Jangkrik.Salah satu perusak akar pada tanaman jagung adalah jangkrik yang terdiri dari jenis jangkrik hitam dan jangkrik cokelat. Jangkrik hitam mempunyai nama lain Grylus Bimaculatus De Geer (Sinonim : Acheta bimaculata (De Geer); suku (family) Gryllidae; bangsa (ordo) Orthoptera). Sedangkan jangkrik cokelat dengan nama Teleogryllus Testaceus (Walker) (Sinonim : Gryllus testaceus Walker; suku Gryllidae, bangsa Orthoptera). Penyerangnnya, pada jangkrik yang muda maupun yang dewasa biasanya akan memakan akar atau bagian basal (pangkal) batang tanaman jagung yang masih muda. Serangan juga bisa masuk pada lahan bukaan baru dan juga dapat dijumpai pada sampah tanaman. Daur hidup jangkrik hitam, untuk telurnya memanjang berukuran 3 mm x 1 mm, berwarna putih dan diletakka di tanah. Lama penetasan telur kira-kira 14 hari. Pada masa nimfa, akan mengalami lima kali ganti kulit, perkembangan nimfa kira-kira 24 – 50 hari. Saat dewasa panjangnya dapat mencapai 30 mm, warna hitam kecoklatan, dengan dua bintik oranye pada bagian toraks belakang. Untuk jangkring cokelat pada masa dewasa ukurannya sama dengan jangkrik hitam, namun warnanya cokelat cerah. Tidak hanya tanaman jagung, tetapi tanaman lain juga dapat ikut terserang seperti pada tanaman kapas, tebu, padi, bayam, ketela rambat, kobis, lombok, kacang tanah, rerumputan serta tanaman lain. Untuk pengendaliannya dapat dilakukan dengan pembersihan sebelum tanam. Dapat juga dengan perangkap cahaya, karena yang dewasa tertarik oleh cahaya. Selanjutnya pengairan lahan juga dapat dilakukan karena jangkrik dewasa tidak dapat hidup pada lahan yang berair. Uret Akar. Uret akar dengan nama lain Leucopholis Irrorata (Chevrolat) (suku Melolonthidae, bangsa Coleoptera). Biasa juga disebut kumbang mainan karena sering digunakan untuk mainan anak-anak. Pada stadia muda atau stadia uret, beberapa jenis kumbang dari suku Scarabaeid biasanya memakan akar dan menyebabkan tanaman terganggu pertumbuhannya (kerdil). Bercak-bercak kuning pada tanaman merupakan gejala serangan jenis hama ini. Apabila bila tidak diatasi seawal mungkin, hama ini dapat mneyebabkan kerusakan yang serius. Telur kumbang ini berwarna putih , memanjang 2,5 mm. Diletakkan tunggal tertutup bersama tanah, pada kedalaman sekitar 10 cm. Apabila akan menetas, telur akan membengkak. Lama penetasan telur sekita 16 hari. Setelah menetas berbentuk uret yang berwana putih, kemudian berubah menjadi cokelat cerah. Uret yang tumbuh sempurna berwarna kuning pucat, bagian abdomen kelihatan kehitaman dan bagian usus tampak bening. Uret mengalami 3 kali pengelupasan kulit. Uret yang baru menetas biasanya memakan bahan-bahan organik yang ada dalam tanah. Kemudian memakan akar tanaman sampai menjadi uret stadia tua. Sedangkan bentuk dewasa berwarna kelabu kehitaman mengkilap dengan warna kemerah-merahan. Kumbang jantan biasanya lebih kecil dibanding kumbang betina. Yang dewasa memakan dedaunan dari pohon maupun sayuran. Daur hidup lengkap sekitar satu tahun. Musuh alami dari kumbang ini terdiri dari parasit Hymenoptera, Diptera dan fungi. Selain tanaman jagung, hama ini juga menyerang tanaman padi, tebu, kacang tanah, buncis, rerumpumputan