Hama merupakan serangga penyerang organ-organ tanaman yang dapat menghambat pertumbuhan dan mengakibatkan jumlah serta kualitas produksi rendah, akhirnya menurunkan pendapatan bagi petani. Hama tanaman pepaya merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan budidaya pepaya. Bagi petani pepaya harus waspada terhadap serangan hama terutama pada musim kemarau. Tanaman pepaya yang mengalami gejala serangan hama sebaiknya segera di atasi dan jangan menunggu sampai serangan berat. Berikut beberapa hama tanaman yang menyerang tanaman pepaya dewasa. Tungau Merah (Tetranychud Bimaculatus Harv)Hama ini menyerang tanaman pepaya dengan cara menghisap cairan sel dalam jaringan daun, batang dan buah dengan menggunakan mulutnya yang berbentuk jarum. Tungau ini biasanya menyerang daun bagian bawah pada waktu musim kemarau. Gejala dengan timbulnya benang-benang halus diantara urat-urat daun sepanjang urat daun. Lalu daun menjadi berwarna hijau ke kuning-kuningan dan pada permukaan atas daun terdapat bintik-bintik yang berwarna kulit sawo manila. Pada musim penghujan serangan akan berkurang atau hilang dengan sendirinya. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara menghembus permukaan daun pep aya yang terserang dengan menggunakan tepung belerang, menyemprotan akarisida (misalnya: Kelthane 200 EC atau Morestan dengan dosis 0,2%-0,2%), atau menggunakan Natural BVR atau PESTONA secara bergantian. Kutu Putih (Paracoccus Marginatus)Hama ini berbentuk kupu dan kutu putih yang biasanya menempel pada daun atau batang pepaya. Kutu ini cepat sekali berkembang biak, maka harus dikendalikan sedini mungkin. Gejala serangan meliputi: a) daun akan kerdil sehingga menghambat proses assimilasi lalu berpengaruh terhadap proses pertumbuhan tanaman itu sendiri; b) batang kehitam-hitaman pada bagian terserang; c) serangan berat mengakibatkan buah gugur dan batang membusuk serta dalam waktu tidak begitu lama batang akan mati; dan d) buah membusuk dan berwarna hitam. Pengendalian hama kutu putih ini harus dilakukan sejak awal, yakni ketika kutu putih baru nampak satu atau dua ekor saja. Hal ini karena dalam satu minggu, satu ekor kutu putih bisa berkembang biak hingga menutupi seluruh permukaan daun. Kalau kutu putih sudah terlanjur banyak di buah dan daun pepaya akan sulit dilakukan pengendaliannya. Namun serangan ringan proses penyembuhan agak cepat apabila diberi pemupukkan secara berimbang. Cara pengendalian hama kutu putih antara lain: a) menyemprot buah dan daun pepaya dengan air deterjen, karena pada tubuh kutu putih mengandung lapisan lilin yang akan hilang setelah kena sabun, baru digunakan aplikasi insektisida; b) menggunakan insektisida kontak, seperti Cruracon, Bestox, Akothion, Imidor, Abuki, Marshal 200 EC, Natucide 100 EC dan lain-lain; dan c) menggunakan insektisida berbahan aktif kelompok senyawa Oranofospat seperti Malathion, untuk hasil efektif Malathion dapat dikombinasikan dengan penggunaan detergen, caranya semprotkan deterjen sebelum disemprot dengan insektisida. Tungau (Tetranychus spp) Tungau ini menyerang daun dan akan menjadi hebat pada musim kemarau, apalagi kalau terjadi kemarau panjang. Kerusakan terlihat pada daun antara jari-jari daun yang mengering. Cara pengendaliannya: a) tepung belerang ditaburkan di bawah telapak daun pepaya pada pagi hari setelah ada embun; dan 2) memakai obat-obatan (insektisida) dapat diberi¬kan demicron, lindani', orthane atau (bisa dibeli di toko-toko obat-obatan untuk pertanian). Bercak BuahHama ini, yang dewasa berwarna kuning, hijau, cokelat dan berukuran sekitar 15 mm. Hama ini menyerang batang bagian bawah, bagian bawah daun, dan bagian tanaman dibawah buah. Telurnya berukuran 1,7 mm dan umumnya diletakkan di daun, buah atau