Pengendalian hama tanaman secara terpadu (PHT) merupakan program nasional untuk menciptakan landasan bagi pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan, untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan lingkungan hidup.Untuk mewujudkan semua ini, perlu dilakukan pengamatan terhadap serangan hama yang menyerang tanaman (misalnya tanaman jagung). Dengan deteksi dini di lapangan, hama jagung dapat segera dianalisa untuk kemudian ditentukan langkah-langkah pengendaliannya.Kegiatan pengendalian hama pada tanaman jagung dilakukan agar tanaman jagung tidak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya mengganggu hasil produksinya.Pengendalian terhadap hama dan penyakit dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu: secara tradisional maupun secara modern yang sering menggunakan bahan kimia. Hama yang menyerang tanaman jagung biasanya adalah ulat tanah, belalang, kumbang bubuk, lalat bibit, ulat grayak, penggerek tongkol, penggerek batang, serta kutu daun, dan lainnya. Berikut ini akan diuraikan 3 jenis hama yaitu Lalat Bibit, Ulat grayak dan Penggerek Tongkol dan cara pengendaliannya sbb: Lalat Bibit (Nama Ilmiah : Atherigona sp.) Hama Lalat (Atherigona exigua S) berwarna abu-abu berukuran 0,3-0,5 mm. Hama ini meletakkan telurnya yang berwarna putih dibawah permukaan daun. Setelah beberapa hari, telur menetas menjadi larva lalu memakan daun, pangkal daun, pangkal batang. Serangan larva lalat menyebabkan munculnya lubang-lubang diseluruh tanaman. Jika serangannya hebat, batang akan patah sebab pangkalnya habis dimakan. Gejala yang dialami tanaman jagung adalah ada bekas gigitan pada daun, pucuk daun layu, dan akhirnya tanaman jagung mati. Pencegahan hama lalat antara lain dengan melakukan penanaman secara serempak, Memakai benih varietas yang tahan hama ini, memasang mulsa jerami diatas bedengan, dan selalu menjaga kebersihan bedengan gulma.Pengendalian secara kimia dengan menyemprotkan insektisida seperti buldok 25 EC, Supracide 40 EC dengan dosis sebanyak 2cc tiap liter air dengan volume semprotan 100 liter tiap hektar lahan jagung atau dengan menghembuskan HCH 5% pada saat berumur 5 hari Ulat Grayak (Nama Ilmiah : Spodoptera sp.)Ulat grayak(Spodoptera litura) menyerang daun. Dalam skala besar, ulat grayak akan menghabiskan seluruh daun dan hanya menyisakan tulangnya. Penyebabnya :Ngengat berwarna coklat, aktif di malam hari. Telurnya berwarna putih sampai kekuningan, berkelompok. Tiap ekor bisa bertelur 400 butir, periode telur 5 hari. Larva aktif dimalam hari, umur larva 31 hari, stadium kepompong 8 hari. Gejalanya: Daun berlubang-lubang atau tinggal tulang daunnya. Komponen pengendaliannya meliputi : 1) Pergiliran tanaman, 2) Tanam serempak, 3) Sanitasi inang liar, 4) Penyemprotan dengan insektisida : monokrotofos, klorpirifos, diazifos, sianofenfos, dan karboril dosis 2 cc/l, 5) Aplikasi parasitoid, Trichogramma evanescens.Pencegahan ulat grayak dilakukan dengan merotasi tanaman dan menjaga kebersihan lahan untuk menekan perkembangannya. Pengendalian dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril seperti Arrivo 30 EC,Atabron 50 EC, atau Dursban 20 EC dengan dosis sesuai dengan aturan dikemasan.Pengendalian: Pengolahan tanah yang intensif, mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkan, pembakaran tanaman, penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.Kalau pengendalian hayati dengan pemanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus), Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp. Penggerek Tongkol (Nama Ilmiah : Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.) Hama ini meletakkan telurnya yang berwarna putih di daun dan dirambut tongkol. Setelah menetas,telur akan berubah menjadi larva berwarna kuning dengan kepala berwarna hitam. Larva inilah yang akan menyerang tongkol buah dan menyebabkan kebusukan. Pencegahan hama ini dilakukan dengan mengambil dan memusnahkan satu persatu. Jika serangannya hebat, pengendaliannya dilakukan dengan penyem protan insektisida seperti matador,Thiodan, atau Curancron dengan dosis sesuai aturan kemasan. Gejalanya dapat dilihat dengan adanya bekas gigitan pada biji dan adanya terowongan dalam tongkol jagung. Ulat tongkol menyerang/masuk dalam tanaman jagung melalui tongkol, baru memakan biji jagung.Pengendalian kimiawi : Penyemprotan dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.Pengendalian dengan penyemprotan menggunakan Furadan 3G atau dengan membuat lubang dekat tanaman, diberi insektisida dan ditutup lagi. Dosis yang digunakan 10 gram tiap meter persegi. Sebaiknya dilakukan pada saat tanaman jagung masih berbunga, tetapi jangan menjelang panen, sebab dapat membahayakan kita yang ikut mengkonsumsi jagung karena residu dari insektisida tersebut.Demikian semoga dapat membantu dalam melakukan pengendalian hama Lalat Bibit, Ulat Grayak dan Penggerek Tongkol pada Jagung. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber:1. Petunjuk Peningkatan Produktivitas Pengembangan Jagung , Direktorat Budidaya Serealian, Ditjentan 20062. http://bbppbinuang.info/news56-hama-dan-penyakit-pada-tanaman-jagung-dan-cara-pengendaliannya.html3. http://www.tanijogonegoro.com/2013/03/hama-penyakit-tanaman-jagung.html