Loading...

HAMA PENGGEREK BATANG, KUTU DAUN DAN KUMBANG PENGGEREK BIJI PADA JAGUNG SERTA PENGENDALIANNYA

HAMA PENGGEREK BATANG, KUTU DAUN DAN KUMBANG PENGGEREK BIJI  PADA JAGUNG SERTA PENGENDALIANNYA
Jagung memiliki peranan penting dalam industri berbasis agribisnis. Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan ternak dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan.Rendahnya hasil jagung disebabkan oleh banyak faktor diantaranya faktor fisik (iklim, jenis tanah dan lahan) dan faktor biologis (varietas, hama, penyakit dan gulma), serta faktor sosial ekonomi. Dari hasil penelitian. tidak kurang dari 50 spesies serangga telah diketemukan dapat menyerang tanaman jagung di Indonesia. Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang tanaman jagung diantaranya yaitu penggerek batang jagung, kutu daun, maupun kumbang penggerek biji. Berikut ini akan diuraikan 3 jenis hama tersebut dan cara pengendaliannya. Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)Hama penggerek batang jagung merupakan serangga jenis Sesamia inferens W. Serangga ini meletakkan telurnya pada daun. Setelah menetas, larvanya akan memakan batang jagung. Gejala serangan hama ini adalah munculnya lubang pada batang. Bagian tanaman jagung yang diserang oleh ulat sesamia inferens dan pyrasauta nubilasis adalah ruas batang sebelah bawah dan titik tumbuh tunas daun tanaman jagung. Selain itu, penggerek batang juga menyerang rambut dan pucuk tongkol buah. Gejala tanaman menjadi layu. Jika dibiarkan, hama ini bisa menurunkan produksi atau bahkan akan menyebabkan gagal panen. Pencegahan hama penggerek batang dilakukan dengan menanam jagung secara serempak, melakukan rotasi atau pergiliran tanaman, dan memusnahkan tanaman yang terserang. Pengendalian Penggerek Batang antara lain dengan budidaya dilakukan pada waktu yang tepat, Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah, pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman) (dettaselling).Pengendaliannya secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, karbofuran. Caranya dengan dengan menyemprotkan insektisida seperti Dursban, Decis, Matador,atau Curacron dengan dosis sesuai dengan aturan dikemasan. Penanggulangan dengan menggunakan insektisida Azodrin 15 WSC dengan dosis 30 liter dalam 10 liter air. Kutu daun(Rophalosiphum maidis F) Hama ini menyerang dengan cara menghisap cairan makanan yang ada di daun. Tanaman yang terserang hama ini akan kekurangan cairan dan daun berubah menjadi kuning, lalu mengering, dan akhirnya mati. Gejala Serangan: hama tersebut dalam kelompok yang besar mengisap cairan daun dan batang, akibatnya warna dan bentuk daun tidak normal yang pada akhirnya tanaman mongering. Kutu daun ini menghasilkan honeydew yang dikeluarkan melalui sersinya, sehingga membentuk embun jelaga berwarna hitam yang menutupi daun sehingga menghalangi proses fotosintesis. Pengendalian Hayati: A. maidis dan Lysiphlebus mirzai (Famili: Braconidae) diketahui berpotensi sebagai parasitoid hama ini . Coccinella sp. dan Micraspis sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai predator. Kultur Teknis: Pencegahan kutu daun dilakukan dengan merotasi tanaman untuk memutuskan siklus hidupnya.penanaman jagung secara polikultur karena akan meningkatkan predasi dari predator kutu daun dibandingkan dengan penanaman secara monokultur. Pengendalian kimiawi : penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.Kutu daun mudah dikendalikan dengan menggunakan insektisida kontak atau sistemik. Insektisida granular sering dipakai untuk mengendalikan hama ini pada tanaman serealia. Insektisida seperti malathion lebih disenangi karena lebih sedikit pengaruhnya terhadap populasi musuh alami . Selain itu dimethoate dan methyl dimeton juga efektif untuk mengendalikan A. maidis pada jagung. Pengendalian dilakukan dengan mengaplikasikan insektisida seperti Bravo 50 EC,Delta 25 EC,Faster 15 EC,dan Rotraz 200 EC dengan dosis sesuai dengan aturan kemasan Kumbang penggerek biji (Prostephanus truncatus H)Kumbang penggerek biji ini mempunyai warna tubuh coklat. Panjang 2,2 hingga 4,3 mm. Antena memiliki 3 segmen besar di bagian ujung membentuk pentul antena yang jelas dan berwarna kemerahan. Rongga dada yang bungkuk menutupi kepala, bibir depannya memiliki lekukan seperti gigi.Elytra (kulit sayap) sangat kentara dan mengepak dengan jelas di bagian belakang, memberi kesan persegi saat terlihat dari atas.Daur Hidupnya :Betina menyimpan rata-rata 10 telur pada butiran jagung dan larva yang menetas masuk ke dalam butiran tersebut.Larva menjalani hingga 4 tahap perkembangan dan menjadi kepompong di dalam butiran jagung.Lifecycles dapat sangat pendek, di kondisi baik (25 hari pada 34 °C, 75% kelembaban relatif) ada beberapa generasi per tahun.Hama ini menyerang biji mulai dari saat panen sampai masuk kedalam gudang. Biji yang terserang menjadi keropos karena bagian dalamnya habis digerogoti. Kerugian akibat hama ini sangat besar,bisa mencapai 70%.Pencegahan munculnya hama penggerek biji dilakukan dengan melakukan fumigasi. Pengendaliannya dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Permethrin 2,5 PPM (part per million) dengan dosis sesuai dengan aturan kemasan.Demikian, semoga dapat membantu dalam pengendalian Hama Penggerek Batang, Kutu Daun dan Kumbang Penggerek Biji pada Jagung.Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber:1. Petunjuk Peningkatan Produktivitas Pengembangan Jagung , Direktorat Budidaya Serealian, Ditjentan 20062. http://bbppbinuang.info/news56-hama-dan-penyakit-pada-tanaman-jagung-dan-cara-pengendaliannya.html3. http://www.tanijogonegoro.com/2013/03/hama-penyakit-tanaman-jagung.html