Loading...

HAMA TIKUS PADA TANAMAN TEBU

HAMA TIKUS PADA TANAMAN TEBU
Tikus merupakan binatang kosmopolitan dan menjadi kelompok yang terbesar binatang menyusui (mamalis) serta paling beragam. Seluruhnya terdiri dari 35 famili dan 352 marga yang masih hidup. Tikus mudah beradaptasi dalam segala lingkungan, cepat mencapai kematangan seksual, dan laju kelahiran tinggi. Di samping tikus mempunyai kemampuan mempertahankan populasi dengan cukup mantap dalam berbagai keadaan, meskipun dikendalikan manusia. Tikus termasuk sebagai binatang pengerat dengan ciri pengenal mempunyai gigi seri seperti pahat pada kedua rahang atas dan bawah, yang tumbuh terus-menerus untuk mengimbangi bagian ujung yang aus sewaktu mengerat makanannya. Sering dijumpai yang berkantong pipi, dan makanan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan. Walaupun ada sejumlah famili yang makan segala macam makanan (omnivora). Tikus-tikus biasanya merupakan pemanjat pohon, kaki belakang berjari 3 hingga 5, sedangkan kaki muka (tangan) biasanya berjari 5. Pada kebanyakan famili ekornya "dapat" digunakan untuk memegang (semi-prehensile), namun beberapa ada yang mirip saja atau mengalami modifikasi untuk kehidupan yang semi-akuatik (di air). Tekstur bulu kulitnya beragam mulai dari yang berbulu halus seperti beledu (Cricetidae ) hingga yang kasar (Thryonomidae) atau "kaku" (Hystricidae). Kesibukan khas pada kebanyakan tikus adalah seringnya mcmbersihkan bulu badan dan kumisnya yang merupakan bulu indera. Tikus hama tebu yang terpenting merupakan famili Cricetidae (Tikus Dunia Baru) dan Muridae (Tikus Dunia Lama). Marga (genus) Rattus mempunyai hampir 750 bentuk nama di dalam submarga, yang sangat beragam sekali bentuknya, ukurannya, bulu kulit maupun wamanya.a. Biologi dan ekologi tikus di pertanaman tebu; Populasi beberapa species tikus ada yang makanan pokoknya tebu, misal R. exulan, Holochilus brasiliensis, dan Thryonomys swinderianus. Namun demikian, masih diragukan jika tikus-tikus hanya bergantung pada tebu untuk kehidupannya. Misalnya R. norvegicus tidak dapat hidup normal (sehat dan dapat berbiak) hanya makan tebu, tetapi masih memerlukan makanan bahan yang berprotein seperti biji-bijian, serangga, siput (mollusca) dan lain sebagainya. Di dalam liang rumahnya sering terjadi peristiwa kanibalisme meski terdapat persediaan makanan dari tumbuhan yang Cukup. Tanaman tebu mendapat serangan hama tikus yang telah hidup menyesuaikan diri di atas permukaan tanah, di bawah tanah (liang atau lobang), dan di anjang-anjang. Bentuk-bentuk yang di permukaan tanah misalnya Rattus sp, menggunakan tumbuh-tumbuhan, batu-batu dan retakan-retakan tanah untuk perlindungan. Sedang yang di bawah tanah, membuat liang dan terowongan atau serambi yang panjangnya sampai beberapa meter. Melomys sp hidup setengah anjang-anjang, namun species yang hidup di permukaan tanah akan menjadi hidup di 11 anjang-anjang bila terusik oleh banjir atau pengganggu lain misalnya oleh predator. Kebanyakan tikus dapat berenang dalam keadaan terpaksa, namun dalam keadaan normal tidak akan berbuat demikian. Lacak tikus di dalam kebun tebu tidak begitu tampak, dan biasanya terhapus oleh pengelolaan tanah. Namun demikian lacak dapat dengan mudah dijumpai di daerah perbatasan kebun yang tertutup semak atau rerumputan. Populasi tikus di pertanaman tebu beragam tergantung pada musim dan tingkat perkembangan tanaman. Pada masa tebang terjadi fluktuasi yang mencolok, dan perpindahan dari lahan yang langka makanan dan persaingan yang tinggi dapat terjadi. Dalam keadaan tidak ada "gangguan" di pertanaman tebu, populasi species penyerang tanaman tebu, seperti Sigmodon, Holochilus dan Rattus exulan berkisarantara 60 - 75 ekor/ha . Jumlah tersebut sesuai dengan lapangan aktivitas tempat tinggal bagi individu dalam komunitas mamalia kecil Kerusakan dan kerugian : Tikus menyerang tanaman tebu kebanyakan pada waktu malam hari, meskipun tidak ada gangguan hanya sedikit tikus yang menyerang tanaman tebu pada siang hari. Tikus merusak tanaman dengan cara memakan, menggerogoti atau mengerat dengan menggunakan gigi serta Gigi serinya sangat tajam dan selalu tumbuh, selama masa hidupnya pertumbuhan gigi seri tersebut dapat mencapai panjang 15 - 25 cm. Sedangkan yang benar-benar dimakan kira-kira hanya seperlima dari yang rusak. Kerusakan tanaman tebu akibat serangan tikus dapat musiman atau sepanjang tahun,dan dapat terjadi pada tanaman tebu muda dan tebu masak.Cara pengendalian : Ada berbagai cara pengendalian tikus, antara lain adalah (I) secara biologis, (2) sanitasi kebun, (3) mekanik, (4) budidaya, dan (5) kimiawi. Cara-cara tersebut dapat dilaksanakan sendiri sendiri atau merupakan gabungan dua atau lebih, cara pengendalian tergantung pada keadaan. Pengendalian secara biologis saat ini belum lazim dilakukan, namun telaahan mengenai hal tersebut juga diperlukan. Tikus dapat menjadi sasaran serangan penyakit, parasit dan predator. Di antara sekian banyak organisme penyakit yang dapat menyerang tikus adalah bakteri Salmonella, yang secara komersial telah dikembangkan untuk mengendalikan Rattus sp. Namun pemakaiannya dikhawatirkan menjadi penyebab tirnbulnya penyakit tipus pada manusia. Tidak berapa lama kemudian telah dilaporkan adanya strain Salmonella enteridilas yang lebih khusus untuk tikus, dan ini merupakan bahan yang baik untuk diteliti dan dicobapenggunaannya terhadap tikus di kebun tebu.Serangga ektoparasit dan tungau atau kutu agaknya berpotensi kecil untuk digunkan dalam pengendalian secara biologis terhadap tikus. Pada kebanyakan area perkebunan tebu, mamalia, burung dan reptil seringkali memangsa tikus. Namun aktivitas perburuan oleh manusia akhirnya pemangsa tersebut punah. Akhir-akhir ini telah dicoba dikembangkan sejenis burung hantu untuk mengendalikan tikus di lapangan atau kebun tebu. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.