Loading...

Guna Mendongkrak Produktivitas Cabai, Distanbunhut selenggarakan SL-GAP

Guna Mendongkrak Produktivitas Cabai, Distanbunhut selenggarakan SL-GAP
Dua kelompok tani di Kecamatan Bukit Kapur beruntung karena menjadi lokasi kegiatan Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SL-GAP) 2016 untuk komoditi tanaman cabai. Dua kelompok tani tersebut adalah Kelompok Tani Rawang Makmur Jaya yang berlokasi di Kelurahan Gurun Panjang dan Kelompok Tani Abdi Buana Tani di Kelurahan Bukit Kayu Kapur, Kecamatan Bukit Kapur. Kepala Seksi Hortikultura Henny Rasmiati mengatakan SL-GAP ini didanai Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kota Dumai melalui sumber dana APBD Kota Dumai. Kegiatan ini sekaligus mendukung Kota Dumai sebagai salah satu sentra kawasan pengembangan cabai yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian. Dimana untuk Kelompok Tani Rawang Makmur Jaya dan Kelompok Tani Abdi Buana Tani sendiri pada tahun ini memperoleh bantuan pengembangan cabai masing-masing seluas 3 Ha. Petani di dua kelompok tersebut selama ini sudah menekuni bercocok tanam cabai dan tanaman hortikultura lainnya. Namun produksi yang dicapai belum maksimal sehingga kelompok tersebut dipilih menjadi sekolah lapang cabai. Dipilihnya kedua kelompok tersebut dalam rangka akselerasi penerapan GAP pada hamparan tanaman cabai di dua kelompok itu maka pendekatan yang dilakukan adalah Sekolah Lapang. Diharapkan nantinya Kedua kelompok tersebut dapat melaksanakan kegiatan budidaya cabai ramah lingkungan, namun tidak mengurangi produktivitas," katanya. Prinsip Sekolah Lapang antara lain adalah peserta mengalami sendiri dengan melakukan pengamatan di lahan, peserta dapat mengungkapkan atau menggambarkan agroekosistem yang telah diamati, peserta belajar menganalisis dan berdiskusi gambaran agroekosistem tersebut. Selanjutnya peserta belajar menyimpulkan dan membuat keputusan tindakan pengelolaan yang perlu dilakukan. Keputusan tersebut diterapkan dalam lahan belajar maupun lahan usahanya sendiri. Selama kegiatan SL berlangsung diadakan pertemuan dan diskusi di masing-masing kelompok. Materi yang didiskusikan antara lain kebijakan pengembangan hortikultura, kriteria registrasi dan sertifikasi lahan, penggunaan benih dan varietas tanaman yang berkualitas, pemupukan, perlindungan tanaman, sistem pengairan, panen dan pasca panen, alsin dan mesin pertanian, pelestarian lingkungan. Sedangkan materi praktek antara lain simulasi pembuatan bedengan, sistem penanganan bibit, simulasi penanganan tanam, sistem penanganan jarak tanam, dan simulasi penanganan hama dan penyakit tanaman. Adapun sebagai fasilitator dalam sekolah lapang ini adalah Kepala Balai Penyuluh Pertanian Bukit Kapur, Segenap penyuluh pertanian, petugas pengamat hama dan kelompok tani.