Hama-Hama penting di pertanaman tebu Indonesia ; Hama yang telah diketahui terdapat di area pertanaman tebu Indonesia ada 11 jenis yang dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu (l) kelompok serangga, (2) kelompok cacing mikro, dan (3) tikus. Masing-masing jenis hama dapat terdiri dari satu atau dua species. Dengan adanya kemungkinan timbulnya hama pada tanaman, perlindungan tanaman perlu dilakukan agar modal yang telah dikeluarkan antara lain sewa lahan, biaya garap, bibit dan pupuk dapat diamankan. Dengan demikianperlindungan tanaman dapat dipandang sebagai asuransi kerugian terhadap modal kerja dalamkegiatan budidaya tanaman pertanian. Dalam melaksanakan perlindungan tanaman lebih ditekankan pada pengendalian terhadap "faktor pengganggu" yang timbu! sedemikian sehingga tidak mengakibatkan kerugian. Di samping itu sebaiknya dilaksanakan dalam waktu dini dan bersifat pencegahan, dengan menggunakan berbagai cara terpadu, meliputi areal yang luas dan waktu pengendalian yang tepat sesuai perilaku dan biologi hama yang dihadapi. Sasaran utama pengendalian hama adalah membatasi tingkat penurunan hasil yang secara ekonomis masih menguntungkan, dan tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan. Dengan demikian hasil panen tebu akibat serangan hama tersebut baik secara kualitas maupun kuantitas dapat ditekan sekecil mungkin.Penggerek pucuk :a. Daerah sebaran ; Penggerek pucuk, Tryporyza (=Scirpophaga) nivella, dapat dijumpai di daerah pertanaman tebu di Jawa, Lampung. Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Yang menjadi hama adalah bentuk larvanya yang berupa ulat. Sedang bentuk dewasanya bukan merupakan hama. Aktif dimalam hari, bertelur di bawah permukaan daun tebu no. 2 sampai no. 5 sebanyak 6 - 30 butir, bahkan sampai 80 butir. Setiap betina mampu bertelur 60 -70 butir. Daur hidupnya berkisar48- 59 hari, yaitu masa bertelur 8 -9 hari, masa ulat (larva) 32 -35 hari, dan masa kepompong 8 - 12hari (Djoenadi Samoedi, 1996).b. Gejala serangan dan kerugian ; Serangan dapat dimulai dari tunas umur 2 minggu sampai pada tanaman dewasa (dapat ditebang). Penggerek menyerang batang melalui tulang daun pupus dengan membuat lorong gerek menuju ke bagian tengah pucuk tanaman sampai ruas muda, sehingga merusak titik tumbuh dan mati. Deretan lubang gerek di tulang daun biasanya melintang helai daun. Gelendong daun menjadi kuning atau kering bila titik tumbuh mati. Lubang tempat keluar ngengat hama pada ruas yang muda. Setiap batang hanya berisi satu ekor penggerek pucuk (Irawan, 1989; DjoenadiSamoedi, 1996). Kerugian akibat kematian karena serangan penggerek pucuk yang terjadi pada 5, 4, 3, 2, dan1 bulan sebelum tebang menyebabkan kerugian gula berturut-turut 77 %, 58 %, 46 %, 24 %, dan15 % (Irawan, 1989). Hasii survei Han (1961) mengenai kerusakan tanaman tebu oleh penggerek pucuk di seluruh Jawa pada saat tebang, mencatat sekitar 50 persen batang tebu terserang dengan perkiraan kerugian gula 8,9 persen. Sedang kerugian yang terjadi di PG Gempol, Cirebon sebesar 1,210 ton/ha (Samoedi dan Boedijono, 1977). Pemantauan adanya penggerek pucuk jauh sebelum saat tebang sangat penting artinya. Cara pengendalian ; Untuk mencegah terjadinya serangan hama penggerek pucuk, pada saat menanam hendaknya menggunakan bibit yang bebas dari penggerek, dan menggunakan varietas yang tahan penggerek. Jika keadaan memerlukan pengendalian, maka dapat dilaksanakan cara mekanik dengan rogesan, pemberian Carbofuran, dan secara biologis.(i) Rogesan ; Tujuan utama rogesan adalah untuk menyelamatkan tanaman dan membunuh ulat (larvapenggerek) yang telah masuk ke dalam tanaman baik sebelum maupun sesudah merusak titik tumbuh. Perogesan dilakukan dengan pemotongan sedikit demi sedikit (kira-kira 3 cm) dimulai dari pucuk ke bawah. Setelah ulatnya terbunuh pemotongan diakhiri persis di bawah posisi ulat. Bila tampak gejala serangan, rogesan dapat dimulai sejak tebu umur 2 bulan dengan tingkat serangan antara 300 - 600 batang per hektar. Ulangan rogesan dapat dilakukan setiap dua minggu sekali, dan diakhiri sampai pelaksanaannya menjadi sulit, yaitu sewaktu tebu kira-kira berumur 6 bulan. Rogesan hendaknya dilaksanakan secara intensif, jangan sampai ada tunas terserang yang terlampaui. Rogesan yang ceroboh tidak akan bermanfaat sarna sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rogesan intensif di area PG Gempol, Cirebon, mampu menyelamatkan gula sekitar 580 kg/ha. ii) Aplikasi Carbofuran ; Penggerek pucuk sulit dikendalikan dengan cara penyemprotan insektisida, terutama karena sebagian besar masa hidupnya berada di dalam batang tebu (masa larva se!ama 32 - 35 hari). Aplikasi Carbofuran 3G yang bersifat sistemik dapat memberikan hasil yang efektif. Aplikasi dilakukan dengan 2 cara :(1) Melalui tanah ketika tebu berumur 3 dan 5 bulan, masing-masing dengan takaran 25 kg/ha; (2) Disuntikkan kepada tanaman yang terserang dengan takaran 30 butir per batang. Untuk skala luasan kecil, cara yang kedua ini cukup berhasil, namun pada skala yang luas pengontrolan operasi pemberantasan akan lebih sulit dari pada cara pertama (Boedijono W.A.dan Sri Slamet, 1977). Hasil-hasil penelitian aplikasi Carbofuran 3G pada tebu umur 3 dan 5 bulan masing-masing dengan takaran 25 kg/ha marnpu menekan serangan penggerek pucuk sampai tebu berumur 8 bulan (Djoenadi Samoedi danBoedijono W.A.,1974).Pengendalian secara biologis ; Di beberapa negara penghasil gula dengan pelepasan parasit telur, Trichogramma, dapat mencegah serangan penggerek pucuk dengan hasil yang baik. Namun penelitian di Indonesia dengan pelepasan parasit telur, yaitu Phanurus sp, parasit larva, Elasmus zehntneri, dan parasit kepornpong, lsotimajavensis di samping Trichogramma sendiri tidak rnemberikan hasil yang memuaskan. Demikian pula hasilnya dengan menggunakan parasit impor, Allorhogas sp. (Djoenadi Samoedi, 1993 dan 1996). Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.Sumber Gambar : eastresearchgmp.blogspot.com