1. Thrips ( Thrips parvispinus Karny) Gejala serangan : Hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan permukaan bawah daun (terutama daun muda). Daun yang terserang berubah warna menjadi coklat tembaga, mengeriting atau keriput dan akhirnya mati. Pada serangan berat menyebabkan daun, tunas atau pucuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil bahkan pucuk tanaman menjadi mati. Hama ini merupakan vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting. Pada musim kemarau perkembangan hama ini sangat cepat. Cara Pengendalian : Menggunakan tanaman perangkap seperti kenikir kuning. Menggunakan mulsa perak Sanitasi lingkungan dan pemotongan bagian tanaman yang terserang thrips. Penggunaan perangkap kuning sebanyak 40 buah per ha atau 2 buah per 500 m2, dipasang sejak tanaman berumur 2 minggu. Perangkap dapat dibuat dari potongan bambu yang dipasang plastik map warna kuning. Plastik diolesi dengan lem agar thrips yang tertarik menempel. Apabila plastik penuh thrips maka plastik diganti. Pemanfaatan musuh alami, misalnya predator kumbang Insektisida digunakan apabila populasi hama atau kerusakan tanaman mencapai ambang pengendalian (serangan mencapai 15% per tanaman) atau cara-cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. 2. Lalat Buah (Bactrocera) Gejala serangan : Lalat buah menyebabkan kerusakan pada buah cabai muda maupun buah matang. Buah yang terserang membusuk, kemudian jatuh. Gejala awal terlihat adanya titik hitam pada bagian pangkal buah, karena aktifitas lalat buah dewasa yang memasukkan telurnya pada buah cabai. Telur menetas dan berkembang di dalam buah cabai dan larva menimbulkan kerusakan dari dalam, buah menjadi berwarna kuning pucat dan layu. Serangan berat terjadi pada musim hujan disebabkan oleh bekas tusukan ovipositor serangga betina terkontaminasi oleh cendawan sehingga buah yang terserang menjadi busuk. Pengendalian: Pemusnahan buah terserang Pengggunaan perangkap atraktan metil eugenol atau petrogenol sebanyak 1 ml/perangkap. Jumlah perangkap yang dibutuhkan 40 buah/Ha. Perangkap dipasang saat tanaman berumur 2 minggu sampai akhir panen dan atraktan diganti setiap 2 minggu sekali. Rotasi tanaman Pemanfaatan musuh alami seperti predator semut, Arachnidae (laba – laba), dan Staphylinidae (kumbang) Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan populasi hama. 3. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Gejala serangan : Gejala serangan pada daun berupa bercak nekrotik, disebabkan rusaknya sel-sel dan jaringan daun akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Embun muda yang dikeluarkan kutu kebul dapat menimbulkan serangan jamur jelaga yang berwarna hitam, menyerang berbagai stadia tanaman. Keberadaan embun jelaga menyebabkan terganggunya proses fotosintesis pada daun. Selain kerusakan langsung, kutu kebul merupakan vektor virus. Pengendalian : Pemanfaatan musuh alami, seperti predator, parasitoid dan patogen serangga. Predator efektif terhadap kutu kebul, misalnya Menochilus sexmaculatus mampu memangsa larva Bemisia tabaci sebanyak 200 – 400 larva/hari. Penggunaan perangkap kuning Sanitasi lingkungan. Penanaman tanaman perangkap. Sistem pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman bukan inang. Penggunaan pestisida selektif sebagai alternative terakhir, misalnya Permethrin, Amitraz, Imidacloprid, Bifenthrin, Deltamethrin Endosulphan dan asefat. 4. Kutu Daun (Aphididae) Gejala Serangan : Serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian tanaman yang diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun muda. Daun yang diserang akan mengkerut, mengeriting dan melingkar, menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Hama ini juga mengeluarkan cairan manis seperti madu, yang biasanya disebut dengan embun madu. Embun madu menarik datangnya semut dan cendawan jelaga. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan kualitas buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus. Pengendalian : Dilakukan dengan menginfestasikan musuh alami seperti, parasitoid Aphelinus gossypi), predator Coccinella transversalis atau cendawan entomopatogen. 5. Tungau (Polyphagotarsonemus latus dan Tetranychus) Gejala Serangan: Tungau menyerang daun-daun muda dengan cara menghisap cairan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal, daun menebal dan perubahan warna daun menjadi tembaga atau kecokelatan. Daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah, menyusut dan keriting. Tunas dan bunga gugur. Serangan berat terjadi pada musim kemarau. Pengendalian : Sanitasi dengan mengeradikasi bagian tanaman yang terserang kemudian dimusnahkan Pemanfaatan musuh alami yaitu predator Ambhyseins cucumeris Pengendalian dengan akarisida yang efektif dilakukan apabila ditemukan gejala kerusakan daun dan populasi tungau. Penulis : Iput Kurniawan, SST (Penyuluh Pertanian BPP Pamenang Barat) Sumber : Balai Pengkajian Teknologi Perrtanian (BPTP) Jambi