Pengembangan usaha pertanian budidaya kakao dilakukan melalui peningkatan kapasitas petani dalam penerapan cara berkebun kakao yang baik (Good Agriculture Practice) untuk meningkatkan produktifitas lahan kakao dan mewujudkan usaha tani kakao lestari (sustainable cocoa) yang diharapkan dapat berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani kakao secara berkesinambungan.Tingkat adopsi petani kakao terhadap teknologi baru masih terbatas pada penggunaan bibit unggul. Hal ini disebabkan rendahnya kepercayaan petani terhadap teknologi yang disampaikan. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai pendekatan penyuluhan melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL), demonstrasi plot ataupun kegiatan lainnya. Umumnya setelah dilaksanakan SL dan atau demontrasi plot maka perlu dilkukan hari temu petani. Hari Temu Petani adalah kegiatan pertemuan antara petani dengan petugas Peneliti, Penyuluh Pertanian, Petugas Perbenihan maupun petugas yang terkait untuk saling tukar menukar teknologi/informasi sehingga didapatkan teknologi yang dapat dikembangkan sesuai potensi wilayah. Hari temu petani yang disebut juga Temu Lapang dapat pula menjadi ajang bagi petugas untuk memperoleh umpan balik dari petani. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kepercayaan petani akan hasil yang diperoleh dari penerapan teknologi produksi dan penggunaan sarana produksi termasuk cara memproduksi bibit kakao yang baik. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan hari temu lapang yaitu :1. Membuka kesempatan bagi petani untuk mendapatkan informasi mengenai teknologi hasil penelitian2. Membuka kesempatan bagi para peneliti, penyuluh dan petugas lainnya untuk mendapatkan umpan balik dari hasil – hasil penelitian.3. Menyalurkan teknologi dikalangan petani secara cepat.4. Menjalin hubungan yang akrab antara peneliti, penyuluh dan petani. Temu Lapang dapat dilaksanakan di dalam ruangan atau di lapangan yang khusus dipersiapkan sesuai dengan materi yang akan dibahas. Penyelenggaranya adalah petugas pertanian, para peneliti atau petugas lain bahkan juga kontaktani yang ditunjuk oleh Instansi Pertanian. Peserta temu lapang adalah para petani anggota kelompoktani pelaksana kegiatan SL atau Demplot yang mampu mengemukakan gagasan atau masalah dan mempunyai keahlian sesuai dengan materi yang dibahas, dan petugas peneliti, penyuluh dan petugas terkait lainnya yang menguasai dan bertanggung jawab dalam materi yang akan dibahas. Dalam pelaksanaan temu lapang, diperlukan pimpinan, pemandu atau moderator, pembicara, narasumber dan penulis. Moderator sebaiknya ketua kelompoktani atau petani yang ditunjuk oleh peserta, kemudian pembicara ialah penyuluh, peneliti atau petugas terkait yang akan mengemukakan materi bahasan dan narasumber ialah peneliti lain yang mengtahui atau menguasai materi yang akan dibahas sedangkan penulis adalah salah seorang peserta atau penyelenggara. Hari temu lapang kakao adalah temu lapang yang dilakukan setelah dilaksanakan kegiatan Sekolah Lapang (SL), demonstrasi plot ataupun kegiatan penyuluhan lainnya yang berhubungan dengan budidaya kakao. Contohnya setelah dilakukan kegiatan demplot pembibitan kakao, perlu dilaksanakan Hari Temu Petani agar kegiatan pembibitan yang dilaksanakan oleh kelompoktani dilahan usahanya dapat diketahui hasilnya. Hasil demplot yang diperoleh bisa saja memuaskan namun bisa juga kurang memuaskan. Hal ini akan didiskusikan pada hari temu lapang yang dihadiri oleh petugas Peneliti, Penyuluh Pertanian, dan Petugas terkait lainnya seperti petugas ahli pembibitan dari Dinas Perkebunan atau petugas dari perusahaan swasta yang bergerak dibidang kakao seperti PT Mars, untuk mendapatkan solusi.Pada saat dilaksanakan hari temu lapang, dapat juga dilakukan kegiatan lainnya seperti Gelar Teknologi, pameran, sarasehan, dll. Penulis: Shalimar Andaya Nia Sumber: Petunjuk Pelaksanaan Program READ, Pusat Pelatihan Pertanian, BPPSDMP, 2014