Hasil-hasil pengamatan mengenai hama di pertanaman tebu di Indonesia terdapat di banyak penerbitan yang berlainan dengan Lembaga Penelitian Gula melaporkan adanya 10 species binatang berdarah panas, 4 species burung, 2 species kutu (aphids), 4 species nematode, dan lebih dari 100 species insekta, yang menyerang tanaman tebu. Kemudian suatu senarai menajikan 131 species insekta yang dijumpai memakan tebu. Namun demikian, hanya beberapa yang menjadi hama yang kronik, sedangkan beberapa lagi menyebabkan kerusakan sporadis, dan lain-Iainnya kurang berarti. Di India, tebu diketahui diserang oleh 125 species hama. Berdasarkan cara penyerangannya, hama tersebut dapat dikelompokkan sebagai (1) penggerek, (2) penghisap, (3) hama di bawah tanah (subterranean pests), (4) pemakan atau perontok daun, dan (5) hama bukan insekta. Di antara hama-hama tersebut, hama penggerek dipandang sebagai hama tebu yang paling berbahaya. Keberhasilan penelitian hama yang mencakup penelitian biologi dan cara pengendaliannya baik secara kimiawi, biologi maupun terpadu, telah dapat menyelamatkan sejumlah hasil gula, bahkan membangkitkan kembali perindustrian gula dunia. Berbagai hama di negara-negara penghasil gula dunia, hama-hama di setiap negara yang membudidayakan tebu tidak sama. Oleh karena itu selalu diusahakan agar tidak terjadi penyebaran atau perpindahan hama dari suatu negara ke negara atau suatu wilayah ke wilayah lainnya. Untuk menjaga masuknya hama baru, diperlukan sekali karantina yang efektif. Jawa (Indonesia) dapat disebut sebagai perintis karantina, yang telah membangun sarana dan prasarananya serta melaksanakan sesuai dengan ketentuan sejak tahun 1890. Hama yang menyerang perkebunan tebu terutama terdiri dari jenis serangga (insekta) dan tikus, serta secara sporadis dan tidak menentu jenis cacing (nematode), kera dan babi hutan. SERANGGA (INSEKTA); hama jenis serangga ini ada yang merupakan "hama" secara tidak langsung, karena sebenarnya hanya menjadi "sarana" penular (vektor) penyakit tertentu. Sebagai hama sebenarnya dapat sebagai penggerek, pemakan daun, penusuk-penghisap dan penggulung daun, serta pemakan akar. Berdasarkan taksonominya serangga hama dapat dikelompokkan sebagai (a) Homoptera, (b) Lepidoptera, (c) Coleoptera, (d) Hymenoptera, dan (e) Isoptera.Homoptera ; (i) Perkinsiella viticusis Kirk. "Belalang daun" (leafhoppers) yang dapat menularkan penyakit Fiji. Serangga ini terdapat di Hawaii, dan diketahui berasal dari Fiji, terbawa oleh kapal terbang komersial. Oleh karena itu Industri Gula di Hawaii melaksanakan penyemprotan terhadap semua kapal terbang dari landasan negara lain. Disamping itu juga memasang lampu perangkap di sekitar bandara internasional untuk mencegah datangnya serangga baru. (ii) Perkinsiella saccharida Kirk. Di Hawaii terkadang menyebabkan kerusakan kecil, demikian pula di Indonesia. Dengan penyemprotan insektisida sistemik di Indonesia dapat mengendalikan hama ini. Di Hawaii hama ini dikendalikan secara biologis dengan parasitnya, berupa suatu tungau (bug) Cyrtorhinus mWlduIus Bredd. (iii) Aphis sacchari Zehnt (kutu tebu), Sipha flava Forbes (kutu daun tebu kuning) dan Aphis maidis Fitch (kutu daun jagung). Berupa serangga kecil, penusuk-penghisap, sebagai vektor penyakit mosaik. Sebagai suatu koloni serangga ini bertempat di bawah daun. Koloni ini mengeluarkan embun madu yang menjadi media tumbuh berkembangnya jamur "fumagina". Akibat penutupan oleh jamur ini pada daun, kemudian akan menyebabkan pertumbuhan tebu menjadi kerdil. Suatu hal yang menguntungkan adalah adanya musuh alami yang dapat mengendalikan koloni serangga ini yaitu Aphidius sp, Cycloneda sanguinea, Hippodamia vergens dan Chrysopa sp. Serangga tersebut dapat dijumpai diJawa (Indonesia), Queensland. Fiji, Philipina, Forrnusa(Taiwan) dan Amerika Tengah dan Selatan. (iv) Saccharicoccus sacchari CKLL (Cockrell). Berupa tungau halus (mealy bug) merah muda (pink), tersebar di hampir semua negara pembudidaya tebu, terutama di wilayah tropika dan subtropika Amerika. Tungau dewasa berada pada batang tebu di bawah pelepah daun. Kerusakan diakibatkan oleh penghisapan cairan di buku-buku ruas yang menyebabkan daun menjadi kuning. Banyak jenis kutu lainnya sepelti Acarina dan Archinida, namun kurang penting, dan hanya sedikit yang menyerang tanaman tebu. (v) Aeneofamia sp. (Froghoppers). Terdapat di Venezuela. Meksiko, Brazilia dan Trinidad. Hama yang muda (nymph) menghisap akar muda, namun kerusakan tidak begitu berarti. Justru kerusakan pada daun yang sudah dewasa dampaknya lebih berat. Serangan pada daun akan menyebabkan terjadinya garis-garis nekrotik coklat yang dapat menyatu sehingga daun rusak dan ruas menjadi pendek (kerdil). Tanaman keprasannya akan lebih menderita. Pengendalian secara biologis jarang memberikan hasil yang efektif. Untuk pengendaliannya perlu penyemprotan 3 atau 4 kali dengan insektisida. Penyemprotan pertama dengan carbaryl 85 WP(2,9 kg dalam 281 ha·1) dengan perekat. Kemudian diikuti 2 atau 3 penyemprotan menggunakan malathion 95 WI' pada 1,41 ha-1 . Yang paling mutakhir adalah menggunakan pyrethroids. (vi) Malanapsis glomerata. Merupakan kutu perisai yang terdapat di India. Biasanya dijumpai pada batang di bawah pelepah daun, kadang-kadang menimbulkan serangan yang cukup parah. Serangan mulai terjadi bila tebu telah membentuk beberapa ruas, berangsur-angsur menyebar dan akhimyaterbentuk sisik (perisai) yang menutupi seluruh ruas-ruas batang tebu. Serangan biasanya meningkat setelah musirn hujan. Perisai yang terjadi tidak mudah dilarutkan oleh kebanyakan pelarut organik maupun anorganik, baik yang asam maupun yang alkalis. Parasit utamanya adalah Adelencyrtus sp. dan parasit sekundernya adalah Azotus sp. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.