Masyarakat Kabupaten Nagan Raya memiliki dua kegiatan utama dalam usaha Budidaya Pertanian yaitu Budidaya tanaman Pangan dan Budidaya Tanaman Perkebunan. Budidaya tanaman Perkebunan yang menjadi primadona adalah Tanaman Kelapa Sawit. Tanaman Perkebunan seperti Karet, Pala, Cacao, Cengkeh, Kemiri, Pinang, Nilam, Serei dan Tebu juga masih di budidayakan olkeh masyarakata Nagan Raya akan tetapi tidak lagi menjadi pendapatan utama. Apa lagi hampir sewindu terakhir seperti budidaya Cacao terserang hama dan penyakit busuk putik yang sulit dikendalikan oleh masyarakat pedesaan. Budidaya Karet juga telah mengalami pasang surut, terakhir ini harga Karet mengalami fluktuasi yang parah. Sekitar enam tahun terakhir harga Karet rakyat dibawah Rp. 8.000.- (Delapan Ribu rupiah) Perkilo Gram. Budidaya tanaman kelapa sawit berbeda dengan tanaman perkebunan lainnya hal ini disebabkan oleh adan perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Perkebunan swasta tentunya memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan perkebunan rakyat, antara lain memiliki lahan yang luas, manajemen yang baik dan adanya Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS). Perkebunan swasta yang terdapat di Nagan Raya pun termasuk Perusahaan perkebunan yang bonafit diataranya PT. Perkebunan Nusantara I (PTPNI), PT. Socfin Indonesia (Socfindo), PT. Surya Panen Subur (SPS) yang merupakan anak perusahaan Astra Group, PT. Fajar Baizury & Brothers, PT. Kalista Alam, PT. Putri Hijau, PT. Barata Subur Persada (BSP), PT. Neubok Dalam dan PT. Amara. Selain mengelola Budidaya tanaman perkebunan kelapa sawit (On Farm) sebagian besar perusahaan perkebunan tarsebut tentunya memiliki Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) sebagai (Off Farm). Artinya bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah memiliki Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) memiliki keuntungan ganda dari hasil selain hasil Tandan Buah Segar (TBS) juga hasil olahan berupa Crude Palm Oil (CPO). Apakah itu sudah cukup tentu tidak, akan tetapi sampai tahun ini belum ada satu perusahan pun di Nagan Raya yang berminat membuat industry hilir untuk mengolah minyak kasar Crude Palm Oil (CPO) menjadi bahan konsumsi, seperti minyak untuk konsumsi dan bahan lain sebagai turunannya. Bagaimana dengan harga hasil produksi tanaman Perkebunan yang menjadi tanaman Primadona Kabupaten Nagan Raya saat ini? Pada awal tahun 2018 harga Tandan Buah Segar (TBS) hasil panen tanaman kelapa sawit sangat menjanjikan yaitu sekitar RP. 1.700.- perkilo gram. Menjelang pertengahan tahun harga Tandan Buah Segar (TBS) turun 60%, suatu hal yang sangat fantastis. Harga Tandan Buah Segar (TBS) sangat merosot ini, yang lebih celaka penampung pun terbatas, banyak hasil panen para petani yang tidak dapat ditimbang pada hari mereka panen karena tidak cukup alat trasportasi untuk mengangkut ke PMKS di PMKS truk antri untuk untuk menimbang TBS yang mereka bawa. Antrian ini ada yang sampai tiga hari tiga malam. Hal ini persis seperti pepatah lama udah jatuh tertimpa tangga. Kondisi saat ini hasil produksi tanaman kelapa sawit sama sekali tidak mengembirakan. Harga Ketika kondisi ini terjadi tentu banyak hal ikut terjadi, sebagian petani yang membudidayakan tanaman kelapa sawit mengambil dana dari bank. Dana tersebut dicicil pembayarannya setiap bulan dan tidak boleh ditunda, karena system bank adalah bunga berbunga.secara otomatis ada sisi lain yang harus dikorbankan. Selanjutnya seperti kita ketahui bahwa tahun ajaran baru di Indonesia dilakukan setiap pertengahan tahun, kebutuhan para petani pekebun menjadi tambah bertumpuk. Pemerintah seharusnya dapat mempertahankan harga komoditas hasil perkebunan rakyat untuk menjamin kesejahtraan petani pekebun dapat di pertahankan. Penulis: Tarmizi, SP. Penyuluh Pertanian Madya, KJF Kabupaten Nagan Raya