[JAKARTA] Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas hasil pertanian di Indonesia adalah ketersediaan dan kecukupan pupuk anorganik. Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa seperti diketahui tempat bahan baku maupun produksi pupuk adalah negara Rusia dan Ukraina yang sedang berperang. Oleh sebab itu, Kementan mendorong para petani menggunakan pupuk organik dan hayati secara mandiri dan masif. "Sampai saat ini, untuk memenuhi ketersediaan dan kecukupan pupuk organik sangat sulit dan mahal karena beberapa bahan bakunya masih tergantung impor dari negara lain," ujar Mentan SYL. Mentan berharap melalui Genta Organik, kebutuhan pangan tetap terjaga dan berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi, penghasil devisa negara, sumber pendapatan utama rumah tangga petani dan penyedia lapangan kerja. "Gerakan ini tidak berarti meninggalkan penggunaan pupuk anorganik sepenuhnya, melainkan boleh menggunakan pupuk kimia dengan ketentuan tidak berlebihan atau menggunakan konsep pemupukan berimbang," tutur Mentan SYL. Sementara itu agenda Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 14 yang bertemakan Kompos Sapina Multifungsi Genjot Produktivitas Tanah dilaksanakan pada Jumat (14/04/2023) di AOR BPPSDMP. Pada arahan MSPP, kepala Pusat Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan sampai dengan saat ini pupuk memberikan kontribusi 15 sampai 75 persen terhadap tingkat produktivitas. Penggunaan pupuk berlebihan berakibat pemborosan dan tanaman sekuler kadar air tinggi. Gunakan pupuk secukupnya jangan berlebihan karena apabila berlebihan akan menurunkan produktivitas tanaman dan menyebabkan hama penyakit semakin meningkat. ujar Dedi Nursyamsi. Narasumber MSPP merupakan Penyuluh Pertanian Kabupaten Parigi Moutong, I Ketut Edi Sukarma pada paparan materinya menjelaskan bagaimana pembuatan pupuk kompos yang berasal dari kotoran Sapi. Bahan formulasi kompos sapina antara lain arang atau abu sekam, kotoran sapi, urine sapi, EM4, Molase, Yakult dan air sesuai dengan kebutuhan”. jelas I Ketut Edi Sukarma. Lebih lanjut I Ketut Edi Sukarma menjelaskan bahwa kompos sapina merupakan formulasi dari Kohe Sapi dan arang sekam / abu sekam di fermentasi dengan bahan dekomposer melalui aktifitas mikroba serta unsur dari urine sapi diproses selama 14 hari. Narasumber kedua MSPP yaitu Kepala Bidang Penyuluhan Dinas TPH Propinsi Sulawesi Tengah Muhammad Adam mengatakan sebagai Alternatif dalam meningkatkan kesuburan tanah dapat berupa Pembenah Tanah, Pupuk Organik Padat (POP), Pupuk Organik Cair (POC), Pestisida Nabati (PESNAB) sangat mendesak pada saat ini disaat pupuk dan pestisida kimia melambung tinggi harganya. Produk Sapina ini sudah diproduksi sejak 5 tahun terakhir dipergunakan oleh petani padi, tanaman pangan,buah-buahan serta sayuran dan tanaman perkebunan diwilayah Kecamatan Balinggi dan Sausu di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah telah teruji genjot produktivitas tanah”. jelas Muhammad Adam. Dalam mendukung Gerakan Pertanian Pro Organik (GENTA ORGANIK) dari BPPSDMP Kementan RI maka para Penyuluh Pertanian/PERHIPTANI dan Kontak Tani (KTNA, HKTI, DTI, PETANI, P4S, PERPADI) marilah kita berlomba-lomba dalam membuat formulasi pupuk organik dan mempraktekkan diwilayah kerja masing-masing (WKBPP / WKPP) atau di Kelompok Tani dan Gapoktan”. pungkas Muhammad Adam. Sebagai informasi selain Program MSPP, Kementerian Pertanian memastikan sektor pertanian tanah air akan terus maju, mandiri dan modern. Untuk itu, Kementan akan memaksimalkan semua potensi, termasuk juga program-program PHLN seperti Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). SIMURP bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Penyuluh dan Petani dalam penerapan teknologi CSA, mengurangi resiko gagal panen serta mengurangi efek gas rumah kaca dan meningkatkan pendapatan Petani di Daerah Irigasi (DI) dan Daerah Irigasi Rawa (DIR) lokasi kegiatan.hvy