Catatan-catatan yang paling awal mengenai nematode yang menyerang tanaman tebu berasal dari Jawa (Indonesia). Di Jawa ditemukan nematoda umbi-akar (root-knot) yang dikenal sebagai Meloidogyne. Kemudian selanjutna ditemukan nematode jejas (lesion) yang disebut Praty-lenchus. Kedua nematoda itu berada di akar tanaman tebu. Selanjutnya pada seperempat bagian awal abad dua puluhan, penelitian mengenai nematoda sebagian besar dikerjakan oleh para peneliti di Hawaii, dan hanya sebahagian kecil saja di Australia dan Louisiana.Setelah selesainya Perang Dunia II, penelitian mengenai nematode di Indonesia (khususnya di Jawa) telah dimulai pada 1970-an, dan berbagai catatan mengenai nematoda pada tanaman tebu telah diterbitkan. Beberapa species nematode yang dahulu belum tercatat telah ditemukan, yaitu Aphelenchus, Tylenchus, Hemicriconemoides, Hirschmaniella. Ditylenchus, Dorylaimus, dan Aphelenchides dan berbagai tipe tanah di beberapa area pabrik gula di Jawa. Untuk pengendaliannya telah dilakukan percobaan dengan fumigasi maupun dengan menggunakan nematisida. Cacing mikro (nematode), kantong cacing betina melekat atau seluruhnya berada di dalam jaringan akar sehingga terbentuk benjolan (umbi) dekat ujung akar. Pengendaliannya dengan cara fumigasi. a. Species nematode yang berasosiasi dengan tebu. Nematode parasit tanaman termasuk dalam dua golongan (order) pada kelompok (class) Nematodea, yaitu Tylenchida dan Dorylaimida. Kebanyakan nematode yang menjadi parasit masuk ke dalam golongan Tylenchida. Kedua golongan tersebut berciri mempunyai suatu stilet berlobang atau jarum (spear) untuk menghisap cairan tanaman. Sebagai pengecualian adalah Trichodorus yang termasuk kelompok Dorylaimida, yang mempunyai suatu gigi menyerupai jarum yang digunakan untuk menusuk sel epidermis tanaman inangnya.Ditinjau dari asosiasinya dengan tanaman inangnya, nematode parasit dikelompokkan menjadi dua, yaitu ektoparasit dan endoparasit. Nematode ektoparasit meletakkan telornya di tanah atau di sekitar daerah perakaran tanaman inang yang akan memberi makanan pada larva yang baru keluar dari telur. Sedangkan nematode endoparasit umumnya meletakkan telurnya di dalam jaringan perakaran tanaman inang, sehingga larva dari telur memperoleh makanan langsung di dalam jaringan. Beberapa nematode parasit, sesuai dengan perilaku dan kekariban asosiasinya dengan perakaran tanamanb. Populasi nematode. Populasi nematode bergantung pada kemampuannya untuk berbiak, macam tanaman inang, lama tinggal menetap nematode di lingkungan yang mendukung. Nematode endoparasit umumnya mempunyai kemampuan berkembang biak yang lebih besar dari pada ektoparasit. Beberapa nematode hanya mempunyai satu atau dua keturunan dalam setahun, sedang lainnya lebih banyak. Yang terakhir termasuk nematode parasit yang penting pada tanaman tebu yaitu nematode umbi (Meloidogyne spy dan nematode jenis Pratylenchus sp). Populasi nematode biasanya dinyatakan dalam jumlah per satuan volume atau berat contoh tanah dan akar. Misalnya di Jamaica ditemukan nematode Tylenchida sebanyak 3500, nematode Pralylellchus antara 200 - 1000, Helicotylenchlls mencapai 100 per cc. Di Rhodesia populasi trichodorus dan Tylenchorynchus kadang-kadang berkisar antara 200 - 1000 per 100 cc. Helicotylenchus pernah mencapai 1400 per cc, sedangkan meloidogyne dan Rotylenchus berturut-turut dapat mencapai 2600 dan 2400 per cc. Di Queensland, Australia diperoleh 3500 hingga 8700 nematode tiap 500 g atau 700 hingga 1740 per 100 g dari petak tanah yang tidak difumigasi pada suatu percobaan. Dalam hubungannya dengan penurunan hasil, dan pengendalian populasi nematode parasit, yang penting adalah mengetahui batasan populasi tertinggi yang merusak tanaman secara ekonomis merugikan. Pengertian batasan populasi di sini dikaitkan dengan nematode sebagai hama, untuk dapat menentukan tingkat toleransi dari tanaman tebu. Tingkat atau batas toleransi merupakan suatu jumlah atau kepadatan populasi nematode parasit yang bila dilampaui akan mengakibatkan penurunan hasil. Nilai batas toleransi beragam bergantung pada varietas pada tanaman, dan sesuai dengan itu tanaman dinyatakan peka atau tahan. Pengertian mengenai hal ini penting dalam hubungannya dengan pengendalian nematode agar jumlahnya tidak melampaui titik kritikalnya yang menakibatkan penurunan hasil.c. Pengendalian nematode parasit. Kerusakan sistem perakaran akibat serangan nematode terutama dijumpai pada tanah ringan. Metode pengendalian yang terbaik adalah dengan sistem pergiliran tanaman. Hasil-hasil percobaan lapangan pada tanah-tanah ringan (pasiran) di Jawa (Indonesia) yang mengandung banyak nematode parasitnya, dengan menggunakan fumigasi DD dan Nemagon memberikan hasil yang baik. Namun sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan oleh nematode tidak dapat dengan jelas diketahui. Fumigasi pada tanah-tanah ringan tempat percobaan memang dapat menekan populasi nematode, tetapi 4 bulan setelah fumigasi dilakukan tidak ada perbedaan lagi dengan populasi nematode di petak kontrolnya. Pada umumnya populasi nematode di tanah ringan lebih tinggi daripada yang di tanah yang Iebih berat. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.