dan berbagai jenis tanaman lain. Khusus stadia dewasa atau kumbang biasanya hidup pada daun mangga. Pengendalian hama ini dengan cara rotasi tanaman dan penggalian uret di tempat tertentu. Dapat juga dengan pengairan lahan atau dimusnahkan secara langsung. Kutu Akar. Kutu akar juga dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil. Baik nimfa maupun dewasa menghisap cairan tanaman. Biasanya kutu ini dalam populasi yang rendah tidak begitu penting. Jenis pertaman yaitu Geoica Lucifuga (Zehntner) (suku Aphididae, bangsa Homoptera). Pada masa dewasa yang bersayap, kepala dan toraks berwarna gelap. Antena enam segmen dengan flagellum kira-kira 1/5 sampai ¼ sepanjang badannya. Dilengkapi pigmen pada bagian belakangnya. Pada dewasa yang tak bersayap, panjangnya 2 – 3 mm, berwarna kurng pucat, globular dan tertutup oleh lilin. Antena biasanya lima segmen, dimana segmen ke 3 dan ke 5 bersatu, kira-kira ¼ sampai 1/8 panjang tubuhnya. Jenis yang kedua adalah Tetraneura Nigriabdominalis (Sasaki) (suku Aphididae, bangsa Homoptera). Pada dewasa bersayap, panjangnya 1,7 mm, berwarna hitam. Antena eenam segmen dan flagellum kira-kira ¼ sepanjnag tubuhnya. Pada dewasa tak bersayap, bentuk globular berwarna putih kotor sampai kuning pucat. Antenanya sepanjang badannya. Berukuran panjang kira-kira 2 mm dan berdiameter 1,5 mm. Ditandai dengan rambut pada bagian lateral abdominal yang panjangnya sekitar 160 – 210 mm. Antena biasanya 5 segmen, tetapi segmen ke 3 dan ke 5 sering lebih atau kurang berfungsi. Serangga ini mengalami 4 kali ganti kulit, sampai stadia dewasa membutuhkan waktu 12 – 18 hari. Perkembangbiakkan terjadi secara parthenogenesis pada umur kira-kira 13 – 18 hari. Seekor betina dapat aktif berproduksi dari 23 – 29 hari sepanjang hidupnya. Serangga ini juga menyerang tanaman padi, tebu, sorgum dan rerumputan seperti Panicum colonum,Panicum reptans dan lain-lain. Pengendaliannya dengan penanaman varietas yang resisiten, pembersihan gulma, membiarkan semut-semut yang ada karena semut sebagai predator. Kutu Tepung. Kutu tepung menghisap cairan tanaman atau memasukkan substansi cairan racun kedalam tanaman. Oleh karenya menyebabkan tanaman terganggu pertumbuhannya. Serangannya terjadi pada saat musim kering. Serangga dewasa betina panjangnya kira-kira 3 mm, badang tertutup oleh lilin yang berwarna, filamen-filamen terdapat disisi badannya. Warna kuning kelabu. Betina meletakkan sejumlah telur secara berkelomopok. Lama penetasan telur sekitar 1 minggu. Mengalami 4 – 5 kali ganti kulit dalam 4 minggu. Beberapa generasi terjadi secara tahunan. Tanaman lain yang diserang adalah tanaman nanas, jambu biji, pisang, ketela rambat. Pengendalian melalui rotasi tanaman, mengendalikan semut-semut karena dapat membantu penyebaran hama kutu tepung. Semut. Semut dapat merusak biji sehingga dapat mengurangi daya tumbuh biji. Luka pada biji dapat mneyebabkan mudahnya mikrooganisme merusak biji lebih lebih pada msim hujan. Pengendalian dengan insektisida pada benih dan pada tanah. Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : Sudarmao, Subiyakto. 1989. Pengendalian Serangan Hama Jagung). Yogyakarta : Kanisius