bunga. Gejala serangan terlihat tanaman menjadi kerdil dan mengalami perubahan bentuk (malaformasi), tulang daun menjadi lebih pendek dengan bercak cekung panjang, bagian buah yang terserang menjadi kehitaman dengan luka cekung, dan jika menyerang bibit menyebabkan kematian. Cara pengendaliannya antara lain dengan: a) penyemprotan insektisida langsung di titik tempat hama berada; b) menggunakan serangga parasit seperti Gryon Meridionis, Anastatus spp dan Ooencyrtus sp; c) menggunakan serangga predator seperti Pristhesancus Plagipennis; dan d) menjaga kebersihan kebun dari gulma, karena gulma merupakan inang utama serangga ini. Aphis GossypiiHama ini berwarna hitam atau kuning kecoklatan. Gejala serangan terlihat daun mengerut kearah dalam dan pertumbuhan tanaman akan terhambat. Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Diazinon (Basudin 60 EC dosis 0,2%), Dimethoat, Alfametrin, Abamektin, Sipermetrin, Asefat (Orthene 75 SP dosis 0,5 – 0,8 g/l), dan Dimethoat (Roxion dosisi 2 cc/liter). Selain itu dapat juga menggunakan musuh alami seperti serangga dari family Syrpidate, Coccinellidae dan Chrysopedae. Kemudian menggunakan mulsa jerami di bedengan juga dapat menghambat perkembangan populasi aphis. Kepik (Nezara Viridula)Hama ini mempunyai tubuh berwarna hijau dengan panjang sekitar 16 mm. Ditemukan di daerah beriklim tropis, tanaman yang menjadi inang kepik diantaranya pepaya, jagung, kentang, padi, tembakau, cabai, kapas dan kacang-kacangan. Gejala terlihat bintik-bintik pada daun pepaya karena cairan bagian tersebut dihisap dan kepik ini memakan berbagai organ tanaman. Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Klorpiripos (Dursban 20 EC dosisi 0,2 – 0,3 %), MIPC 51,3% (Mikarb 50 WP dosis 0,2 – 0,4 %) atau Fenpropatrin (Meothrin 50 EC dosisi 0,1 – 0,2%. Kutu Daun (Myzuz Persicae)Kutu ini mempunyai antena dan berkaki panjang serta bertubuh lunak, berwarna kehijauan atau kemerahan, panjang antara 2 – 3 mm. Hidupnya berkelompok di bagian sisi bawah daun dan bersifat polifag (nafsu makan berlebihan). Kutu dewasa bersayap sehingga ada kemungkinan akan meninggalkan kelompoknya untuk mencari inang baru. Gejala terlihat daun mengerut dan keriting karena kutu ini menghisap cairan sel daun. Jika serangan hebat tangkai daun akan layu dan patah. Selain itu kutu akan mengeluarkan cairan sekresi yang rasanya manis, sehingga akan tumbuh jelaga dan mendatangkan semut hitam. Kutu Daun Myzus juga dikenal sebagai pembawa penyakit virus mozaik dan ringspot. Pengendalinya dengan insektisida Hosthathion 40 EC dosis 0,10 – 0,15%, Tamaron 200 LC dosis 0,10 – 0,20 %, atau Orthene 75 SP dosis 0,05 – 0,10 %. Kutu Tempurung Hijau (Coccus Viridis)Hama ini menyerang tanaman pepaya yang kurang terpelihara, dengan gejala pada permukaan daun dan batang ditutupi hama kutu tempurung hijau, sehingga dapat menghambat proses fotosintesis. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif Monokotofos seperti Azodrin 15 WSC. Thrips (Thrips Tabaci)Hama ini berukuran 1 mm dan banyak ditemukan menyerang tanaman pepaya, kentang, cabai, tomat, labu, bayam dan bawang bombay. Gejala pada daun timbul bintik-bintik halus keperakan. Serangan yang hebat menyebabkan bintik-bintik tersebut berubah menjadi bercak kering dan akhirnya daun mati. Pengendalian dapat menggunakan insektisida berbahan aktif Kuinalfos seperti Bayrusil 250 EC dosis 0,2%. Semoga bermanfaat bagi penyuluh, petani pepaya, dan siapapun yang berminat untuk menjalankan agribisnis pepaya. (Penulis: Susilo Astuti H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber Informasi:1. Moehd. Baga Kalie. 2010. Bertanam Pepaya. Bogor: Penebar Swadaya, Cetakan XXIV. 2. Semangun H. 2000. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.