Grobogan yang lainnya. Gropyokan tikus ini harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, artinya harus dilakukan di semua titik dan serempak. Oleh : Mutowal (muthowal@yahoo.com)