Produktifitas kedelai Indonesia masih rendah. Hal ini disebabkan karena benih asalan, penerapan teknologi yang tidak sesuai anjuran, teknik pengendalian OPT yang masih kurang. Semua factor tersebut sangat mempengaruhi produktifitas kedelai. Namun yang paling penting adalah gulma yang berada disela sela tanaman kedelai. Gulma adalah spesies tanaman yang masih sulit dikendalikan karena gulma mudah tumbuh tumbuh kapan saja, sehingga sulit untuk mengatasi keberadaan gulma yang menjadi pesaing tanaman kedelai.Keberadaan gulma diantara tanaman budidaya dapat menjadi penganggu karena gulma dapat menurunkan produktifitas tanaman kedelai. Besarnya tingkat kerugian akibat persaingan tanaman kedelai dan gulma sangat bervariasi tergantung pada populasi dan macam spesies gulma yang ada diantara tanaman budidaya tersebut. Gulma yang sering dijumpai di pertanaman kedelai dan termasuk katagori noxious weed (gulma berbahaya dan sangat merugikan dan sulit dikendalikan oleh herbisida maupun penyiangan manual adalah : alang-alang dan teki.Oleh karena itu gulma sangat merugikan bagi manusia karena mampu menurunkan produktifitas tanaman kedelai.Gulma adalah tanaman yang tidak dikehendaki yang tumbuh bersama tanaman kedelai yang sedang diusahakan, serta sisa-sisa tanaman sebelum pelaksanaan penangkaran benih. Tanaman-tanaman tersebut merupakan kompetitor atau pesaing dalam pemanfaatan air, zat hara tanah, sinar matahari, dan ruang di sekitar tanaman kedelai, bahkan berperan sebagai inang hama serta penyakit tertentu. Akumulasi dari tingkat persaingan oleh gulma tersebut tampak nyata di lahan. Pada tempat-tempat yang telah ditumbuhi gulma, tanaman kedelai tidak dapat tumbuh dengan baik. Menurut Soetikno S. Sastroutomo (1990) penurunan hasil akibat kompetisi gulma pada pertanaman kedelai dapat mencapai 10-50%.Ragam dan pertumbuhan gulma di setiap lahan dipengaruhi oleh keadaan, milieu dan perlakuan lahan. Gulma yang biasa tumbuh pada lahan pertanaman kedelai terdiri atas lebih dari 56 macam, meliputi jenis rerumputan, teki-tekian, dan jenis gulma berdaun lebar. Pada lahan dengan indeks pertanaman 300% atau tidak mengalami masa istirahat lama, ragam dan jumlah gulma relatif sedikit. Sebaliknya, pada lahan yang mengalami masa istirahat lama (bero), ragam dan jumlah gulma relatif banyak. Beberapa jenis gulma yang dominan pada pertanaman kedelai antara lain adalah Amaranthus sp. (bayam), Digitaria ciliaris (rumput jampang), Echinochloa colonum (rumput jejagoan), Eragrotis enioloides (rumput bebekan), Cyperus kyllingia (rumput teki), Cyperus iria (rumput jeking kunyit), Portulaka sp. (krokot), Ageratum conyzoides (wedusan), Molluge penaphylla (daun mutiara), dan Mimosa pudica (puteri malu).Pada prinsipnya, pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologis, dan khemis. Pengendalian gulma pada penangkaran benih kedelai ditekankan pada perlakukan kultur teknis dan cara mekanis. Oleh karena itu, pengolahan tanah dan perlakukan penyiangan tanaman serta roguing perlu dilakukan secara intensif.Sumber : Setiyo Pitoyo, Buku Seri Penangkaran Benih Kedelai, Jakarta 2012Penulis : Sundari (BBP2TP)E mail : sunburase@yahoo.com